Pandu dan Rindu [senggol nyolot]
Tadinya ku pikir akan terjadi perebutan sengit sampai adu hantam tapi ternyata itu hanya imajinasiku semata.
Saat lampu berwarna hijau, Pandu langsung menarik gasnya. Dia juga menggeber motornya berulang kali. Suaranya benar-bebar membuatku semakin merasa bersalah. Oh Tuhan, cewek macam apa aku ini. Selama sisa perjalanan aku hanya meratapi nasibku. Sungguh pilu.
Punggung Rangga terlihat seperti samsak tinju. Membuat tanganku gatal, tapi sayang aku tak pernah berlatih tinju. Kali ini Rangga aman. Pundaknya bergetar berkali-kali, sepertinya dia tengah tertawa. Apanya yang lucu coba ?
"Makasih ya...udah sana pulang." Serangku saat motor Rangga berhenti di depan rumah.
"Yeeee...gak disuruh masuk dulu nih ?" Kata Rangga nadanya terdengar jahil.
"Enggak usah !" Aku berkata sambil berlalu.
************
Pukul sebelas malam tapi ponselku tak juga berdering. Mataku enggan memejam sedikit pun. Gelisah itu yang aku rasakan saat ini.
Dengan ragu-ragu aku memberanikan diri menelfon seseorang.
"Halooo..." katanya cepat.
"Halooo hehehhehe..." aku hanya terkekeh geli, jantungku kembali berdetak sangat cepat tapi kali ini aku senang. Rasa lega juga menyelimuti perasaanku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Hehehheeh..." hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Kenapa sih ?" Ulangnya.
"Hehehehhehee...." lagi-lagi hanya suara tawa yang mampu keluar.
"Gak bisa tidur ? Masih kepikiran ?" Aku menghela napas saat dia melontarkan pertanyaan yang ku tunggu-tunggu.
Aku mengangguk cepat lalu tanganku memukul kepalaku sedikit keras. Pandu gak liat kamu Sa !
"Iya hehehhe." Entah kenapa aku selalu ingin tertawa malam ini.
"Sama..." terdengar Pandu menghela napas kasar.
Seketika kamarku menjadi hening, hanya terdengar suara jarum jam. Aku merasa bersalah tapi untuk apa ? Sedangkan Pandu ? Aku tak tahu apa yang ia rasakan ? Ingin bertanya tapi aku takut. Ah sungguh menyebalkan !
"Tidur Sa. Udah malem." Kata Pandu memecah keheningan.
Aku menghela napas kasar. "Eh jangan..." duh mulutku ini ya !
Terdengar suara tawa Pandu dari seberang. Aku tertular tawanya, kali ini aku beruntung.
"Udah malem, tidur gih !" Pandu kembali mengingatkan.
"Iya aku tutup ya..." kataku sedikit tak rela.
"Eh kamu aja lah." Lanjutku.
"Iya..." sahut Pandu.
"Tunggu...aku aja lah hheheee." Hanya ini yang muncul dibenakku untuk sedikit berlama-lama dengan Pandu.
"Iya...aku tutup ya."
Aku menghembuskan napas kasar, lalu membanting ponselku ke kasur. Malam ini aku terlelap dengan rasa bersalah yang luar biasa, aku menyesali ajakan Rangga. Andai tadi aku menolaknya pasti tak kan seperti ini. Andai tadi aku....ah ! Semua rasa sesalku menguap bersamaan mataku yang menutup sebab semakin berat.
****************
Aku terpaksa naik angkot pagi ini. Sial ! Aku lupa mengerjakan PR. Perihal Pandu ternyata membuatku lupa akan tugasku sebagai pelajar !
Memilih bangku belakang didekat kaca, aku mulai menyibukkan diri dengan Matematika. Jumlah soalnya hanya 5 tapi total anak dan cucunya 20 menyebalkan sekali !
*****************
Dengan langkah terburu-buru aku memasuki area sekolah.
Aku tak terlalu memerhatikan langkah kakiku. Sampai akhirnya aku sedikit limbung saat menabrak seseorang.
"Kalo jalan pake mata dong !" Serangnya.
Mona si ulat bulu. Cih ! Ketua OSIS macam apa ini. "Maaf tapi jalan itu pake kaki mbak !" Kataku sambil berlalu. Aku dalam mode senggol nyolot kali ini.
Aku merapalkan do'a dalam hati tapi sepertinya malaikat tak mendegar do'aku pagi ini.
"Maaf bu saya terlambat...." kataku setelah mengetuk pintu.
