Pandu Dan Rindu [Perempuan dan yang ada di kepala]
Setelah selesai mandi dan mencuci jaket Pandu, aku menonton TV bersama keluargaku. Mereka tengah asyik menyaksikan sepak bola. Biasanya aku akan berada dibarisan paling depan, tapi kali ini memilih untuk duduk di samping mama.
Mencoba fokus mengikuti aliran bola sekalipun pikiran di kepala bercabang-cabang tak karuan. Berulang kali aku melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja dengan keadaan yang masih sama. Mati, tak ada kilatan cahaya sedikitpun.
"Kamu kenapa sih dek ? Kok tumben gak teriak-teriak ? Sakit ? " tangannya terulur memeriksa dahi.
Aku menggeleng pelan. Entah apa yang sebenarnya aku pikirkan. Rasanya seperti ada yang kurang tapi aku tak tahu apa ? Seperti ada yang hilang tapi aku tak tahu harus mencari kemana ? Dilema.
"Udah sana tidur aja besok sekolahkan !" Perintah mama.
"Nanti nunggu gol dulu. Hehehhee." Nunggu yang lain juga sih, aku terkekeh geli.
Mama kembali fokus pada Hansamu dan kawan-kawannya. Mata ku melirik ponsel lagi, menghela napas pelan, mengambil ponsel kemudian beranjak menuju kamar.
"Gollllllllll !!!!!!! Golll !!!! Golllll !!!!"
Mereka berteriak bersamaan hp yang terlepas dari genggaman. Na'as. Aku memukul kepalaku berulang kali, mencoba untuk mengembalikan kewarasan.
Aku menjatuhkan diri di atas ranjang empuk. Menggeser layar ponsel, grup kelas ramai membahas PR, 5 pesan dari Bella dan 2 pesan dari Wulan. Tangan ini bergerak sendiri, Pandu tanpa pesan. Ada rasa gundah yang tiba-tiba menyerang, berpuluh-puluh pertanyaanpun menyerangku. Sudah sampai rumahkah Pandu ? Sudah tidurkah ? Mencoba menutup mata secara perlahan. Sakitkah Pandu ?
Pandu, nama mu-ku rapalkan perlahan. Menatap langit-langit kamar, mencoba untuk tidur. 20 menit berlalu tapi aku masih terjaga. Sejauh ini hanya bergerak kesana kemari mencari posisi.
Tangan ini terulur mengambil ponsel lalu mencari sebuah nama. Senyum Pandu muncul ke permukaan. Pikiran dan hati kembali beradu, rasanya keterlaluan ketika Pandu rela mengantarku pulang dengan selamat sedangkan dia pulang dengan keadaan sebaliknya. Beberapa menit berlalu bersama ketidak beranianku mengirim pesan sekedar menanyakan kabar. Aku terlelap, egoku melayang menemani rembulan dan bintang.
Aku selalu ingin bangun pagi, bahkan sebelum ayam berkokok. Hanya sekedar untuk melihat dia tersenyum, tertawa, berjalan, berlari, duduk, makan. Ah selalu ingin !
Suasana kelas membuatku takjub, semua orang sibuk menyalin PR, saling melempar panghapus, buku, dan penggaris. Ya memang benar, matematika dan segala kerumitannya.
"Kamu udah selesai ?" Tanya Bella.
"Udah..." satu dua tiga...
"Kok kamu jahat sih ?! Aku nge WA kamu gak dibales. Dasar ibu tiri kejam ! " Bella mulai menaikkan nada bicaranya
Pandangan Wulan tertuju padaku meminta penjelasan.
"Kemarin aku pulangnya kehujanan terus malemnya gak enak badan jadi langsung tidur." Duh ! Malah cari mati.
"Apa ?! Emangnya kamu gak jadi naik angkot ?" Selidik Wulan.
Aku hanya menggeleng lemah sebagi jawaban.
