Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Pandu dan Rindu [teman macam apa ?]

Tak ada satu nama pun di kepalaku, aku juga tak mau menduga-duga. "Siapa ?" Aku menyerah, rasa penasaran membuatku memberanikan diri bertanya. "Pandu..." bang Adam menatapku jeli. Ribuan pertanyaan menyerang bersamaan kupu-kupu yang menggelitik perutku. "Ohhh..." hanya itu yang mampu keluar dari bibirku. "Cuma oh doang ? Kasian tahu dia udah nunggu kamu satu jam dek." Bang Adam mulai nyolot. Bolehkah aku besar kepala ? Tapi kejadian di toilet tadi membuatku mendesah kecewa. "Terus ?" "Ya dia tanya kamu perginya sama siapa ? Abang jawab sama temen mu tadi. Dia pamit, wajahnya murung gitu dek." "Ohhh gitu." Aku mencoba untuk tetap cuek. "Abang jadi bingung sama kamu dek. Pacar kamu itu yang mana sih ?" Aku berlalu menuju kamarku dengan sedikit teriak "dua-duanya bang. Gak kaya abang satu aja gak punya. Hahahahaha" "Awas kau ya dek !!!!" Maki bang Adam. Tawaku ter...

Pandu dan Rindu [penghianat]

Membasuh wajahku dengan air adalah tindakan yang tepat saat ini. Aku meringis melihat diriku sendiri. Cengeng kali kamu sa ! Aku memukul dadaku berulang kali mencoba menghancurkan batu besar yang membuat sesak. Kepalaku tertunduk, mataku terpejam. Hatiku kembali bergejolak saat mendengar dua orang masuk sambil mengobrol seru "kayanya si Tata bakalan balikan deh sama Pandu." Kata si rambut sebahu. "Iya, kamu liat aja tadi dia berangkat bareng sama Pandu." Jawab temannya. Tanganku mengepal kuat. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya aku menguatkan diri keluar dari toilet. ************* Kakiku membawaku ke stand penjual coklat di depan gerbang. Aku tersenyum lalu memesan satu coklat hangat. Aroma coklat membuai membuat ku terpejam menikmati. Aku melihat miris ke arah gelas cup yang tersaji di depanku. Taburan kejunya membuatku bergidik. Ngeri kali ! Aku meminumnya perlahan, rasa keju memenuhi mulutku, rasa mual mulai menyapaku, tapi aku terus meminumnya. Aku b...

Pandu dan Rindu [tak sekuat macan]

Gambar
Hanya butuh 15 menit bagi Pandu untuk menyelesaikan soal matematika. Aku dan Pandu berjalan beriringan keluar dari perpus. Rizal menghampiri ku dengan kaos olahraga. "Sa, ini undangan dari SMA Garuda. Nanti malem dateng ya. Kita dapet penghargaan soalnya." Kata Rizal ramah. "Iya nanti aku suruh bang Adam buat nganterin." Aku tersenyum kecil. Dalam hati aku berharap Pandu mengajak ku untuk berangkat dengannya tapi nyatanya sampai di depan kelas dia hanya membisu. ************* "Gila kamu Sa ! Bisa-bisanya juara kelas gak ngerjain PR !" Wulan langsung menyerangku. "Aku lupa sumpah !" "Tumben kamu lagi ada masalah ?" Tanya Bella. Aku hanya mengangguk. Wulan memandangku penuh curiga. "Masalah sama Kak Pandu ?" Tanya Wulan. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kamu jangan mau ngorbanin tugas kamu cuma buat hal yang gak pasti kaya cinta Sa !" Imbuh Wulan. Hatiku terasa perih, cinta itu gak pas...

