Pandu dan Rindu [Pandu dan Rindu]
Aku berhenti di sebuah warung tenda. Sebenarnya aku butuh coklat tapi entah kenapa aku malah memesan susu jahe.
Warung tenda ini tak tertutup sempurna, dari sini aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Pikiranku melayang, aku mencerna sejauh kedekatanku dengan Pandu. Sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku tersenyum getir mengingat itu.
Aroma jahe benar-benar membuatku semakin meneteskan air mata. Entah kenapa aku rindu kehadiran Pandu.
"Gak usah diminum!" Aku sangat hafal dengan suara ini.
"Biarin...lagi pengen ini !" Aku membantah perkataannya.
"Siniin..." tanganya dengan lancang mengambil gelas berisi susu jahe milikku.
Aku memberikan tatapan tajam ke arah nya. Saat mataku bertemu dengan mata hitam pekatnya, aku sadar bahwa pesonanya membuatku kembali jatuh ke dalam dunianya. Menyebalkan !
"Nihhh..." dia memberiku es coklat.
Aku tersenyum "dasar !"
Terdengar suara tawa Pandu, seketika hati ku menghangat.
"Ngapain ke rumah ?" Tanya penuh selidik.
"Gak ngapa-ngapain. Cuma salah alamat." Kataku berbohong mencoba peruntungan.
"Itu rumahku, Rangga gak salah alamat kok." Pandu mengangkat bibirnya sedikit.
"Kok tahu ?"
Pandu hanya mengangkat ponselnya. Susu jahenya masih tersisa setengah tapi dia sudah beranjak untuk membayar.
"Ayo..." Ajaknya.
"Kemana ?" Aku menghabiskan es coklatku tanpa sisa sedikitpun.
Pandu berjalan ke arah motornya, dia memakaikan helm ku. Ah ya, tadi aku menaruhnya di bangku taman rumah Pandu.
Bolehkah aku berpikir ? bahwa aku dan dia belum sedekat nadi, tapi sekarang kita bagaikan langit dan bumi.
Aku menghembuskan napas kasar. Mencoba mengenyahkan harapan yang mulai menyerangku.
************
Motor Pandu berjalan pelan, hembusan angin membelai pipiku perlahan. Daun-daun mulai berjatuhan sedangkan cantiknya senja mulai kelihatan.
Aku mengeratkan pelukan ku. Menghirup wangi Pandu yang paling ku suka. Menyimpannya baik-baik. Barangkali ini adalah kenangan terakhir bersama Pandu. Belum juga berpisah, tapi aku sudah merasa rindu hanya karna memikirkannya.
Motor Pandu terus melaju, deburan ombak mulai terdengar. Aku melebarkan mataku. Merasa begitu senang.
Dengan tak sabaran aku turun dari motor, lalu berlari kecil ke arah pantai. Aku meletakkan sepatuku di pinggir.
Dinginnya air laut menyentuh kakiku. Aku sedikit bermain-main dengan ombak. Pandu hanya tertawa melihat tingkah konyolku. Sedetik kemudian dia bergabung dengan ku juga beningnya air laut.
Sore ini, senja, deburan ombak, pasir putih dan juga Pandu adalah perpaduan yang pas. Membuatku tak ingin melepas. Lagi-lagi rindu menghampiriku. Ah Pandu ! Ku mohon jangan lekas berlalu.
Mataku melotot saat Pandu menggenggam jemariku. Dia berjalan membawaku menjauhi deburan ombak. Aku menatap ke bawah. Hatiku kembali menghangat, detak jantungku semakin menggila.
Bolehkah aku meminta waktu berakhir disini ? Semua ini teramat indah, membuatku enggan untuk melanjutkan hidup. Barangkali aku takut, yang akan datang tak akan semenyenangkan seperti ini. Membayangkannya saja membuatku kembali rindu, sudah berapa kali aku rindu Pandu ?
"Aku, Rizal sama Rangga itu sahabatan dari SMP..." Pandu membuka suaranya setelah duduk dihamparan pasir.