"Silahkan masuk."
"Terima kasih bu." Aku menghela napas lega sambil berjalan ke arah bangku.
Langkah ku terhenti saat bu Zaskia mengatakan "Sa, ibu mau lihat PR kamu."
Semua melihat ke arah ku, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.
"Keluar ! Silahkan kerjakan PR mu di perpus." Bentak bu Zaskia.
Aku menunduk "baik bu..."
Kacau ! Benar-benar kacau hari ini !
****************
Aku duduk di ujung lalu mulai mengerjakan. Entah dari mana Mona berjalan melewati ku, sekalipun lirih tapi aku mendengar sindirannya "juara lomba cerdas cermat kok gak ngerjain PR"
Tanganku memukul meja menimbulkan suara yang cukup mengangetkan.
"Jangan berisik ini perpus !!!" Taringku sudah keluar kali ini. Sungguh aku benar-benar kesal.
Mona langsung keluar dari perpus, sepertinya dia takut. Aku mengepalkan tanganku saat mendengar seseorang menarik bangku di sebelahku. "Cari bangku lain aja !" Kataku sedikit keras.
"Gak mau !" Aku menoleh mengenali suara itu.
Senyum Pandu menyambutku, wangi Pandu mulai membuatku tenang. Aku tersenyum kikuk.
"Galak amat bu." Pandu terkekeh.
Aku hanya tersenyum merasa gagal menjadi wanita yang anggun.
"Ngapain disini ?" Tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Mau bantuin kamu lah." Sahutnya.
"Lah ? Gak pelajaran emang ?"
"Pelajaran olahraga."
"Terus kenapa malah mau bantuin ?" Tanyaku kepo.
"Aku bilang ke pak Seno lagi pusing."
"Pusing kok malah kesini sih ?" Kataku penuh selidik.
"Kan lagi pusing."
"Dasar aneh !" Kepalaku menggeleng berulang kali.
Tangan Pandu merebut paksa buku dan pensilku. Wajahnya terlihat serius saat mengerjakan. Sesekali dia mengacak rambutnya. Berantakan tapi Pandu malah terlihat semakin tampan.
Kali ini malaikat sangat baik padaku. Dia mendengar lebih dari apa yang aku minta. Tuhan juga maha baik pagi ini, mengabulkan keinginanku bahkan tanpa aku minta sedikitpun.
Saat lampu berwarna hijau, Pandu langsung menarik gasnya. Dia juga menggeber motornya berulang kali. Suaranya benar-bebar membuatku semakin merasa bersalah. Oh Tuhan, cewek macam apa aku ini. Selama sisa perjalanan aku hanya meratapi nasibku. Sungguh pilu.
Punggung Rangga terlihat seperti samsak tinju. Membuat tanganku gatal, tapi sayang aku tak pernah berlatih tinju. Kali ini Rangga aman. Pundaknya bergetar berkali-kali, sepertinya dia tengah tertawa. Apanya yang lucu coba ?
"Makasih ya...udah sana pulang." Serangku saat motor Rangga berhenti di depan rumah.
"Yeeee...gak disuruh masuk dulu nih ?" Kata Rangga nadanya terdengar jahil.
"Enggak usah !" Aku berkata sambil berlalu.
************
Pukul sebelas malam tapi ponselku tak juga berdering. Mataku enggan memejam sedikit pun. Gelisah itu yang aku rasakan saat ini.
Dengan ragu-ragu aku memberanikan diri menelfon seseorang.
"Halooo..." katanya cepat.
"Halooo hehehhehe..." aku hanya terkekeh geli, jantungku kembali berdetak sangat cepat tapi kali ini aku senang. Rasa lega juga menyelimuti perasaanku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Hehehheeh..." hanya itu yang keluar dari mulutku.
"Kenapa sih ?" Ulangnya.
"Hehehehhehee...." lagi-lagi hanya suara tawa yang mampu keluar.
"Gak bisa tidur ? Masih kepikiran ?" Aku menghela napas saat dia melontarkan pertanyaan yang ku tunggu-tunggu.
Aku mengangguk cepat lalu tanganku memukul kepalaku sedikit keras. Pandu gak liat kamu Sa !
"Iya hehehhe." Entah kenapa aku selalu ingin tertawa malam ini.
"Sama..." terdengar Pandu menghela napas kasar.
Seketika kamarku menjadi hening, hanya terdengar suara jarum jam. Aku merasa bersalah tapi untuk apa ? Sedangkan Pandu ? Aku tak tahu apa yang ia rasakan ? Ingin bertanya tapi aku takut. Ah sungguh menyebalkan !