"Terus kamu pulang sama siapa Sa ?" Mulai nih keponya.
"Sama Pandu..." kata ku lemah
Mereka hanya berpandangan seolah mencerna kata-kata, tapi aku tahu mereka masih ingin bertanya banyak hal. Mereka selalu saja memusingkan kepala.
"Aku udah ngetem di tempat biasa, tapi gak ada angkot yang lewat. Terus tiba-tiba Pandu lewat, dengan baik hati dia menawarkan diri buat nganter aku pulang. Udah gitu doang." Selayaknya pahlawan menerobos serangan hujan.
"Cie dianter sama mas mantan ketua. Uhukk !! uhukkk !!" Bella terkekeh pelan.
"Kalo abang ojeknya ganteng sama motornya keren gitu sih, aku...juga mau kali dianter pulang. Duhhh kak Pandu...." sahut Wulan
"Sstttt berisik tahuuuukkkk !" Pipiku pasti semerah tomat. Ah menyebalkan sekali !
Bagian mana yang menarik ? Kenapa mereka seperti cacing-cacing kepanasan ? Ah sudahlah. Ada baiknya juga mereka gak tanya-tanya lagi. Kartu AS masih aman, tanganku refleks mengelus dada, rata. Dihhh !!!
Ingin rasanya lari ketika pelajaran matematika usai. Perihal angka ternyata menghabiskan tenaga sedangkan perihal dia ternyata menyesakkan dada. Miris sekali.
Mereka menyeretku ke arah koperasi untuk membeli LKS. Harusnya aku langsung ke kantin aja, lks di rumah udah lengkap. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ke kantin sendirian, mana berani aku. Hahhahhaaa
Koperasi penuh, karena banyak siswa atau karena ruangannya yang cukup kecil entahlah ? Diantara banyaknya orang, sesosok itu berhasil mencuri perhatianku. Kami beradu pandang selama seperkian detik. Aku lebih dulu menyerah, pesonanya benar-benar membuatku kalah.
"Aku tunggu di luar aja." Ucapku tanpa suara pada Bella dan Wulan.
Pandu menepuk bahu temannya, langkah kakinya menuju ke arah pintu.
Aku berdiri mematung didekat pintu. Bayangan Pandu menutupi, mata ini bergerak sendiri meneliti keadaannya. Dia terlihat baik-baik saja. Syukurlah...tapi kenapa tadi malam dia....Ah sudahlah ! Memangnya kamu itu siapa Sa ?!
"Maaf, semalem ketiduran." Akhirnya Pandu memecah kebisuan suaranya terdengar serak.
Lah kenapa dia yang minta maaf ? Dasar aneh !
"Eh... iya, maaf kemarin aku merepotkan mu." Jawabku seadanya bahkan untuk menarik sedikit sudut bibirku saja tak bisa.
Teman-teman Pandu datang, mengganggu. Mereka akhirnya membawa Pandu pergi. Ada perasaan lega yang hadir menyapaku kali ini.
"Aku pergi dulu." Katanya tanpa suara.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Pertanyaan kenapa Pandu tak mengirim pesan padaku tergantikan oleh rumus-rumus fisika, kimia juga sejarah masa lalu.
Sepulang sekolah aku mengikuti les disalah satu bimbel. Bersama Wulan dan Bella hanya saja berbeda kelas dan jadwal . Wulan mengantarku ke tempat les, kemudian dia pulang.
Setibanya disana aku kembali berjumpa dengan angka, dan rumus-rumus. Kepalaku sampai pening dibuatnya. Sangat-sangat menguras tenaga.
Gedung yang tadinya ramai sekarang berangsur-angsur sepi. Melihat ke arah bawah aku berjalan sambil menghitung keramik. Samar-samar aku mencium wangi yang aku kenal.