"Dengan slogan. No women no cry...." Pandu tertawa.
"Maksudnya biar kami fokus sama prestasi dan organisasi gak cuma masalah hati..."
Aku terdiam, mendengarkan cerita Pandu sekaligus mengamati wajahnya lekat-lekat. Lalu menyimpannya rapat-rapat. Lagi-lagi rasa takut dan rindu datang secara bersamaan.
"Kami bertiga suka main bareng, makan bareng, nginep bareng tadinya baik-baik aja sampai...." Pandu memandangku lembut.
"Saudara Rangga dateng, awalnya kami pikir dia bukan ancaman. Sampai akhinya dia bilang kalau...."
Aku meremas ujung bajuku. Mencoba menguatkan diri. Tanpa Pandu sadari.
"Dia pacarku sama temen-temen. Padahal sebenernya mah enggak. Tapi aku gak mau ambil pusing. Sampai Rangga mikir kalau aku penghianat. Aku juga masa bodoh. Mau cerita yang sebenarnya juga gak tega secara dia saudaranya Rangga...." Terdengar helaan napas Pandu.
"Akhinya aku bosen, aku bilang sama yang lain kalau aku bukan pacarnya. Rangga marah besar sama aku, dia ngira aku mempermainkan saudaranya..."
"Saudaranya Rangga siapa ?" Akhirnya suaraku keluar juga.
"Tata...."
Aku melotot, merasa kaget dengan apa yang barusan ku dengar.
"Sejak itu hubungan kami jadi renggang."
"Akhirnya Rangga tahu kebenarannya, terus dia bantuin aku buat jauh sama si Tata."
"Tapi tadi Tata..."
Pandu memotong ucapanku "dia datang sendiri ke rumahku. Tapi Rangga ngabarin kalo dia udah nganterin kamu ke rumah."
"Aku panik, soalnya gak liat kamu, pas liat helm mu aku jadi lega..." imbuh Pandu.
Dia tertawa sedikit lebih keras.
"Ceroboh banget ya aku. Masih ninggalin jejak..."
"Enggak cuma itu kali..."
"Apa lagi ?" Tanyaku.
"Kamu itu cengeng, penakut, cerewet, manja, susah dibilangin. Dan semua itu adalah sifat yang paling aku benci...."
Aku melongo, hatiku seperti disayat-sayat. Jadi ternyata selama ini Pandu...
"Tapi anehnya semua yang ada di kamu itu bikin aku nyaman sama kangen juga..." Senyum Pandu muncul ke permukaan.
Pipiku pasti sudah semerah tomat kali ini. Nyebelin !
"Sa, aku suka belajar tentang indahnya dunia. Tapi setelah ketemu kamu, aku sadar kalo kamu adalah hal terindah di muka bumi ini..." Pandu menatapku lembut.
Aku hanya mampu tersenyum, jujur saja aku malu, bingung, sekaligus senang.
"Jadi...maukah kamu yang indah ini, belajar tentang indahnya dunia bersamaku ?"
Mataku mulai berkaca-kaca, merasa semua ini hanya mimpi, benar-benar di luar dugaanku. Lidahku kelu tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Pandu tersenyum, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
**************
Senja tak lagi terlihat, deburan ombak tak lagi terdengar. Berganti dengan detak jantungku yang tak beraturan juga motor Pandu yang membawaku meninggalkan momen romantis yang sangat manis.
Warung tenda ini tak tertutup sempurna, dari sini aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Pikiranku melayang, aku mencerna sejauh kedekatanku dengan Pandu. Sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku tersenyum getir mengingat itu.
Aroma jahe benar-benar membuatku semakin meneteskan air mata. Entah kenapa aku rindu kehadiran Pandu.
"Gak usah diminum!" Aku sangat hafal dengan suara ini.
"Biarin...lagi pengen ini !" Aku membantah perkataannya.
