SM - 03
____________________________
Senja menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Turun!" perintah Alang dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Gak mau..." Senja berkata lirih.
"Terus mau kamu tu apa?"
"Mau minta maaf aja. Hehhe." Senja tertawa renyah.
"Apa?!" Alang sama sekali tidak menurunkan nada suaranya.
"Senja mau minta maaf sama Alang." Kali ini mata Senja membulat sempurna, mencoba membuat Alang iba.
"Ok ok gue nyerah..." terdengar nada putus asa dari seorang Alang.
"Heheehehhe..." jawab Senja sederhana.
*****
"Ran, kamu jadi ikut ekstra pencinta alam?" Senja bertanya pada Rani ketika bel pulang berbunyi.
"Jadi sore ini kumpul, tapi mau ngerjain tugas kelompok dulu sama Tika." Jawab Rani sembari memasukkan buku ke dalam tas.
"Oh, kok bisa ya kamu sama Tika?"
"Kan namanya Atika, kamu juga sama si Alang."
"Iya ih! Baru inget aku."
"Kamu gak bosen apa-apa sama si Alang terus?"
Gerakan tangan Senja yang memakai jaketnya terhenti. "Bosen sih hahhaha tapi Alang baik. Senja suka hahha"
"Suka apa cintaaaaa?" Terdengar nada becanda dalam pertanyaan Rani.
"Ih! Apaan sih! Udah ah. Aku mau ke Alang dulu."
Senja berjalan ke deretan meja paling belakang tempat dimana Alang berada.
"Lang, kita mau ngerjain tugas kapan?"
"Nanti malem aku ke rumahmu."
"Kenapa gak sekarang aja?"
Perbincangan Alang dan Senja menyita perhatian teman-teman Alang yang duduk di deretan bangku belakang.
"Aku mau latihan futsal dulu, kalo kamu nunggu kelamaan. Kasihan kamunya." Terang Alang penuh perhatian.
"Oh gitu. Ok deh, habis maghrib ya? Biar Alang pulangnya gak kemaleman." Jawab Senja penuh pengertian.
"Ok siap laksanakan tuan putri." Alang mengangkat tangan kanannya memberi hormat pada Senja.
"Kalo gitu Senja pulang dulu ya Lang. Sampai ketemu nanti malem." Senja tersenyum diakhir kalimatnya.
Senja berjalan pelan menuju pintu, teman-teman Alang berbisik.
"Bro, si Senja cantik ya, manis. Senyumnya beuhhhhh..." puji Reza
"Yoi cuy, pasti banyak yang suka." Imbuh Dani.
"Masih jomblo lagi tapi sayang susah didapetin" kata Dodit.
Alang hanya tersenyum miring. Ia masih setia memperhatikan Senja yang mulai menghilang di balik pintu.
*****
Sekolah masih ramai karena siswa-siswi mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Di sekolah ini ada ekstra tari, basket, futsal, pecinta alam, PMR, dan ekstra wajib PRAMUKA.
Rani bergabung dengan ekstra pecinta alam, Alang bergabung dengan ekstra futsal sedangkan Senja hanya mengikuti PRAMUKA.
Oleh karena itu dia bisa pulang lebih awal dibandingkan teman-temannya. Senja berdiri di seberang jalan menunggu angkot setelah sebelumnya disebrangkan oleh pak satpam yang sedang bertugas.
Tin!!! Tinnn!!! Tinnn!!!
Senja mengangkat kepalanya melihat ke arah sumber suara.
"Mau pulang?"
"Ehhh...iya kak..."
"Bareng aja, rumah kita searah." Ajak Adam.
"Tapi saya gak bawa helm kak..." jawab Senja ragu, sebenarnya ia sangat ingin pulang bersama Adam. Hati kecilnya berharap agar Adam tetap mau mengantarnya pulang.
"Gak pa pa, nanti lewat jalan desa aja."
Mendengar jawaban dari Adam, Senja langsung mengucapkan syukur dalam hati. Ia tersenyum sangat lebar. Sungguh detak jantungnya beradu dengan deru napasnya sendiri.
*****
Selama di perjalanan mereka berdua membisu, Senja masih beradu dengan detak dan deru napasnya. Sedangkan Adam fokus dengan jalanan.
Hanya sekali Adam bertanya pada Senja, itupun bertanya tentang rumah Senja. Selebihnya dia diam seribu bahasa.
Rasa bosan mulai datang menghampiri Senja, seketika ia teringat pada Alang. Saat pulang bersama Alang, mereka selalu terlibat percakapan yang seru sampai menjadi pusat perhatian ketika berhenti di lampu merah.