Pandu dan Rindu [senggol nyolot]

Tadinya ku pikir akan terjadi perebutan sengit sampai adu hantam tapi ternyata itu hanya imajinasiku semata. Saat lampu berwarna hijau, Pandu langsung menarik gasnya. Dia juga menggeber motornya berulang kali. Suaranya benar-bebar membuatku semakin merasa bersalah. Oh Tuhan, cewek macam apa aku ini. Selama sisa perjalanan aku hanya meratapi nasibku. Sungguh pilu. Punggung Rangga terlihat seperti samsak tinju. Membuat tanganku gatal, tapi sayang aku tak pernah berlatih tinju. Kali ini Rangga aman. Pundaknya bergetar berkali-kali, sepertinya dia tengah tertawa. Apanya yang lucu coba ? "Makasih ya...udah sana pulang." Serangku saat motor Rangga berhenti di depan rumah. "Yeeee...gak disuruh masuk dulu nih ?" Kata Rangga nadanya terdengar jahil. "Enggak usah !" Aku berkata sambil berlalu. ************ Pukul sebelas malam tapi ponselku tak juga berdering. Mataku enggan memejam sedikit pun. Gelisah itu yang aku rasakan saat ini. Dengan ragu-ragu ...

Pandu dan Rindu [genderang mau perang]

"Jadi kemarin gimana kencan sama kak Pandu ?" Tanya Bella penuh selidik. Aku menjelaskan dengan teliti tanpa ada yang aku kurangi. Sesekali Bella memukul lenganku pelan atau Wulan bersahut "cieee..." sedangkan aku hanya tertawa. Tawaku terus mengembang, sampai tak mendengar bunyi bel pulang sekolah. Pandu tak terlihat, ia bahkan tak tanggung jawab setelah membuatku tak bisa tidur semalam. Menyebalkan ! Seseorang memanggilku ketika aku, Bella dan Wulan berjalan ke parkiran. "Sa kamu dicariin, orangnya nunggu di depan gerbang." "Siapa ?" Tanya Wulan. Aku hanya mengangkat kedua bahu. "Kamu pulang duluan aja." ******************** Kepalaku menoleh ke kanan ke kiri mencari seseorang yang mencariku tapi terlalu banyak orang disini. Seseorang menepuk bahuku, membuatku menoleh mencari tahu siapa pelakunya. Mataku sedikit melebar saat beradu pandang dengannya. "Nih..." katanya sambil menyerahkan name tag bertuliskan n...

Pandu dan Rindu [negatif]

Gambar
Pandu membantuku melepas helm. Dari sini aku melihat bola mata berwarna hitam itu memandangku teduh. Bibirnya yang berwana merah muda itu menggugah selera. Apaan sih Sa ! Aku mengenyahkan pikiranku. Aku melebarkan mataku, kaget saat dihadapkan dengan puluhan anak tangga. Tangan Pandu mengajakku untuk menaiki tangga. Pandanganku menyebar mengamati sekeliling, cukup sepi. Napasku ngos-ngosan, aku menghentikan langkahku tepat di pertengahan. Sungguh ini melelahkan. Suara tawa Pandu terdengar meremehkan. Aku mendongak saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipiku. "Dasar lemah, nih minum..." kata Pandu menggodaku. "Makasih..." aku salah tingkah saat Pandu terus memandangku. Uhuuukkkk ! Sialan aku tersedak. Tawa Pandu semakin terdengar kencang. Tidaaakkkk !!! Double memalukan ! Sungguh menyebalkan !!!! "Cieee grogiiii...." senyum Pandu membuatku ingin memukul wajahnya. Sungguh dia benar-benar mengejekku. Aku tak menggubris ucapannya, kaki...

Pandu dan Rindu [Pagi bersama Pandu]

Gambar
Aku menetralkan detak jantungku "kenapa ?" Tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar. "Ada yang ketinggalan..." alisku menyatu memikirkan perkataan Pandu. "Apa ?" Tanyaku penasaran. "Hati akuuuu..." sialan ! Pandu memang selalu menggodaku. Dia tertawa terbahak-bahak.  "Hahahha tuh kan pipimu merah." Aku cemberut, malu teramat malu malah. Kedua tanganku menutupi wajahku, aku tertawa untuk menetralkan detak jantung yang semakin tak menentu. Pandu berhasil membuat wajahku semerah tomat.  "Besok minggu, jalan yukkk..." dia berkata disela-sela tawaku. Aku terdiam lalu menatap matanya. Tak ku temukan pandangan menggoda, Pandu serius kali ini. Dia mengajakku jalan, apa ?! Jalan ! Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Lalu kepalaku mengangguk dengan sadar.  "Jangan lupa pake celana." Kata Pandu. Aku mengangguk. "Pake rasa juga..." Pandu benar-benar tak membiarkan aku bernap...

