Pandu Dan Rindu [Ayam Mbah Jenggot]
Aku berjalan keluar UKS dituntun oleh Bagas. Begitu turun dari ranjang tadi Bagas langsung memapahku. Tak enak hati untuk menolaknya, tak tega untuk membuat ia malu di depan teman-teman yang lain. Padahal sebenarnya aku risih. Pandu bersandar di pintu mobil, lalu ia membukakan pintu untukku. Dengan berlari kecil ia memutari mobil kemudian masuk. Pandu mencondongkan tubuhnya, memasangkan sabuk pengaman. Hatiku sesak, seperti tertimpa batu besar, untuk beberapa saat aku lupa caranya bernapas. Wangi Pandu menyeruak membuatku terlena lantas memejamkan mata. "Aku bisa pakai sendiri !" Protesku. "Tanganmu kan sedang terluka, aku hanya menolongmu..." terang Pandu. "Lukanya hanya kecil..." "Iya emang, besok perbannya diganti plester aja." Aku sedikit bingung dengan ucapannya. "Terus kenapa tadi kamu repot-repot perban segala ?!" Kata ku berapi-api. "Sengaja biar keliatan keren..." "Apanya ?" Tanyaku tak sabar...