Pandu tengah duduk di bangku panjang ruang tunggu. Dia tengah asyik mendengarkan musik dengan earphone, sebagian wajahnya tertutup oleh topi. Aku terkesiap ketika Pandu melihat ke arah ku, dia menepuk sisi bangku yang kosong. Meminta ku untuk duduk, mungkin aku terlalu lama memandanginya atau bisa saja ia mendengar detak jantungku yang tak lagi beraturan. Aku tak tahu dan tak mau tahu.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua dengan mu selama-lamanya. Kaulah yang terbaik untukku.
Seperti kaset yang diputar, kejadian kemarin tiba-tiba muncul ke permukaan. Rasanya menyenangkan ketika nyanyian, kenangan dan Pandu berada dalam satu waktu.
Pandu tengah memejamkan mata, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, alisnya tebal. Rambutnya hitam, klimis. Dari dekat aku baru tahu Pandu memiliki kumis yang sangat-sangat tipis di atas bibir. Manis.
"Lagunya siapa ?" Aku mencoba mengalahkan pesonanya.
Pandu membuka matanya perlahan. Tatapan lembut itu menyambut ku.
"Adera.." Bisiknya
"Siapa ? Ade Rai ? Si binaragawan itu ?"
Aku membayangkan dia menyanyi bukan membawa gitar tapi dengan barbelnya. Hahhaha. Aku tak bisa menahan tawaku.
Pandu tertawa cukup kencang, matanya berbicara kamu beneran gak tahu ?
Aku memang tidak tahu dan aku tak bermaksud melucu. Setahuku Ade Rai ya altet itu bukan penyanyi. Tapi entah mengapa aku merasa senang. Padahal harusnya malu. Tapi suara tawa Pandu yang renyah membuatku lupa. Bahwa faktanya saat ini aku tengah mempermalukan diri sendiri.
"Kamu les disini juga ?" Pandu mengalihkan pembicaran. Seolah sengaja menghapus hal yang cukup memalukan.
"Iya udah dari SMP."
"Oh ya ? Kok aku baru lihat sekarang ya ? Kamu mau pulangkan?" Nada bicaranya seolah pernyataan bukan pertanyaan
"Iya." Jawab ku singkat
"Sama siapa ? Aku antarein ya ?" Lagi dia seolah memerintah bukan bertanya.
"Eh....gak usah,mmmmm aku dijemput kok..." jawab ku ragu-ragu.
"Siapa ? Cowok ?" Nadanya lebih keras dari sebelumnya.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan. Mulutku tak rela untuk mengatakan iya, entah kenapa ? Aku juga tidak tahu. Tak mau membuat Pandu cemburu, mungkin. tapi untuk apa ? Aku dan diakan hanya sebatas...
Pandu diam tak mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum, tapi kali ini ada yang berbeda dari senyumnya. Senyumnya sedikit sinis.
"Aku pulang, dia udah nunggu." Kataku pelan.
"Aku antar sampai depan."
Pandu masih tetap diam, langkah kakinya cukup cepat dia seperti tergesa-gesa, tapi aku tak mau menyimpulkan sendiri. Bisa besar kepala nanti.
"Duluan ya...."
Pandu hanya mengangguk, matanya terus mengawasi seseorang yang tengah duduk santai lengkap dengan helm di atas motor.
Aku naik ke motor secara perlahan, Pandu masih menatap tajam. Wajahnya sedikit kesal, tangannya mengepal topi cukup kuat. Seolah-olah menahan diri dari badai topan yang tiba-tiba datang.
Motor melaju kencang membawa ku pulang ke rumah, beserta kebimbangan, juga ketidak pastian.
NB : follow @alfiahdewihilalnoor untuk tanya-tanya seputar Pandu Dan Rindu, aku juga share link di ig. Jadi biar gak ketinggalan mas Pandu lebih baik follow. Hehehehe
Updatenya gak tentu, karena kadang dunia nyata lebih membutuhkan perhatian.
Kritik dan sarannya dong. Komentarnya juga ditunggu looohhh....
