SM - 08
Senja mendengus sebal, ternyata di dunia ini masih ada cowok tampan yang menyebalkan.
Gadis itu memang tidak memungkiri pesona
cowok yang di depannya ini. Rambut hitam legam, mata coklat muda, alis tebal, bibir merah, kumis tipis, hidungnya mancung. Dadanya lebar, dan juga tinggi Senja tahu saat berjalan di belakangnya tadi ia hanya sebatas dada saja.
Tapi semua itu seakan sirna dengan sikap yang ia tunjukkan.
Sekali lagi gadis yang memiliki rambut sebahu itu mengerucutkan bibirnya. Tanpa ia sadari hal yang barusan dilakukan membuat seseorang di depannya gemas.
Dengan patuh tangan mungil itu bergerak mengambil dompet di dalam tasnya. Lalu dengan sedikit menggebrak meja, Senja meletakkan kartu tanda pelajarnya di hadapan lelaki yang masih menatapnya curiga.
Tangan berotot itu mengambil kartu, matanya mendelik kaget kala melihat.
"Senja Mahasesswara." Ia mengucap pelan.
Nama yang bagus batinnya, shit baru 15 tahun.
"Elo sekolah di SMA satu?"
"Iya kak..."
"Bumi...."
Senja hanya mengangguk, ia enggan melanjutkan percakapan kala melihat mangkok soto dengan asap mengepul di udara.
Ia mengucapkan terima kasih setelah pelayan meletakkan pesanannya di meja.
Kedua tangan gadis dengan rambut sebahu itu terulur mengambil teh hangat, ia meniupnya pelan. Kemudian menyeruput dengan mata terpejam. Kehangatan itu merambat ke perut dan juga tangan.
Dengan gerakan luwes ia kembali meletakkan gelasnya. Kemudian Senja beralih pada mangkok soto, menyendok kuah soto lalu kembali menyeruput pelan. Jemari mungil itu menambahkan 2 sendok sambal, dan kecap.
Senja begitu menikmati makan malamnya sedangkan lelaki di depannya yang bernama Bumi itu juga menikmati. Bukan menikmati makan malam karna ia tidak memesan apapun, lelaki itu menikmati gadisnya. Hello gadisnya?
Ya, lelaki berkumis tipis itu terpesona saat pertama kali beradu pandang dengan mata hitam pekat milik Senja.
Ponsel disebelah gadis itu berkedip, tapi pemiliknya tengah asyik menikmati kuah soto. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali. Dan Senja sama sekali tidak peduli dengan benda pintar berbentuk persegi panjang tersebut.
Bumi menggeser tombol hijau tepat pada panggilan kelima.
"Haloooo..." Jawabnya setelah membaca nama Mama pada layar.
"........."
"Iya tante, Senja masih di toilet."
Merasa namanya dipanggil, Senja mengalihkan pandangannya dari mangkok ke arah Bumi. Ia mendelik tajam kala melihat ponselnya terletak di telinga lelaki tampan tersebut.
"......."
"Iya udah selesai kok tante."
Lancang! Balikin cepet! Kata Senja lirih.
Bumi menggeleng sebagai jawaban.
"......"
"Iya nanti saya anterin kok tante, tante tenang aja."
"....."
"Oke sama-sama tante."
Bumi menyerahkan benda canggih itu ketika panggilan sudah selesai.
"Udah selesai makannya?"
Senja semakin kesal ketika mendengar perkataan Bumi. Bukannya minta maaf malah mengatakan itu tanpa dosa. Dasar cowok gak tau diri! Senja mengumpat berkali-kali dalam hati.
"Hmmmm."
"Mau pulang sekarang?" Tanya Bumi
Gadis yang semula menikmati makan malamnya itu berubah menjadi pendiam, moodnya hancur sudah.
Tangan mungil itu bergerak gesit mengemasi barang-barangnya. Sedangkan lelaki yang sudah bersikap seenaknya itu berjalan menuju kasir untuk membayar.
Senja ingin marah tapi ia merasa tak ada kata-kata yang cocok untuk lelaki yang baru pertama kali ia temui ini.
Gadis yang masih memakai seragam sekolah itu berjalan tak santai menuju motornya, memakai helm secepat mungkin. Lalu ia naik ke motor maticnya. Ketika ia hendak memundurkan motornya seseorang tiba-tiba duduk diboncengan belakang.
Mata hitam pekat itu bersibobrok dengan manik coklat muda milik Bumi.
Gila! Mau apalagi sih cowok ini?!
"Turun! Mau ngapain sih!"
"Mau nganterin elo lah, kan tadi gue udah janji sama mama."
"Mama? Itu mamaku bukan mamamu taukkk!"
Bumi hanya membalas dengan cengiran lebar.
"Tunggu gue ambil helm dulu, boncengan aja ini malem jum'at."
"Terus kenapa kalo malem jum'at?"
"Dari pada elo boncengin setan, mending boncengin gue lah." Lelaki tampan itu kemudian tertawa kencang.
Lima menit kemudian Bumi kembali dengan helm yang menutupi wajah tampannya. Ia menggeser pemilik motor matic untuk duduk dibelakang.
"Bar-bar banget sih, kalo kita boncengan motormu gimana? Udahlah gak usah sok baik gini! Pulang sendiri juga berani kok baru jam 10 ini!" Bentak Senja pada lelaki yang kini sudah melajukan motornya.
"Ntar ketauan bo'ong sama mama lo."
"Bodo! Yang bo'ong kan kamu bukan aku!" Eyel gadis yang memiliki bibir kecil nan tipis.
"Diem! Atau gue turunin disini!" Bumi meninggikan suaranya.
Hilang sudah kesabaran lelaki yang malam ini memakai jaket jeans, tadinya ia ingin mengantar Senja dengan mengendarai motornya sendiri, namun ia urungkan mengingat alamat rumah yang tertera di kartu pelajar gadis berusia 15 tahun ini lumayan jauh dari alun-alun kota, sayangnya Senja malah bersikap menyebalkan alih-alih berterima kasih.
Sepanjang perjalanan Senja akhirnya memilih diam. Ia takut lelaki di depannya ini nekat menurunkannya di tengah jalan.
Pada lampu merah pertama, akhirnya Bumi memecah keheningan.
"Benerkan jalannya?"
Hening, tidak ada jawaban. Namun lelaki dengan alis tebal itu merasakan sebuah anggukan di punggungnya.
Lelaki itu melirik kaca spion, kemudian tersenyum miring.
Setelah 10 menit membelah jalanan yang cukup sepi, Bumi menepikan motor. Tangan berototnya mengambil kedua tangan yang berbalut sweater berwarna putih, lalu melingkarkan pada perutnya.
Ya, gadis yang baru saja berdebat dengannya itu tertidur. Ia merogoh ponsel dari saku depan celananya. Memotret tanpa flash agar tidur gadis pemilik pipi tembem itu tidak terganggu.
Matanya beralih pada tangan Senja yang berada di perutnya. Lalu kembali mengabadikan dalam bidikan kamera.
Setelah puas Bumi kembali melajukan motor matic tersebut. Penumpang dibelakangnya bergerak gelisah, menimbulkan detak jantung yang tak beraturan bagi lelaki yang berubah jadi pahlawan baik hati malam ini.
Lelaki itu tersenyum samar. Kala mendengar deru napas teratur dan merasa tak ada lagi pergerakan di belakangnya.
Tadi aja ngeyel sekarang malah ndusel-ndusel keenakan! Hahhaa Senja Senja.
Komentar
Posting Komentar