Ada saja hal yang membuat Senja dan Alang beradu argumen. Seperti siapa yang lahir duluan antara telur dan ayam? Kenapa bumi itu bulat? Kenapa habis SMP langsung SMA? Kenapa kamu cantik? Hal-hal yang tidak masuk akal tapi berhasil membuat Senja betah pulang bersama Alang.
Bayangan Alang yang tengah berlatih futsal melintas di kepala Senja. Ia menghirup napas pelan, rasa sesal menghampiri hati kecilnya. Andai saja tadi ia mau menemani Alang latihan pasti keadaannya akan berbeda.
Bola mata Senja beralih ke arah punggung yang tidak begitu lebar. Sebuah pertanyaan muncul bagaimana bisa Alang mengalahkan pesona Adam, seseorang yang ia tetapkan sebagai pujangga pertama.
Senja menampik pikiran itu, mungkin karena ia lebih sering bersama Alang dari pada Adam.
Ia menganggukkan kepalanya, merasa bahwa permasalahan sudah terpecahkan. Sekalipun ia masih merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
*****
Alang menepati janjinya begitu adzan maghrib berhenti, ia sudah sampai di depan pintu rumah Senja.
"Lah, udah sampe sini aja." Sambut Senja ketika ia membukakan pintu dan kaget ketika melihat Alang.
Alang hanya diam, ia malah mengangkat tangan kanannya mengajak Senja bersalaman.
Yang diajak bersalaman bingung. Tetapi Senja menurut ketika Alang membawa tangannya ke arah dahi Senja.
"Nah gitu kalo suaminya pulang tuh salim." Kata Alang diikuti suara tawa yang meledek.
"Dasar halu..."
Mereka kemudian masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu. Di meja sudah banyak buku-buku, makanan ringan dan juga minuman.
"Sambutannya ngeri kali bu?" Kata Alang girang. Ia bahkan bertepuk tangan sebanyak tiga kali. Merasa terlalu banyak hidangan yang disajikan. Padahal Alang sudah sering ke rumah Senja.
"Yeee si Alang malah kepedean. Ini tu buat ngerjain tugas kelompok sekaligus perayaan."
"Perayaan apa?" Tanya Alang penuh selidik.
"Coba Alang tebak..."
"Ulang tahunmu kan masih bulan Januari, dapet juara juga enggak, ngerayain apaan sih?"
"Ngerayain tadi aku pulang..." Senja sengaja menggantungkan ucapannya.
"Pulang? Biasanya juga pulangkan..." Alang melihat ke arah Senja jeli. Dahinya berkerut, ia memikirkan sesuatu.
"Oh...pulang sama siapa?"
"Sama siapa coba Alang tebak." Senja tak mau memberikan jawaban secara cuma-cuma.
"Ya mana aku tahu." Jawab Alang acuh. Padahal sudah ada satu nama yang muncul di kepalanya.
"Sama kak Adam donggggg..." jawab Senja menggebu-gebu.
"Ohh..." jawab Alang cuek.
"Kok cuma gitu sih?"
Senja sedikit kesal ketika Alang memberikan respon yang jauh dari perkiraannya.
"Lah terus aku harus gimana? Salto?"
"Ya gak gitu kali, tanya kenapa bisa pulang bareng kak Alang, tadi di jalan gimana? Ngobrolin apa kek?"
"Gak penting!"
"Ihhh penting tauuu..."
"Baru dibonceng aja udah seseneng ini, biasanya juga aku yang boncengin kamu."
"Tapi ini beda Lang..." Senja tetap tak mau mengalah.
"Bedanya apa? Dia pake jet? Pake kapal selam? Gak kan?!" Jawab Alang ngotot.
"Iya juga sih..." akhirnya Senja mengalah. Ia membenarkan ucapan Alang.
"Kalo kamu jadian sama si Adam, nah itu baru...kamu boleh seneng kaya pesen nasi goreng pedes, telurnya dua, terus pake karet merah."
Kemudian tangannya bergerak mengambil buku yang ada di atas meja.
"Buruan ngerjain tugasnya, biar nanti aku gak kemaleman sampe rumah!"
"Ye...iya iya..."
Mereka kemudian sibuk mengerjakan tugas pkn, membuat ppt yang menarik tentang bela negara yang akan mereka presentasikan minggu depan.
________________________________
Mau ngasih pengumuman sedikit. Kalo cast Senja aku ganti sama kak Hanggini ya soalnya aku ngerasa cocok yang ini dari sebelumnya hehhehe.

Komentar
Posting Komentar