Mencoba fokus mengikuti aliran bola sekalipun pikiran di kepala bercabang-cabang tak karuan. Berulang kali aku melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja dengan keadaan yang masih sama. Mati, tak ada kilatan cahaya sedikitpun.
"Kamu kenapa sih dek ? Kok tumben gak teriak-teriak ? Sakit ? " tangannya terulur memeriksa dahi.
Aku menggeleng pelan. Entah apa yang sebenarnya aku pikirkan. Rasanya seperti ada yang kurang tapi aku tak tahu apa ? Seperti ada yang hilang tapi aku tak tahu harus mencari kemana ? Dilema.
"Udah sana tidur aja besok sekolahkan !" Perintah mama.
"Nanti nunggu gol dulu. Hehehhee." Nunggu yang lain juga sih, aku terkekeh geli.
Mama kembali fokus pada Hansamu dan kawan-kawannya. Mata ku melirik ponsel lagi, menghela napas pelan, mengambil ponsel kemudian beranjak menuju kamar.
"Gollllllllll !!!!!!! Golll !!!! Golllll !!!!"
Mereka berteriak bersamaan hp yang terlepas dari genggaman. Na'as. Aku memukul kepalaku berulang kali, mencoba untuk mengembalikan kewarasan.
Aku menjatuhkan diri di atas ranjang empuk. Menggeser layar ponsel, grup kelas ramai membahas PR, 5 pesan dari Bella dan 2 pesan dari Wulan. Tangan ini bergerak sendiri, Pandu tanpa pesan. Ada rasa gundah yang tiba-tiba menyerang, berpuluh-puluh pertanyaanpun menyerangku. Sudah sampai rumahkah Pandu ? Sudah tidurkah ? Mencoba menutup mata secara perlahan. Sakitkah Pandu ?
Pandu, nama mu-ku rapalkan perlahan. Menatap langit-langit kamar, mencoba untuk tidur. 20 menit berlalu tapi aku masih terjaga. Sejauh ini hanya bergerak kesana kemari mencari posisi.
Tangan ini terulur mengambil ponsel lalu mencari sebuah nama. Senyum Pandu muncul ke permukaan. Pikiran dan hati kembali beradu, rasanya keterlaluan ketika Pandu rela mengantarku pulang dengan selamat sedangkan dia pulang dengan keadaan sebaliknya. Beberapa menit berlalu bersama ketidak beranianku mengirim pesan sekedar menanyakan kabar. Aku terlelap, egoku melayang menemani rembulan dan bintang.
Aku selalu ingin bangun pagi, bahkan sebelum ayam berkokok. Hanya sekedar untuk melihat dia tersenyum, tertawa, berjalan, berlari, duduk, makan. Ah selalu ingin !
Suasana kelas membuatku takjub, semua orang sibuk menyalin PR, saling melempar panghapus, buku, dan penggaris. Ya memang benar, matematika dan segala kerumitannya.
"Kamu udah selesai ?" Tanya Bella.
"Udah..." satu dua tiga...
"Kok kamu jahat sih ?! Aku nge WA kamu gak dibales. Dasar ibu tiri kejam ! " Bella mulai menaikkan nada bicaranya
Pandangan Wulan tertuju padaku meminta penjelasan.
"Kemarin aku pulangnya kehujanan terus malemnya gak enak badan jadi langsung tidur." Duh ! Malah cari mati.
"Apa ?! Emangnya kamu gak jadi naik angkot ?" Selidik Wulan.
Aku hanya menggeleng lemah sebagi jawaban.
"Terus kamu pulang sama siapa Sa ?" Mulai nih keponya.
"Sama Pandu..." kata ku lemah
Mereka hanya berpandangan seolah mencerna kata-kata, tapi aku tahu mereka masih ingin bertanya banyak hal. Mereka selalu saja memusingkan kepala.
