Postingan

SM - 08

Senja mendengus sebal, ternyata di dunia ini masih ada cowok tampan yang menyebalkan. Gadis itu memang tidak memungkiri pesona  cowok yang di depannya ini. Rambut hitam legam, mata coklat muda, alis tebal, bibir merah, kumis tipis, hidungnya mancung. Dadanya lebar, dan juga tinggi Senja tahu saat berjalan di belakangnya tadi ia hanya sebatas dada saja. Tapi semua itu seakan sirna dengan sikap yang ia tunjukkan. Sekali lagi gadis yang memiliki rambut sebahu itu mengerucutkan bibirnya. Tanpa ia sadari hal yang barusan dilakukan membuat seseorang di depannya gemas. Dengan patuh tangan mungil itu bergerak mengambil dompet di dalam tasnya. Lalu dengan sedikit menggebrak meja, Senja meletakkan kartu tanda pelajarnya di hadapan lelaki yang masih menatapnya curiga. Tangan berotot itu mengambil kartu, matanya mendelik kaget kala melihat. "Senja Mahasesswara."  Ia mengucap pelan. Nama yang bagus batinnya, shit baru 15 tahun. "Elo sekolah di SMA sa...

SM - 07

Pernahkan kalian mendengar jika seseorang bersedih sering melakukan hal-hal di luar kebiasaan? Kalaupun belum pernah mendengar, Senja akan memberikan jawaban. Gadis yang terkenal dengan sebutan kalem dalam artian setiap pulang sekolah jika tidak ada kegiatan akan langsung ke rumah. Tapi hari ini ia menjadi bukti dari kalimat pembuka. Senja si gadis kalem tidak langsung pulang ke rumah. Ia membawa motornya melaju ke sebuah pantai, tenang saja ia masih cukup waras untuk berpikir mengenai bunuh diri. Untuk pertama kalinya ia memutuskan memakai motor ke sekolah, dari dulu gadis itu selalu ragu untuk berangkat dengan motornya sendiri. Alasannya cuma satu, takut gak bisa keluar kalo parkiran penuh. Namanya juga cewek ya lemah lembut. Tapi kalo Senja cuma lemah aja gak pake lembut. Tapi karena masalah yang dihadapi cukup pelik Senja bertingkah cukup heroik untuk dirinya sendiri. Membawa motor sendiri untuk melarikan diri sejenak, sedikit beranjak dari masalah yang ia duga akan bera...

SM - 06

Sudah terlalu malam untuk memulai tidur tapi tidak untuk memulai sebuah pertengkaran. Sepasang kelopak mata itu mulai terbuka perlahan, bola matanya bergerak kesana kemari, ia membuka telinga lebar-lebar guna memastikan apakah benar dua orang yang terlibat pertengkaran itu orang tuanya sendiri. Gadis yang memakai baju tidur motif beruang itu turun dari ranjang, membuka pintu sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara yang membuat dua orang di luar sana curiga. Kedua bola hitam pekat itu melebar sempurna, melihat seseorang berpakaian daster tertunduk lemas tak berdaya di sofa, tangannya sibuk menyeka pipi, dihadapannya seseorang tengah berjongkok, kepalanya tergeletak pasrah di pangkuan wanita itu. Hening, hanya suara jarum jam yang terdengar saat ini. "Kalo itu yang kamu mau, besok aku akan pergi ke pengadilan buat ngurus semuanya." Senja menahan isak tangisnya saat mendengar suara papanya. Ia menepuk keras bagian dada. Sungguh gadis itu hanya ingin udara. Pint...

