Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Titik Temu (hujan kala itu)

"Je udah ngerjain tugasnya bu Tantri belum?" "Lupa...." Jeje memasang wajah polosnya. "Masa sih calon istri ku ini lupa?" Agil nyengir kuda tanpa dosa. "Dih..." Jeje bergidik ngeri. "Hehhe namanya juga usaha. Beneran belum ngerjain?" Agil masih berusaha keras untuk mendapatkan jawaban dari Jeje. "Lupa tadi dipinjem sama siapa, coba cari sendiri dibangku belakang..." "Ok makasih say..." "Stoppp !" Jeje menutup telinganya rapat-rapat. Agil tersenyum sambil memberikan love-love di udara membuat Jeje seketika menjadi mual. Dia termasuk cewek yang risih ketika dideketin cowok secara terang-terangan. Sayangnya Agil tak paham itu, bagi Jeje, Agil hanyalah teman- yang cukup alay. Jeje kembali duduk dibangkunya, angin menampar pipinya lembut, ia melihat ke arah jendela. Awan yang tadinya berwarna biru laut itu lama-lama berubah menjadi abu-abu, daun-daun mulai berguguran, sedetik kemudian rintik hu...

Titik Temu (masa lalu)

Musim penghujan adalah musim yang sangat baik untuk mengulang kenangan bagi Jelita- Jeje. Rintik hujan yang jatuh, suaranya yang memenuhi setiap sudut ruang, juga genangan disepanjang jalan adalah perpaduan yang pas baginya untuk kembali pada sebuah masa. Masa yang biasa ia sebut dengan masa lalu. Jeje kembali membuka buku kecil berwarna biru bergambar awan. Ia mulai membaca dari lembar pertama. Dear diary... Hari ini aku sekolah, tapi seragamku ganti. Sekarang udah gak putih biru lagi melainkan putih abu-abu. Tapi sial! Hari ini aku kesiangan, jadi berangkatnya gak bareng sama si Mita. Angkotnya lama banget sumpah! Elahhh pada dimana sih abangnya. Nyebelin kali !!! Tapi tunggu, siapa tuh ? Senyumnya beuhhh manis kali....alamakkkk si abang seragamnya sama kaya punya ku. -Jelita Anggira- Ingatannya kembali pada saat dimana untuk pertama kalinya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, seolah jantungnya ingin lepas. Hanya karna sebuah senyuman. Dari seseorang yang berseragam ...

Titik Temu

Prolog Jeje tak pernah percaya adanya cinta, baginya cinta adalah semu. Sebab cinta tak bisa digenggam, tak bisa dilihat hanya bisa dirasa. Cinta itu bukan putih atau hitam melainkan abu-abu. Dulu Jeje percaya bahwa ia merasakan sebuah cinta saat masih berseragam abu-abu tapi saat seseorang dari masa lalunya berkata bahwa "Dalam cinta bukan hanya iya atau tidak, melaikan juga bahasa lain yang berarti penolakan" Saat itu ia merasa bahwa cintanya keliru. Tapi saat Jeje duduk dibangku perkuliahan semua berubah, cinta baginya nyata, tak lagi abu-abu. Setelah seseorang yang tengah duduk di depannya marah padahal baru saja lelaki berkumis tipis itu mengatakan perasaannya. Seseorang yang mengubah sudut pandangnya akan cinta. Lalu apakah kali ini Jeje benar dalam mengartikan sebuah rasa yang biasa orang-orang sebut cinta ? Mari kita simak dalam setiap lembarnya....