SM - 02





Hallooo semuanya...perkenalkan foto di atas adalah Senja. Lucu ya, gemessss gak sih? Hehheeh

Sabar ya di bab-bab awal emang dibikin santai. Gak ada hal-hal romantis yang bikin senyum-senyum kaya cerita Mas Pandu. Masih tetep penasarankan Atau malah jadi bosen? Jangan bosen dulu ya. Hehehheee.

____________________________________

Satu minggu berlalu, setelah kejadian itu. Tak ada yang istimewa lagi antara Senja dan Adam.

Sesekali memang Senja melihat Adam keluar dari kelasnya, ternyata ia kelas XII IPS 1. Atau ketika Adam jajan di kantin dengan temen-temennya, di depan ruang guru, di perpus, di lapang basket.

Namun siang ini, sang waktu sedikit berbaik hati pada Senja.
Ia bisa memandang Adam sedikit lebih lama dari biasanya. Sekalipun curi-curi pandang, hal itu cukup membuat Senja merasa senang. Ya hari ini tepatnya hari Senin. Senja bertemu dengan Adam di kantin.

Ia tengah makan mie ayam dengan teman-temannya. Dengan es jeruk di sebelah mangkok yang berisi setengah mie dan sambal.

"Bu, Mie ayamnya 3, yang 1 tanpa sayur sama es jeruknya 3 ya bu."

"Oh ya mbak, silahkan ditunggu dulu." Kata bu Inah ramah.

Senja hanya tersenyum sebagai jawaban lalu ia duduk di bangku kosong sebelah kasir.

Adam datang dengan langkah perlahan, tatapan matanya  tajam. Senja merasa terhipnotis, masuk ke dalam pesona sang pujangga.

Saat Adam semakin dekat, detak jantung Senja menggila, sungguh luar biasa. Rasanya seperti melompat dari gedung yang paling tinggi di dunia.

"Heiii..." sapa Adam lirih. Seperti sebuah bisikan. Namun bagi Senja seolah-olah Adam tengah bernyanyi. Memberikan alunan yang berirama membelai telinganya mesra.

"Heii kak..." terdengar jelas suara Senja yang bergetar.

Adam mengeluarkan selembar uang, lalu memberikan ke kasir. Dengan hati-hati Senja menyimpan baik-baik bagaimana gerakan tangan Adam, garis wajah yang terlihat sedikit tirus dari samping, juga rambut yang sedikit kemerahan miliknya.

"Mbak, ini pesanannya..." sebuah suara menghentikan kegiatan Senja.

"Oh iya bu...makasih."

Gerakan tangan Senja yang membawa nampan berisi mie ayam, es jeruk dan pelengkapnya terhenti saat "bayarnya di kasir ya mbak."

"Ehhh, iya bu, maaf. Lupaa..."

Hari ini Senja menjadi manusia yang pandai mempermalukan diri sendiri, ia benar-benar salah tingkah. Tentu saja sang pujangga adalah penyebab utama.

Senja mengeluarkan uang dari dalam dompetnya "Ini bu uangnya." Diikuti senyum malu-malu.

Setelah urusan dengan ibu kasir selesai, Senja buru-buru mengambil nampan yang berisi pesanannya. Ia ingin segera meloloskan diri.

"Eh, ehhh tunggu...."

Langkah kaki Senja terhenti, ketika Adam seolah memanggilnya. Ia menoleh ke belakang. Untuk memastikan apakah benar Adam memanggilnya.

"Dompetmu ketinggalan..."

"Oh iya..." bodoh banget sih kamu, keliatan banget kalo salting duh!

Detik selanjutnya yang terjadi hanyalah kebingungan. Adam ingin mengembalikan dompet Senja, tapi kedua tangan Senja masih memegang nampan.

Baik Senja dan juga Adam hanya terdiam dan saling berpandangan. Dimata Adam terlihat sebuah kebingungan namun lain halnya dengan binar mata Senja. Ada semacam kekaguman yang besar disana.

"Sini aku bawain nampannya, kamu bawa dompetmu." Kata Adam memecah keheningan.

Senja menyerahkan nampanya, lalu tangannya mengambil dompet dari tangan Adam yang berada di bawah nampan. Ia seperti tersengat aliran listrik, saat tidak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan sang pujangga.

"Makasih kak, maaf ngerepotin."

"Iya sama-sama."

Mereka berdua berjalan depan-belakang menuju ke meja yang tengah ditunggu oleh Rani dan juga Alang.