SM - 05

Gambar
Sedari tadi pemilik mata hitam pekat dan rambut melewati bahu itu terus mengembangkan senyum. Bahkan orang-orang yang melihatnya sampai bingung dibuatnya. Mungkin juga mereka berpikiran bahwa Senja belum meminum obatnya, kepala kebentur lalu gagar otak atau bisa jadi Senja dapet warisan yang gak bakalan habis tujuh turunan. Nyatanya dugaan mereka semua keliru. Senja hanya merasa jatuh cinta. Dan beruntung karena tadi pagi ia berangkat sekolah bersama Adam- pujangga pertama. "Hah?! Kok bisa?!" Rani sedikit teriak pada Senja setelah ia selesai bercerita. "Tadi tu angkotnya lama, terus aku berdiri di jalan nunggu si Alang tapi malah kak Adam nawarin boncengan. Ya udah jadi bareng deh..." Jawab Senja masih dengan tersenyum. "Serius?! Jangan-jangan dia emang ada rasa sama kamu..." "Jangan ngasih harapanlah! Ntar aku jadi baper hahah." "Lah emang kamu udah baperkan!" "Emang keliatan ya? Hahahah." Senja menjawab sambil ...

SM - 04

Gambar
Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah hari dimana seorang siswa harus piket kelas. Dan hari ini, Senja sedang merasakan hal itu. Dimana ia harus bangun pagi, berangkat lebih awal, menyapu kelas, membersihkan papan tulis, menyiram bunga di taman depan kelas. Mungkin semuanya akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan yang lain. Tapi masalahnya, hari ini Nita teman piket Senja tidak berangkat karena sakit. Dengan setengah hati Senja melakukan tugasnya sendiri. Ketika bel masuk berbunyi bu Shinta guru sejarah meminta Senja untuk pergi ke perpus mengambil buku paket. ***** Senja berjalan ke perpustakaan dengan kaki yang terkesan diseret-seret. Terlihat jelas kalau Ia benar-benar lelah. Padahal ia hanya mengerjakan hal-hal yang sederhana. Tapi banyak, dan sialnya dia belum sarapan pagi ini. "Bu mau pinjem buku paket sejarah kelas X" kata Senja ramah. "Oh ambil sendiri ya mbak, di rak nomor empat paling kanan." Senja hanya mengangguk, la...

SM - 03

Gambar
____________________________ Senja menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Turun!" perintah Alang dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya. "Gak mau..." Senja berkata lirih. "Terus mau kamu tu apa?" "Mau minta maaf aja. Hehhe." Senja tertawa renyah. "Apa?!" Alang sama sekali tidak menurunkan nada suaranya. "Senja mau minta maaf sama Alang." Kali ini mata Senja membulat sempurna, mencoba membuat Alang iba. "Ok ok gue nyerah..." terdengar nada putus asa dari seorang Alang. "Heheehehhe..." jawab Senja sederhana. ***** "Ran, kamu jadi ikut ekstra pencinta alam?" Senja bertanya pada Rani ketika bel pulang berbunyi. "Jadi sore ini kumpul, tapi mau ngerjain tugas kelompok dulu sama Tika." Jawab Rani sembari memasukkan buku ke dalam tas. "Oh, kok bisa ya kamu sama Tika?"  "Kan namanya Atika, kamu juga sama si Alang." "I...

SM - 02

Gambar
Hallooo semuanya...perkenalkan foto di atas adalah Senja. Lucu ya, gemessss gak sih? Hehheeh Sabar ya di bab-bab awal emang dibikin santai. Gak ada hal-hal romantis yang bikin senyum-senyum kaya cerita Mas Pandu. Masih tetep penasarankan Atau malah jadi bosen? Jangan bosen dulu ya. Hehehheee. ____________________________________ Satu minggu berlalu, setelah kejadian itu. Tak ada yang istimewa lagi antara Senja dan Adam. Sesekali memang Senja melihat Adam keluar dari kelasnya, ternyata ia kelas XII IPS 1. Atau ketika Adam jajan di kantin dengan temen-temennya, di depan ruang guru, di perpus, di lapang basket. Namun siang ini, sang waktu sedikit berbaik hati pada Senja. Ia bisa memandang Adam sedikit lebih lama dari biasanya. Sekalipun curi-curi pandang, hal itu cukup membuat Senja merasa senang. Ya hari ini tepatnya hari Senin. Senja bertemu dengan Adam di kantin. Ia tengah makan mie ayam dengan teman-temannya. Dengan es jeruk di sebelah mangkok yang berisi setengah...