"Siniin..." tanganya dengan lancang mengambil gelas berisi susu jahe milikku.
Aku memberikan tatapan tajam ke arah nya. Saat mataku bertemu dengan mata hitam pekatnya, aku sadar bahwa pesonanya membuatku kembali jatuh ke dalam dunianya. Menyebalkan !
"Nihhh..." dia memberiku es coklat.
Aku tersenyum "dasar !"
Terdengar suara tawa Pandu, seketika hati ku menghangat.
"Ngapain ke rumah ?" Tanya penuh selidik.
"Gak ngapa-ngapain. Cuma salah alamat." Kataku berbohong mencoba peruntungan.
"Itu rumahku, Rangga gak salah alamat kok." Pandu mengangkat bibirnya sedikit.
"Kok tahu ?"
Pandu hanya mengangkat ponselnya. Susu jahenya masih tersisa setengah tapi dia sudah beranjak untuk membayar.
"Ayo..." Ajaknya.
"Kemana ?" Aku menghabiskan es coklatku tanpa sisa sedikitpun.
Pandu berjalan ke arah motornya, dia memakaikan helm ku. Ah ya, tadi aku menaruhnya di bangku taman rumah Pandu.
Aku menghembuskan napas kasar. Mencoba mengenyahkan harapan yang mulai menyerangku.
************
Motor Pandu berjalan pelan, hembusan angin membelai pipiku perlahan. Daun-daun mulai berjatuhan sedangkan cantiknya senja mulai kelihatan.
Aku mengeratkan pelukan ku. Menghirup wangi Pandu yang paling ku suka. Menyimpannya baik-baik. Barangkali ini adalah kenangan terakhir bersama Pandu. Belum juga berpisah, tapi aku sudah merasa rindu hanya karna memikirkannya.
Motor Pandu terus melaju, deburan ombak mulai terdengar. Aku melebarkan mataku. Merasa begitu senang.
Dengan tak sabaran aku turun dari motor, lalu berlari kecil ke arah pantai. Aku meletakkan sepatuku di pinggir.
Dinginnya air laut menyentuh kakiku. Aku sedikit bermain-main dengan ombak. Pandu hanya tertawa melihat tingkah konyolku. Sedetik kemudian dia bergabung dengan ku juga beningnya air laut.
Sore ini, senja, deburan ombak, pasir putih dan juga Pandu adalah perpaduan yang pas. Membuatku tak ingin melepas. Lagi-lagi rindu menghampiriku. Ah Pandu ! Ku mohon jangan lekas berlalu.
Mataku melotot saat Pandu menggenggam jemariku. Dia berjalan membawaku menjauhi deburan ombak. Aku menatap ke bawah. Hatiku kembali menghangat, detak jantungku semakin menggila.
Bolehkah aku meminta waktu berakhir disini ? Semua ini teramat indah, membuatku enggan untuk melanjutkan hidup. Barangkali aku takut, yang akan datang tak akan semenyenangkan seperti ini. Membayangkannya saja membuatku kembali rindu, sudah berapa kali aku rindu Pandu ?
"Aku, Rizal sama Rangga itu sahabatan dari SMP..." Pandu membuka suaranya setelah duduk dihamparan pasir.
"Dengan slogan. No women no cry...." Pandu tertawa.
"Maksudnya biar kami fokus sama prestasi dan organisasi gak cuma masalah hati..."
Aku terdiam, mendengarkan cerita Pandu sekaligus mengamati wajahnya lekat-lekat. Lalu menyimpannya rapat-rapat. Lagi-lagi rasa takut dan rindu datang secara bersamaan.
"Kami bertiga suka main bareng, makan bareng, nginep bareng tadinya baik-baik aja sampai...." Pandu memandangku lembut.
"Saudara Rangga dateng, awalnya kami pikir dia bukan ancaman. Sampai akhinya dia bilang kalau...."
Aku meremas ujung bajuku. Mencoba menguatkan diri. Tanpa Pandu sadari.