"Aku udah ngetem di tempat biasa, tapi gak ada angkot yang lewat. Terus tiba-tiba Pandu lewat, dengan baik hati dia menawarkan diri buat nganter aku pulang. Udah gitu doang." Selayaknya pahlawan menerobos serangan hujan.
"Cie dianter sama mas mantan ketua. Uhukk !! uhukkk !!" Bella terkekeh pelan.
"Kalo abang ojeknya ganteng sama motornya keren gitu sih, aku...juga mau kali dianter pulang. Duhhh kak Pandu...." sahut Wulan
"Sstttt berisik tahuuuukkkk !" Pipiku pasti semerah tomat. Ah menyebalkan sekali !
Bagian mana yang menarik ? Kenapa mereka seperti cacing-cacing kepanasan ? Ah sudahlah. Ada baiknya juga mereka gak tanya-tanya lagi. Kartu AS masih aman, tanganku refleks mengelus dada, rata. Dihhh !!!
Ingin rasanya lari ketika pelajaran matematika usai. Perihal angka ternyata menghabiskan tenaga sedangkan perihal dia ternyata menyesakkan dada. Miris sekali.
Mereka menyeretku ke arah koperasi untuk membeli LKS. Harusnya aku langsung ke kantin aja, lks di rumah udah lengkap. Tapi kalau dipikir-pikir lagi ke kantin sendirian, mana berani aku. Hahhahhaaa
Koperasi penuh, karena banyak siswa atau karena ruangannya yang cukup kecil entahlah ? Diantara banyaknya orang, sesosok itu berhasil mencuri perhatianku. Kami beradu pandang selama seperkian detik. Aku lebih dulu menyerah, pesonanya benar-benar membuatku kalah.
"Aku tunggu di luar aja." Ucapku tanpa suara pada Bella dan Wulan.
Pandu menepuk bahu temannya, langkah kakinya menuju ke arah pintu.
Aku berdiri mematung didekat pintu. Bayangan Pandu menutupi, mata ini bergerak sendiri meneliti keadaannya. Dia terlihat baik-baik saja. Syukurlah...tapi kenapa tadi malam dia....Ah sudahlah ! Memangnya kamu itu siapa Sa ?!
"Maaf, semalem ketiduran." Akhirnya Pandu memecah kebisuan suaranya terdengar serak.
Lah kenapa dia yang minta maaf ? Dasar aneh !
"Eh... iya, maaf kemarin aku merepotkan mu." Jawabku seadanya bahkan untuk menarik sedikit sudut bibirku saja tak bisa.
Teman-teman Pandu datang, mengganggu. Mereka akhirnya membawa Pandu pergi. Ada perasaan lega yang hadir menyapaku kali ini.
"Aku pergi dulu." Katanya tanpa suara.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Pertanyaan kenapa Pandu tak mengirim pesan padaku tergantikan oleh rumus-rumus fisika, kimia juga sejarah masa lalu.
Sepulang sekolah aku mengikuti les disalah satu bimbel. Bersama Wulan dan Bella hanya saja berbeda kelas dan jadwal . Wulan mengantarku ke tempat les, kemudian dia pulang.
Setibanya disana aku kembali berjumpa dengan angka, dan rumus-rumus. Kepalaku sampai pening dibuatnya. Sangat-sangat menguras tenaga.
Gedung yang tadinya ramai sekarang berangsur-angsur sepi. Melihat ke arah bawah aku berjalan sambil menghitung keramik. Samar-samar aku mencium wangi yang aku kenal.
Pandu tengah duduk di bangku panjang ruang tunggu. Dia tengah asyik mendengarkan musik dengan earphone, sebagian wajahnya tertutup oleh topi. Aku terkesiap ketika Pandu melihat ke arah ku, dia menepuk sisi bangku yang kosong. Meminta ku untuk duduk, mungkin aku terlalu lama memandanginya atau bisa saja ia mendengar detak jantungku yang tak lagi beraturan. Aku tak tahu dan tak mau tahu.
