Titik Temu (hujan kala itu)
"Je udah ngerjain tugasnya bu Tantri belum?" "Lupa...." Jeje memasang wajah polosnya. "Masa sih calon istri ku ini lupa?" Agil nyengir kuda tanpa dosa. "Dih..." Jeje bergidik ngeri. "Hehhe namanya juga usaha. Beneran belum ngerjain?" Agil masih berusaha keras untuk mendapatkan jawaban dari Jeje. "Lupa tadi dipinjem sama siapa, coba cari sendiri dibangku belakang..." "Ok makasih say..." "Stoppp !" Jeje menutup telinganya rapat-rapat. Agil tersenyum sambil memberikan love-love di udara membuat Jeje seketika menjadi mual. Dia termasuk cewek yang risih ketika dideketin cowok secara terang-terangan. Sayangnya Agil tak paham itu, bagi Jeje, Agil hanyalah teman- yang cukup alay. Jeje kembali duduk dibangkunya, angin menampar pipinya lembut, ia melihat ke arah jendela. Awan yang tadinya berwarna biru laut itu lama-lama berubah menjadi abu-abu, daun-daun mulai berguguran, sedetik kemudian rintik hu...