SM - 04




Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah hari dimana seorang siswa harus piket kelas.

Dan hari ini, Senja sedang merasakan hal itu. Dimana ia harus bangun pagi, berangkat lebih awal, menyapu kelas, membersihkan papan tulis, menyiram bunga di taman depan kelas.

Mungkin semuanya akan terasa ringan apabila dikerjakan dengan yang lain. Tapi masalahnya, hari ini Nita teman piket Senja tidak berangkat karena sakit.

Dengan setengah hati Senja melakukan tugasnya sendiri.

Ketika bel masuk berbunyi bu Shinta guru sejarah meminta Senja untuk pergi ke perpus mengambil buku paket.

*****
Senja berjalan ke perpustakaan dengan kaki yang terkesan diseret-seret. Terlihat jelas kalau Ia benar-benar lelah. Padahal ia hanya mengerjakan hal-hal yang sederhana. Tapi banyak, dan sialnya dia belum sarapan pagi ini.

"Bu mau pinjem buku paket sejarah kelas X" kata Senja ramah.

"Oh ambil sendiri ya mbak, di rak nomor empat paling kanan."

Senja hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah yang dijelaskan oleh pustakawan.

Ia sedikit memaksa tangannya untuk membawa 15 buku sekaligus. Tumpukan buku yang ia bawa bahkan sampai menutupi pandangan matanya

Untuk menjaga agar bukunya tidak terjatuh Senja berjalan teramat pelan. Lalu tanpa sengaja ada seseorang yang menabraknya. Membuat buku-buku ditangan Senja jatuh berhamburan. Dan menimbulkan sedikit kegaduhan.

"Astagfirullah..." kata Senja setelah menghembuskan napas putus asa.

"Eh maaf-maaf, saya gak sengaja."

"Iya gak pa pa kak, saya juga teledor." Jemari lentik itu mengambil satu per satu buku yang tergeletak mengenaskan di lantai. Senja bahkan tidak melihat siapa yang menabraknya.

"Eh kamu kan..." seseorang itu kembali bersuara.

Manik hitam pekat itu melihat ke arah lawan bicaranya. Hati yang semula merasa kesal seketika berubah menjadi berdetak kencang. Saat matanya bertemu dengan seseorang yang ia tetapkan sebagai pujangga pertama.

"Senja kak..." diakhiri dengan sebuah senyuman.

"Oh iya...ambil buku segini banyaknya cuma sendiri?" Tanya Adam.

"Iya kak, soalnya Nita temen piket yang satunya lagi gak berangkat."

"Oh, emang si siapa itu temenmu.  Si Ran ran...kemana?"

"Hahaha maksud kakak si Rani, dia kan gak piket hari ini kak. Jadi gak boleh keluar sama bu Shinta."

"Nahhh itu...kamu lagi pelajarannya bu Shinta?"

Senja hanya mengangguk sebagai jawaban. Kali ini mereka terlibat percakapan yang cukup panjang, beradu pandang yang cukup dekat membuat detak jantung tak beraturan dan semakin lama Senja semakin masuk ke dalam pesona Adam.

"Lah malah diem diem bae si eneng. Buruan udah ditunggu bu Shinta!"

Alang datang dengan suara yang sengaja dibuat-buat sehingga tidak enak untuk didengar. Dalam hati Senja menggerutu sebal. Dasar penganggu!

"Duluan ya kak, makasih udah bantuin." Kata Senja mengakhiri perbincangan pagi ini.

"Eh, jadi gak enak. Hahaha." Adam tertawa, dalam hati ia merasa sedikit tersinggung.

Suara tawa Adam menular pada Senja. Pagi ini mereka berdua membuat suasana di perpustakaan sedikit lebih bernyawa.

*****

"Lang, kamu kok bisa keluar kelas?" Senja bertanya pada Alang yang kali ini tangannya penuh dengan buku paket.

"Nanti di kelas aku jelasin, sekarang lagi repot!". Kata Alang sewot.