Pandu dan Rindu [saat kantuk menyerang]

Aku keluar ruangan dengan hati yang berbunga-bunga. Rasanya benar-benar tak percaya. Kakiku melangkah ke ruangan matematika. Pandu tengah menulis banyak angka yang tak begitu ku mengerti, di sebelahnya ada cewek berseragam SMA Garuda. Pandu kembali ke samping Mona, disusul cewek yang tadi. Aku melihat jawaban Pandu (- 1) sedangkan yang satunya (1) hanya berbeda (-) / negatif saja. Aku tersenyum getir menyadari ini hanya masalah ketelitian. Tapi aku yakin Pandu sangat jeli. Rizal berdiri tepat di samping ku. Tapi aku tak menoleh sedikit pun. Fokusku hanya ada di depan. Juri berunding, membuat detak jantungku berdetak sangat cepat. Rasa yang tadi ku alami terulang kembali. "Jawaban yang benarrrr adaaaaalaahhhhhh (-1). Selamat untuk SMA Nusantara...." aku melompat sambil bertepuk tangan membuat Rizal melihat ke arah ku. Tapi aku tak peduli. Sungguh aku merasa menang padahal bukan aku yang bertanding. Semua juri dan peserta bersalaman, mataku melebar saat cewek beramb...

Pandu dan Rindu [di atas awan]

Gambar
Panitia memberikan waktu 30 menit untuk ISHOMA. Semua peserta kembali pada base camp masing-masing. Aku memilih mencari tempat yang sepi untuk menenangkan diri. Suara gemericik air dan ikan mas yang berenang kesana-kemari membuatku nyaman. Aku mengamati gerakannya, sudut bibirku melengkung sedikit. Menghela napas perlahan aku kembali membaca buku biologi. Fokusku tiba-tiba lenyap saat seseorang datang menatap. Mengambil tempat tepat di sebelahku. Tanganya menyerahkan es coklat padaku. "Makasih..." ucapku lirih. Aku mulai meminumnya, matanya masih mengawasi. Lalu Pandu berbisik di telingaku. Napas hangatnya menerpa pipi. "Tetaplah disisiku saat kau tahu betapa bodohnya aku di masa lalu. Sebab..." aku menoleh menatap kedua matanya "aku ingin belajar indahnya dunia bersamamu." Pandu tersenyum diakhir kalimat. Hatiku berdesir rasa hangat itu mulai menyerang bersamaan dengan rasa penasaran juga ketakutan. Masa lalu Pandu ? Aku ingin bertanya lebih b...

Pandu dan Rindu [pulpen yang mengenaskan]

Tak terasa sudah satu bulan aku berlatih biologi dengan kak Rizal. Tepat hari ini, perlombaan lomba cerdas cermat di SMA Garuda diadakan. Semua perwakilan dari sekolahku berangkat menggunakan mobil sekolah kecuali Pandu yang berangkat lebih dulu untuk mengurus pendaftaran ulang. Suasana di sma Garuda sangat ramai, penuh dengan siswa beraneka seragam. SMA Garuda memang sekolah favorit setelah sekolahku. Maka tak heran jika banyak peserta yang mengikuti lomba. Aku berjalan bersama rombongan. Ditempat pendaftaran Pandu tengah mengobrol asyik dengan seorang siswi tapi wajahnya asing. Kami pun berlalu mencari tempat duduk yang telah disediakan. Mataku masih setia memandang Pandu, entah sudah yang berapa kali Pandu tersenyum dengan siswi itu. Sepertinya siswi itu begitu ramah, atau mereka sudah kenal dekat. Entahlah aku tak mau tahu. Pandanganku menyebar melihat semakin banyak peserta yang datang. Tanganku semakin terasa dingin. Jantungku berdetak tak tenang, keringat sebesar biji ...