"Tidur Sa. Udah malem." Kata Pandu memecah keheningan.
Aku menghela napas kasar. "Eh jangan..." duh mulutku ini ya !
Terdengar suara tawa Pandu dari seberang. Aku tertular tawanya, kali ini aku beruntung.
"Udah malem, tidur gih !" Pandu kembali mengingatkan.
"Iya aku tutup ya..." kataku sedikit tak rela.
"Eh kamu aja lah." Lanjutku.
"Iya..." sahut Pandu.
"Tunggu...aku aja lah hheheee." Hanya ini yang muncul dibenakku untuk sedikit berlama-lama dengan Pandu.
"Iya...aku tutup ya."
Aku menghembuskan napas kasar, lalu membanting ponselku ke kasur. Malam ini aku terlelap dengan rasa bersalah yang luar biasa, aku menyesali ajakan Rangga. Andai tadi aku menolaknya pasti tak kan seperti ini. Andai tadi aku....ah ! Semua rasa sesalku menguap bersamaan mataku yang menutup sebab semakin berat.
****************
Aku terpaksa naik angkot pagi ini. Sial ! Aku lupa mengerjakan PR. Perihal Pandu ternyata membuatku lupa akan tugasku sebagai pelajar !
Memilih bangku belakang didekat kaca, aku mulai menyibukkan diri dengan Matematika. Jumlah soalnya hanya 5 tapi total anak dan cucunya 20 menyebalkan sekali !
*****************
Dengan langkah terburu-buru aku memasuki area sekolah.
Aku tak terlalu memerhatikan langkah kakiku. Sampai akhirnya aku sedikit limbung saat menabrak seseorang.
"Kalo jalan pake mata dong !" Serangnya.
Mona si ulat bulu. Cih ! Ketua OSIS macam apa ini. "Maaf tapi jalan itu pake kaki mbak !" Kataku sambil berlalu. Aku dalam mode senggol nyolot kali ini.
Aku merapalkan do'a dalam hati tapi sepertinya malaikat tak mendegar do'aku pagi ini.
"Maaf bu saya terlambat...." kataku setelah mengetuk pintu.
"Silahkan masuk."
"Terima kasih bu." Aku menghela napas lega sambil berjalan ke arah bangku.
Langkah ku terhenti saat bu Zaskia mengatakan "Sa, ibu mau lihat PR kamu."
Semua melihat ke arah ku, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat.
"Keluar ! Silahkan kerjakan PR mu di perpus." Bentak bu Zaskia.
Aku menunduk "baik bu..."
Kacau ! Benar-benar kacau hari ini !
****************
Aku duduk di ujung lalu mulai mengerjakan. Entah dari mana Mona berjalan melewati ku, sekalipun lirih tapi aku mendengar sindirannya "juara lomba cerdas cermat kok gak ngerjain PR"
Tanganku memukul meja menimbulkan suara yang cukup mengangetkan.
"Jangan berisik ini perpus !!!" Taringku sudah keluar kali ini. Sungguh aku benar-benar kesal.
Mona langsung keluar dari perpus, sepertinya dia takut. Aku mengepalkan tanganku saat mendengar seseorang menarik bangku di sebelahku. "Cari bangku lain aja !" Kataku sedikit keras.
"Gak mau !" Aku menoleh mengenali suara itu.
Senyum Pandu menyambutku, wangi Pandu mulai membuatku tenang. Aku tersenyum kikuk.
"Galak amat bu." Pandu terkekeh.
Aku hanya tersenyum merasa gagal menjadi wanita yang anggun.
"Ngapain disini ?" Tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Mau bantuin kamu lah." Sahutnya.
"Lah ? Gak pelajaran emang ?"
"Pelajaran olahraga."
"Terus kenapa malah mau bantuin ?" Tanyaku kepo.
"Aku bilang ke pak Seno lagi pusing."
"Pusing kok malah kesini sih ?" Kataku penuh selidik.
"Kan lagi pusing."
"Dasar aneh !" Kepalaku menggeleng berulang kali.
Tangan Pandu merebut paksa buku dan pensilku. Wajahnya terlihat serius saat mengerjakan. Sesekali dia mengacak rambutnya. Berantakan tapi Pandu malah terlihat semakin tampan.
Kali ini malaikat sangat baik padaku. Dia mendengar lebih dari apa yang aku minta. Tuhan juga maha baik pagi ini, mengabulkan keinginanku bahkan tanpa aku minta sedikitpun.
Komentar
Posting Komentar