Aku duduk dengan canggung disebelah Pandu. Kemudian dia memberikan sebelah earphonenya, aku menurut memasang earphone di telinga. Suara lelaki mulai terdengar...
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Dan membuatku utuh tuk menjalani hidup
Berdua dengan mu selama-lamanya. Kaulah yang terbaik untukku.
Seperti kaset yang diputar, kejadian kemarin tiba-tiba muncul ke permukaan. Rasanya menyenangkan ketika nyanyian, kenangan dan Pandu berada dalam satu waktu.
Pandu tengah memejamkan mata, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, alisnya tebal. Rambutnya hitam, klimis. Dari dekat aku baru tahu Pandu memiliki kumis yang sangat-sangat tipis di atas bibir. Manis.
"Lagunya siapa ?" Aku mencoba mengalahkan pesonanya.
Pandu membuka matanya perlahan. Tatapan lembut itu menyambut ku.
"Adera.." Bisiknya
"Siapa ? Ade Rai ? Si binaragawan itu ?"
Aku membayangkan dia menyanyi bukan membawa gitar tapi dengan barbelnya. Hahhaha. Aku tak bisa menahan tawaku.
Pandu tertawa cukup kencang, matanya berbicara kamu beneran gak tahu ?
Aku memang tidak tahu dan aku tak bermaksud melucu. Setahuku Ade Rai ya altet itu bukan penyanyi. Tapi entah mengapa aku merasa senang. Padahal harusnya malu. Tapi suara tawa Pandu yang renyah membuatku lupa. Bahwa faktanya saat ini aku tengah mempermalukan diri sendiri.
"Kamu les disini juga ?" Pandu mengalihkan pembicaran. Seolah sengaja menghapus hal yang cukup memalukan.
"Iya udah dari SMP."
"Oh ya ? Kok aku baru lihat sekarang ya ? Kamu mau pulangkan?" Nada bicaranya seolah pernyataan bukan pertanyaan
"Iya." Jawab ku singkat
"Sama siapa ? Aku antarein ya ?" Lagi dia seolah memerintah bukan bertanya.
"Eh....gak usah,mmmmm aku dijemput kok..." jawab ku ragu-ragu.
"Siapa ? Cowok ?" Nadanya lebih keras dari sebelumnya.
Aku hanya mengangguk pelan, mengiyakan. Mulutku tak rela untuk mengatakan iya, entah kenapa ? Aku juga tidak tahu. Tak mau membuat Pandu cemburu, mungkin. tapi untuk apa ? Aku dan diakan hanya sebatas...
Pandu diam tak mengatakan apapun. Dia hanya tersenyum, tapi kali ini ada yang berbeda dari senyumnya. Senyumnya sedikit sinis.
"Aku pulang, dia udah nunggu." Kataku pelan.
"Aku antar sampai depan."
Pandu masih tetap diam, langkah kakinya cukup cepat dia seperti tergesa-gesa, tapi aku tak mau menyimpulkan sendiri. Bisa besar kepala nanti.
"Duluan ya...."
Pandu hanya mengangguk, matanya terus mengawasi seseorang yang tengah duduk santai lengkap dengan helm di atas motor.
Aku naik ke motor secara perlahan, Pandu masih menatap tajam. Wajahnya sedikit kesal, tangannya mengepal topi cukup kuat. Seolah-olah menahan diri dari badai topan yang tiba-tiba datang.
Motor melaju kencang membawa ku pulang ke rumah, beserta kebimbangan, juga ketidak pastian.
NB : follow @alfiahdewihilalnoor untuk tanya-tanya seputar Pandu Dan Rindu, aku juga share link di ig. Jadi biar gak ketinggalan mas Pandu lebih baik follow. Hehehehe
Updatenya gak tentu, karena kadang dunia nyata lebih membutuhkan perhatian.
Kritik dan sarannya dong. Komentarnya juga ditunggu looohhh....

Komentar
Posting Komentar