Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Pandu dan Rindu [Pandu dan Rindu]

Gambar
Aku berhenti di sebuah warung tenda. Sebenarnya aku butuh coklat tapi entah kenapa aku malah memesan susu jahe. Warung tenda ini tak tertutup sempurna, dari sini aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Pikiranku melayang, aku mencerna sejauh kedekatanku dengan Pandu. Sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku tersenyum getir mengingat itu. Aroma jahe benar-benar membuatku semakin meneteskan air mata. Entah kenapa aku rindu kehadiran Pandu. "Gak usah diminum!" Aku sangat hafal dengan suara ini. "Biarin...lagi pengen ini !" Aku membantah perkataannya. "Siniin..." tanganya dengan lancang mengambil gelas berisi susu jahe milikku. Aku memberikan tatapan tajam ke arah nya. Saat mataku bertemu dengan mata hitam pekatnya, aku sadar bahwa pesonanya membuatku kembali jatuh ke dalam dunianya. Menyebalkan ! "Nihhh..." dia memberiku es coklat. Aku tersenyum "dasar !" Terdengar suara tawa Pandu, seketika ha...

Pandu dan Rindu [ke rumah Pandu]

Pulang sekolah aku dan Wulan mampir ke rumah Bella, ada dua mobil di bagasi. Berarti orang tua Bella sudah pulang. Aku menghela napas lega. Mataku menajam menatap sebuah motor yang sangat aku kenali. ******************* Bella dan juga kedua orang tuanya tengah asyik mengobrol di ruang tamu. Eitsss tunggu itu kan ? Hah ! Rangga ?! Gercep juga ternyata. Wulan menyenggol lenganku. Aku hanya tertawa sebagai balasan. "Tante...om..." panggilku pelan sambil bersalaman. Diikuti Wulan di belakangku kemudian. "Tante sama om ke dalam dulu ya. Mau istirahat." Kata ibu Bella pamit. Aku, Wulan dan Rangga hanya mengangguk. Bella memelukku dan Wulan bersamaan. Dia tertawa lepas sore ini. "Makasih ya..." matanya berkaca-kaca. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengucapkan syukur di dalam hati. "Eh kamu ngapain disini ?" Tanya Wulan. "Heheheheh..." Rangga hanya tertawa. Aku memandangnya penuh curiga. Tapi Rangga hanya tert...

Pandu dan Rindu [titik terang]

Mbak Nem menangis tersedu-sedu saat kami sampai di rumah Bella. Wulan berlari memeluk mbak Nem. Sedangkan aku masih mematung di depan pintu. "Kamu sekuat macan." Bisik Pandu di telingaku. Aku melihat ke dua bola mata hitam pekat miliknya. Lalu beralih ke bibirnya yang melengkung membentuk sebuah senyuman. Aku ingin memeluknya menumpahkan segala rasa gundah ini tapi jarak antara aku dan Pandu membuatku terdiam kaku. Tangan Pandu mengusap kepalaku lembut. Tatapannya sendu. Pandu menarikku ke dalam bersamaan tanganku yang mengusap butiran bening yang jatuh di pipi. "Kita udah cari ke tempat-tempat yang biasa Bella datangi tapi hasilnya nihil." Kata Wulan lirih. "Mbak Nem udah cari di rumah ?" Tanya Rangga penuh selidik. Mbak Nem hanya mengangguk. Butiran bening itu terus keluar dari matanya. Aku menggigit bibir ku kuat-kuat. Merasa putus asa. Aku baru tersadar jika dari tadi aku tak melihat ke dua orang tua Bella. "Om sama tante udah di...

Pandu dan Rindu [Bella menghilang]

Gambar
Hari ini Bella tak berangkat sekolah. Padahal kemarin dia terlihat baik-baik saja, mungkin hatinya yang terluka. Sepertinya masalah Bella juga belum  selesai. Wulan tengah asyik mengerjakan tugas, rasanya bibirku ingin bertanya tapi rasa kesal membuatku enggan. Aku menghembuskan napas kasar. "Bella sakit apa sih Sa ? Kok gak berangkat lagi ?" Tanya Wulan. Aku setengah tak percaya Wulan menanyakan itu padaku. Berarti kemarin dia gak jadi ke tempat Bella. "Sakit hati !" Kataku sarkas. "Masa ? Dia kan jomblo ?" Tanya lagi. "Lah ? Emang yang bisa bikin sakit hati cuma pacar ? Teman juga bisa kali !" Ok aku mulai tersulut emosi kali ini. "Kamu kenapa sih Sa ?" "Kamu tuh yang kenapa ? Katanya mau nyusul malah berduaan. Sama siapa ? Pacar baru ?" Kataku sewot. "Pantesan sewot, kamu liat ya ? Bagus deh." Aku bingung dengan perkataannya. Wulan tersenyum sinis "jadi kamu tahu kan. Kalo Pandu juga per...