Titik Temu (masa lalu)
Musim penghujan adalah musim yang sangat baik untuk mengulang kenangan bagi Jelita- Jeje.
Rintik hujan yang jatuh, suaranya yang memenuhi setiap sudut ruang, juga genangan disepanjang jalan adalah perpaduan yang pas baginya untuk kembali pada sebuah masa. Masa yang biasa ia sebut dengan masa lalu.
Jeje kembali membuka buku kecil berwarna biru bergambar awan. Ia mulai membaca dari lembar pertama.
Dear diary...
Hari ini aku sekolah, tapi seragamku ganti. Sekarang udah gak putih biru lagi melainkan putih abu-abu. Tapi sial! Hari ini aku kesiangan, jadi berangkatnya gak bareng sama si Mita. Angkotnya lama banget sumpah! Elahhh pada dimana sih abangnya. Nyebelin kali !!! Tapi tunggu, siapa tuh ? Senyumnya beuhhh manis kali....alamakkkk si abang seragamnya sama kaya punya ku.
-Jelita Anggira-
Ingatannya kembali pada saat dimana untuk pertama kalinya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, seolah jantungnya ingin lepas. Hanya karna sebuah senyuman. Dari seseorang yang berseragam sepertinya. Konyol memang, tapi Jeje senang.
"Ehhh anak mama kenapa nih senyum-senyum sendiri?" Mama berbisik lalu menempati bangku kosong disebelah Jeje.
"Apaan sih mama, dateng-dateng gak jelas gitu..." nadanya terdengar manja sekaligus malu.
"Kamu tuh, senyum-senyum sendiri. Di kampus abis ketemu cogan ya?" Telunjuk jarinya menyentuh pipi Jeje sekali.
"Di kampus Jeje mana ada cogan ma...sekelas aja cuma 3 ekor doang itu jugaaaa..." Jeje menggantungkan kalimatnya.
"Apa ?" Muka mama Jeje berubah menjadi lebih penasaran.
"Udah punya pacar semua hehheheh" sebuah cengiran ia tambahkan.
"Ya elah, tinggal tikung aja kan Je. Gitu aja kok repot."
"Ihhh mama kok gitu sihhhh...."
"Ya kali kamu mau jomblo terus..."
"Jeje takut maaa..." tubuh Jeje bergeser lebih dekat ke arah mamanya.
"Takut apa sih je?" Tangan mama mengusap-usap rambut sebahu milik putrinya.
"Takut kena azaaabbbbb hahahhahaaa."
"Buseettt dahhh mama kira takut apa. Hahahaha tapi bener juga sih je."
Mama mulai beranjak, "udah jomblo juga gak pa pa lah. Asal kamu sehat mama udah seneng."
Malam ini Jeje merasa rindunya sedikit terobati sekalipun tanpa temu dengan pemilik senyum manis waktu itu.
Rintik hujan yang jatuh, suaranya yang memenuhi setiap sudut ruang, juga genangan disepanjang jalan adalah perpaduan yang pas baginya untuk kembali pada sebuah masa. Masa yang biasa ia sebut dengan masa lalu.
Jeje kembali membuka buku kecil berwarna biru bergambar awan. Ia mulai membaca dari lembar pertama.
Dear diary...
Hari ini aku sekolah, tapi seragamku ganti. Sekarang udah gak putih biru lagi melainkan putih abu-abu. Tapi sial! Hari ini aku kesiangan, jadi berangkatnya gak bareng sama si Mita. Angkotnya lama banget sumpah! Elahhh pada dimana sih abangnya. Nyebelin kali !!! Tapi tunggu, siapa tuh ? Senyumnya beuhhh manis kali....alamakkkk si abang seragamnya sama kaya punya ku.
-Jelita Anggira-
Ingatannya kembali pada saat dimana untuk pertama kalinya jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, seolah jantungnya ingin lepas. Hanya karna sebuah senyuman. Dari seseorang yang berseragam sepertinya. Konyol memang, tapi Jeje senang.
"Ehhh anak mama kenapa nih senyum-senyum sendiri?" Mama berbisik lalu menempati bangku kosong disebelah Jeje.
"Apaan sih mama, dateng-dateng gak jelas gitu..." nadanya terdengar manja sekaligus malu.
"Kamu tuh, senyum-senyum sendiri. Di kampus abis ketemu cogan ya?" Telunjuk jarinya menyentuh pipi Jeje sekali.
"Di kampus Jeje mana ada cogan ma...sekelas aja cuma 3 ekor doang itu jugaaaa..." Jeje menggantungkan kalimatnya.
"Apa ?" Muka mama Jeje berubah menjadi lebih penasaran.
"Udah punya pacar semua hehheheh" sebuah cengiran ia tambahkan.
"Ya elah, tinggal tikung aja kan Je. Gitu aja kok repot."
"Ihhh mama kok gitu sihhhh...."
"Ya kali kamu mau jomblo terus..."
"Jeje takut maaa..." tubuh Jeje bergeser lebih dekat ke arah mamanya.
"Takut apa sih je?" Tangan mama mengusap-usap rambut sebahu milik putrinya.
"Takut kena azaaabbbbb hahahhahaaa."
"Buseettt dahhh mama kira takut apa. Hahahaha tapi bener juga sih je."
Mama mulai beranjak, "udah jomblo juga gak pa pa lah. Asal kamu sehat mama udah seneng."
Malam ini Jeje merasa rindunya sedikit terobati sekalipun tanpa temu dengan pemilik senyum manis waktu itu.
Komentar
Posting Komentar