Saat menuju kantin tadi, Alang pergi ke kantor guru terlebih dahulu untuk menyerahkan buku tugas kimia, sedangkan Rani bertugas mencari tempat duduk dan Senja yang memesan makanan.

Kegiatan Alang dan Rani yang tengah bercerita terhenti ketika Senja datang tak sendirian.

"Eh...kok ada kak Adam?" Tanya Rani.

"Iya tadi ketemu di dalem." Jawab Senja sederhana. Sebenarnya ia malu untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

Dengan gesit Adam meletakkan nampan di atas meja. Kemudian ia tersenyum "duluan ya..." katanya singkat.

"Iya kak...makasih."

"Hati-hati ya kak hehehhe" kata Rani sedikit menggoda.

Adam tersenyum, binar matanya sedikit bercahaya. Terasa lebih hidup saat mendengar godaan dari Rani.

Kemudian mereka makan dalam diam tapi tidak dengan Senja yang disertai senyum di wajah manisnya.

"Awas keselekkkkk!" Terdengar nada jail dari ucapan Alang.

"Apaan sihhh!"

"Tau deh, dari tadi senyam-senyum gak jelas." Timpal Rani.

"Hehehhehe..."

*****

"Pulang bareng aku aja, ngirit ongkos." Tawar Alang ketika bel pulang sekolah berbunyi.

"Aasshiappp." Kata Senja cepat.

"Bawa helm gak?"

Senja menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Dasar!" Kata Alang sambil berlalu dari hadapan Senja.

"Eh, tunggu donggg....masa gak jadi nawarin boncengan sih Lang." Senja mengeluarkan jurus andalannya. Menatap Alang dengan tatapan memohon.

Rani hanya mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib Senja. Siapapun yang melihat Senja kali ini akan bilang kalau ia memang jauh lebih cantik dengan bola mata hitam pekat yang membesar.

"Kata siapa?"

"Yeeee, Alang emang yang terbaik."

Lagi-lagi Rani hanya menggelangkan kepalanya, sungguh Senja sangat menggemaskan. 

"Muter-muter dulu tapi? Mau?"

"Iya gak masalah, dari pada kena tilang."

"Tumben pinter." 

"Wehehhehe..."

Setelah pertunjukan drama, Alang akhirnya pulang dengan Senja yang tidak memakai helm sedangkan Rani pulang seperti biasa, sendiri.

****

Selama diperjalanan, senyum Adam selalu terbayang. Dan Senja sangat menikmati itu.

Candu barang kali itu adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan Adam bagi seorang Senja.

"Se...aku mau tanya sesuatu."

"Eh iya. Apa?"

Pertanyaan Alang mengagetkan Senja yang masih berada dalam lamunannya.

"Jangan mikir macem-macem tapi..."

"Iya..."

"Gak usah ketawa!"

"Mau tanya apa sih?"

"Kamu suka sama kakak kelas yang tadi?"

"Wahahahhaahah" tawa Senja meledak seketika.

"Dasar anak unta!"

"Hehehe iya iya, kenapa emangnya?"

"Malah ganti tanya, jawab dulu napa!"

"Kalau iya...kenapa?"

"Kalau dari indra penciuman aku ya, si Adam kaya ada bau-bau playboynya..."

"Halah! Nyebelin!"

"Ye, anak unta dibilangin malah ngeyel. Awas kalo patah hati gak usah minta bahu!"

"Lah..." kata Senja bingung.

"Bahu, buat bersandar."

"Hahahha tenang, aku gak mungkin nangis karna cinta."

"Oke gue pegang omongan lo barusan."

Ada sebuah rasa yang tiba-tiba merusak kesenangan Senja barusan. Namun ia mencoba untuk menepisnya perlahan, menghirup oksigen sebanyak yang ia mampu kemudian berpikir bahwa semuanya masih abu-abu, masih terlalu dini untuk patah hati.

Dalam hati kecil Senja mencoba untuk menyakinkan diri sendiri. Menetapkan Adam sebagai pujangga pertama.

Ia menatap punggung Alang yang lebar, seketika rasa kesal itu muncul tanpa diundang.

"Aaaaa sakittt! Dasar anak unta gak tau diri!!!"

"Hahahahhaa"

Senja tertawa diatas penderitaan Alang yang tersiksa karna cubitan maut yang baru saja ia berikan di pinggang Alang.

"Biarin! Biar tahu rasa!"

Motor Alang berhenti, Senja mulai panik. Pandangan mata Alang menggelap, sepertinya kali ini ia benar-benar marah dengan Senja.

"Turun!" Kata Alang tanpa ada nada becanda sedikitpun.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 04

SM - 03