"Dia pacarku sama temen-temen. Padahal sebenernya mah enggak. Tapi aku gak mau ambil pusing. Sampai Rangga mikir kalau aku penghianat. Aku juga masa bodoh. Mau cerita yang sebenarnya juga gak tega secara dia saudaranya Rangga...." Terdengar helaan napas Pandu.
"Akhinya aku bosen, aku bilang sama yang lain kalau aku bukan pacarnya. Rangga marah besar sama aku, dia ngira aku mempermainkan saudaranya..."
"Saudaranya Rangga siapa ?" Akhirnya suaraku keluar juga.
"Tata...."
Aku melotot, merasa kaget dengan apa yang barusan ku dengar.
"Sejak itu hubungan kami jadi renggang."
"Akhirnya Rangga tahu kebenarannya, terus dia bantuin aku buat jauh sama si Tata."
"Tapi tadi Tata..."
Pandu memotong ucapanku "dia datang sendiri ke rumahku. Tapi Rangga ngabarin kalo dia udah nganterin kamu ke rumah."
"Aku panik, soalnya gak liat kamu, pas liat helm mu aku jadi lega..." imbuh Pandu.
Dia tertawa sedikit lebih keras.
"Ceroboh banget ya aku. Masih ninggalin jejak..."
"Enggak cuma itu kali..."
"Apa lagi ?" Tanyaku.
"Kamu itu cengeng, penakut, cerewet, manja, susah dibilangin. Dan semua itu adalah sifat yang paling aku benci...."
Aku melongo, hatiku seperti disayat-sayat. Jadi ternyata selama ini Pandu...
"Tapi anehnya semua yang ada di kamu itu bikin aku nyaman sama kangen juga..." Senyum Pandu muncul ke permukaan.
Pipiku pasti sudah semerah tomat kali ini. Nyebelin !
"Sa, aku suka belajar tentang indahnya dunia. Tapi setelah ketemu kamu, aku sadar kalo kamu adalah hal terindah di muka bumi ini..." Pandu menatapku lembut.
Aku hanya mampu tersenyum, jujur saja aku malu, bingung, sekaligus senang.
"Jadi...maukah kamu yang indah ini, belajar tentang indahnya dunia bersamaku ?"
Mataku mulai berkaca-kaca, merasa semua ini hanya mimpi, benar-benar di luar dugaanku. Lidahku kelu tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Pandu tersenyum, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
**************
Senja tak lagi terlihat, deburan ombak tak lagi terdengar. Berganti dengan detak jantungku yang tak beraturan juga motor Pandu yang membawaku meninggalkan momen romantis yang sangat manis.
Motor Pandu memutari alun-alun, berulangkali. Ini sudah putaran yang ketigabelas. Tapi aku justru merasa senang sebab Pandu kembali menambah kenangan. Sampai akhirnya motor Pandu berhenti.
Tangannya menunjuk ke barat, kilatan kembang api mulai memenuhi mataku, letupannya menjalar sampai ke relung hari yang paling dalam.
Es coklat, senja, deburan ombak, pasir putih, juga kembang api kali ini aku nikmati bersama Pandu-kekasihku. Aku tersenyum ketika mengingat hal itu.
Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua mu. Sebab kau dibesarkan penuh dengan kasih sayang, saat bersama mu aku tak merasa kekurangan.
Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Sebab kau diciptakan aku merasa tergenapkan.
Pandu menatapku lembut, senyum andalannnya muncul ke permukaan. Membuatku menjadi salah tingkah. Dia tertawa sepertinya dia tak kalah bahagia.
"Selamat hari jadi, kau tahu ? Kau bahkan lebih hangat dari mentari saat kau betah melewati hari-hari bersama ku, gadis cengeng yang beruntung memiliki mu."
Pandu hanya tersenyum, tangannya mengusap kepalaku pelan. Kemudian dia membawaku ke dalam pelukannya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Mataku menutup menikmati wangi Pandu dan kenangan ini.


Komentar
Posting Komentar