"Lah, yang repot kan tangannya bukan mulut. Lagian siapa suruh bantuin!" Senja menjawab tak kalah sewot dari Alang.

"Hati nurani, dasar anak unta gak tahu diri!"

"Heheheh, iya iya. Nanti Senja traktir deh." Kali ini pemilik rambut melewati bahu itu merasa sedikit bersalah. Ia menampilkan senyuman berkali-kali.

"Gak usah! Mau ngerayain berduaan sama kakak kelas itukan?!"

"Hehehhe iya." Jawaban Senja teredam oleh bu Shinta yang berdiri di depan pintu.

"Loh kok bisa sama Alang, katanya tadi ke kamar mandi?" Selidik bu Shinta.

"Iya bu, tadi habis dari kamar mandi terus mampir ke perpus dulu bentar. Hehhee."

"Halah alasan aja kamu itu. Ya udah segera dibagi bukunya."

"Baik bu..." Senja dan Alang menjawab secara bersamaan.

*****

Sepulang sekolah Senja dan Rani memutuskan untuk pergi ke pantai. Mereka berdua adalah pecinta pantai, pengagum air biru dan juga penikmat pasir putih.

Mereka berdua duduk di hamparan pasir. Di bawah pohon kelapa, angin sore membelai rambut mereka perlahan.

"Tadi kamu kok lama sih di perpusnya?" Rani membuka percakapan sore ini.

Senja menceritakan secara detail kepada Rani, bahkan ia tidak menutup-nutupi tentang detak jantungnya yang berdetak lebih kencang saat bersama dengan Adam.

"Cieeee....kamu suka ya sama kak Adam?"

Yang ditanya hanya diam saja. Senja tak mau mengakui secara gamblang padahal rona dipipinya sudah menjawab pertanyaan dari Rani.

"Eh btw kak Adam ikut ekstra pecinta alam loh..."

"Hah! Beneran?" Senja bertanya penuh antusias.

"Iya...makanya gabung pecinta alam aja yuk!"

Senja hanya menggelengkan kepalanya. Ia sadar betul dengan kemampuannya yang tak bisa jalan jauh, tak berani tidur di alam bebas, tak nyaman dengan gigitan-gigitan nyamuk. Juga kebiasaan buruk yang sering buang air kecil. Pasti akan sangat merepotkan. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Senja berdiri. Ngeri.

"Dasar anak mami!" Timpal Rani.

"Lah emang benerkan. Kalo bukan anak mami sama papi, aku anak siapa? Sapi?"

Suara tawa Rani terdengar bersamaan dengan riuhnya ombak.

"Eh Ran, kapan-kapan kalo kumpul pecinta alam lagi. Aku nitip salam buat kak Adam ya..."

Rani mengulum senyumnya kemudian kepalanya mengangguk tanpa dikomando.

Mereka kemudian terdiam menikmati pemandangan langit yang mulai berubah warna, matahari yang perlahan tenggelam. Bersamaan dengan itu burung-burung pulang keperaduan diikuti oleh dua insan.

Dua perempuan yang memiliki karakter yang berbeda tapi memutuskan untuk menjadi teman dekat selama empat tahun terakhir.

Baik Senja maupun Rani sudah hafal di luar kepala, kapan mereka ulang tahun, siapa orang tua mereka, dimana mereka tinggal, siapa saudara mereka, kebiasan baik dan buruk, makan dan minuman favorit. Hal-hal yang tidak disukai, aktivitas sehari-hari bahkan sampai ke jadwal menstruasi.

Siapapun yang melihat Senja dan Rani mengira mereka adalah adik kakak karna sering memakai baju kembar atau senada. Juga barang-barang lain yang sama. Padahal mereka tidak memiliki ikatan darah sedikitpun. Hanya memiliki satu frekuensi yang tak bisa dijelaskan. Ikatan pertemanan yang sudah mendarah daging. Tiada tanding.


----------------------------------------------

Foto di atas adalah Senja dan Rani. Tuhkan bener warna bajunya senada. Hahahah. Jadi siapa nih yang suka samaan baju atau barang sama sahabatnya?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 03