Pandu dan Rindu [ hamparan pasir ]

Gambar
"Rere..." tangannya terulur ke arahku. "Sasa..." jawabku sambil terseyum kecil. Dia menyisir poninya lalu memesan makanan. Mataku enggan melihat yang lain Rere begitu memikat, bibirnya merah muda, matanya bulat besar, suaranya mengalun merdu. "Kamu kelas berapa ?" Katanya mengagetkanku. "Baru kelas satu kok, kalo kamu ?"  "Sama, tapi aku di SMA Garuda." Jawabnya sambil meminum es jeruk milik Rizal. "Kenal Bagas ?" Lanjutnya pelan. Rizal hanya diam tak ikut dalam percakapan ini, tangannya sibuk bermain ponsel. "Bagas Ardi ? Satu kelas malah." Aku mulai penasaran. "Oh gitu...salam ya buat dia. Hehehe." "Apaan sih dek !" Rizal membuka suaranya. Pandangannya terlihat kesal. Rere hanya cengengesan gak jelas. Tangannya membenarkan poninya lagi. Aku merasa bingung, kenapa Rere malah bertanya tentang Bagas ? Kenapa gak tanya tentang Pandu ? "Kalo sama k...

Pandu dan Rindu [ kembali bertemu ]

Pandu menyerahkan jaketnya padaku. Aku memandang penuh kebingungan. Mataku berbicara, untuk apa ? "Dipake pas pulang, biar anget hehhee." Katanya sambil berlalu. ********************* "Sa kamu jadi latihan sama kak Rizal ?" Tanya Wulan ketika pelajaran usai. "Iya, kamu pulang duluan aja." "Terus nanti kamu pulangnya gimana ?" Sela Bella. "Gampang, nanti aku ngangkot aja." Kataku singkat. Wulan dan Bella pergi ke parkiran sedangkan aku pergi ke kelas Rizal. Dengan langkah santai aku menuju ke kelasnya. Mataku mencari sesosok itu tapi tak ketemu. "Mau latihan dimana Sa ?" Tanya Rizal ketika melihatku di depan pintu. "Di perpus yuk..." Rizal mengangguk, kakinya melangkah menuju perpus. ********************* "Duduk disana dulu, aku mau ambil buku bentar." Perintah Rizal sambil menunjuk bangku di sudut ruangan. Aku membuka buku paket biologi yang cukup besar, mengeluarkan pensil kemudian...

Pandu dan Rindu [ pertumbuhan dan perkembangan ]

Gambar
Seseorang itu menghentikan motornya, kemudian melepas helmnya. Gerakannya seperti slow motion yang membuatku gregetan. Senyum Bagas muncul ke permukaan. Oh ya ! Aku lupa Bagas adalah salah satu pecinta motor ber cc besar. Satu tangannya memegang paper bag. Dengan terseyum Bagas berjalan ke arah ku dan Pandu. Sudut mataku melirik ke arah Pandu, dia terlihat kesal. "Mau ngapain kesini ?" Pandu bertanya dengan nada sarkas. "Cuma mau ngembaliin jaketnya Sasa kak." Bagas menyerahkan paper bag padaku. "Oh iya tadi ketinggalan di kelas. Makasih ya Bagas." Aku tersenyum diakhir kalimat. "Iya sama-sama..." Bagas melihat ke arah Pandu. "Ya udah kalo gitu aku pulang ya Sa." Aku mengangguk. Motor Bagas mulai meninggalkan halaman rumah. Pandu masih diam. Dia terlihat tak suka dengan kedatangan Bagas. "Bagas sering dateng kesini ?" Tanya Pandu. Matanya melihat ke arah ku tajam. "Baru dua kali..." "Kamu suk...