SM - 07
Pernahkan kalian mendengar jika seseorang bersedih sering melakukan hal-hal di luar kebiasaan?
Kalaupun belum pernah mendengar, Senja akan memberikan jawaban.
Gadis yang terkenal dengan sebutan kalem dalam artian setiap pulang sekolah jika tidak ada kegiatan akan langsung ke rumah. Tapi hari ini ia menjadi bukti dari kalimat pembuka.
Senja si gadis kalem tidak langsung pulang ke rumah. Ia membawa motornya melaju ke sebuah pantai, tenang saja ia masih cukup waras untuk berpikir mengenai bunuh diri.
Untuk pertama kalinya ia memutuskan memakai motor ke sekolah, dari dulu gadis itu selalu ragu untuk berangkat dengan motornya sendiri. Alasannya cuma satu, takut gak bisa keluar kalo parkiran penuh. Namanya juga cewek ya lemah lembut. Tapi kalo Senja cuma lemah aja gak pake lembut.
Tapi karena masalah yang dihadapi cukup pelik Senja bertingkah cukup heroik untuk dirinya sendiri. Membawa motor sendiri untuk melarikan diri sejenak, sedikit beranjak dari masalah yang ia duga akan beranak.
Ombak datang silih berganti tanpa henti menghampiri gadis yang saat ini dilanda sepi. Sesekali mengenai jemari tanpa alas kaki.
Mata hitam pekat itu cukup lama mengamati luasnya lautan, dalam hatinya ada pilu yang bersahut-sahutan, sampai akhirnya butiran bening menyatu dengan air asin dan hamparan pasir. Terus mengalir tak tahu kapan akan berakhir.
Semesta cukup tahu diri untuk tidak mempermalukan gadis kecil yang tengah berduka.
Pantai sore ini sepi tak ada pengunjung sama sekali, membuat Senja merasa benar-benar sebatang kara, gadis itu terluka dalam disebabkan oleh keluarganya sendiri. Membuat Senja terdiam namun semuanya hanya dapat ia pendam.
Tak cukup nyali untuk bercerita kepada kedua sahabatnya, atau sebenarnya ia tak sanggup? Entahlah ia tak tahu dan tak mau tahu.
Langit sudah berubah warna pertanda Senja harus pulang segera membuat ia tersenyum seadanya.
Menghirup udara cukup lama sembari menutup mata, Senja perlu tenaga untuk menghadapi kenyatanyaan yang menyerangnya tiba-tiba.
Jemari tangannya bergerak mengambil ponsel dari dalam tas, ia lalu membuka aplikasi berwarna hijau. Ada beberapa pesan masuk.
Dari kedua sahabatnya, kedua orang tuanya dan juga grup kelas.
Mama: dek bawa motor kok gak izin dulu?
Mama: dek kok belum pulang?
Senja: ma, senja lagi ngerjain tugas ditempat temen pulangnya agak malem ya.
Jemarinya bergulir membuka sebuah pesan.
Papa: dek, papa keluar kota. Jaga diri baik-baik ya. Jangan nakal ya.
Senja: iya pa. Senja janji, papa cepetan pulang ya.
Pulang? Kemana? Rumah? Apa masih pantas disebut rumah kalo sebentar lagi kedua orang tuanya akan berpisah?
Rumah ya? Ah hatinya seperti tersayat sembilu. Semuanya seolah semu yang bergerak menuju titik terang yang baru. Dimana semua tak akan lagi sama seperti sedia kala, Senja terdiam menikmati langit petang. Sebagian hatinya belum merasakan tenang. Tapi ia harus tetap pulang meski bukan lagi ke rumah.
*****
Gadis berponi itu melajukan motornya perlahan membawanya menuju sebuah komplek perumahan, tentu saja bukan menuju rumahnya.
Senja ingin mampir sebentar ke rumah Rani. Di jalan sebelum masuk gang perumahan sahabatnya.
Gadis yang dilanda pilu itu berpapasan dengan lelaki yang tengah mengendarai motor besar, ia merasa mengenali kuda besi itu. Juga si pengendara yang memakai jaket berwarna army. Kemudian gadis berponi itu merasa bahwa yang dibonceng adalah temannya yang ingin ia temui malam ini. Entahlah, terlalu banyak motor besar dengan warna yang sama di dunia ini.
Hati kecilnya berharap kalo sahabatnya ada di rumah sekarang, dan yang dilihatnya barusan hanyalah sebuah kebetulan.
*****
Mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Senja disambut seorang wanita yang sangat keibuan, ia mendesah kecewa ketika Mamanya Rani mengakatan kalo putrinya baru saja pergi.
Dengan lesu gadis berponi itu kembali ke motornya, ia merasa kalo yang dilihatnya tadi benar Rani.
Senja diserang berbagai pertanyaan, ia kembali mengingat nomor plat motor tadi tapi sial, dia tak ingat sama sekali. Tadi gadis yang masih memakai seragam sekolah itu sibuk merapalkan berbagai mantra agar Rani ada di rumahnya tapi sayang semuanya sia-sia. Besok Rani harus ia introgasi. Katanya dalam hati.
*****
Di tengah permasalahan yang ada, Senja masih bisa menikmati deretan lampu-lampu kota, bintang yang malam ini datang menyapa dan rembulan yang penuh akan pesona. Gadis dengan bola mata hitam pekat itu menghembuskan napas perlahan mencoba meringankan sedikit beban yang saat ini ia tanggung sendirian.
Motor yang sedari tadi menemani akhirnya berhenti di warung tenda bertuliskan "Soto Ayam bu Nah".
Setelah mendapatkan tempat parkir Senja turun perlahan dari motornya. Gadis berseragam sekolah itu tersenyum kecil ketika menyadari saat ini ia berada di alun-alun kota. Sungguh ia tak menyangka bisa senekad ini.
Cacing di perutnya sudah tak bisa lagi diajak kompromi maka dengan sedikit tergesa-gesa Senja berjalan menuju tenda bu Nah.
Kakinya tersandung. Sialan, ia mengumpat pelan. Bola matanya melebar mengamati sesuatu yang bergerak di depannya.
Tangannya terulur pelan mengambil helm full face berwarna hitam itu dari aspal. Ia mendengus keras, kepalanya bergerak kesana-kemari tapi tak melihat tukang parkir.
Dengan menahan perut yang kelaparan, gadis itu mulai menyisir pandangan mengamati motor-motor yang berjajar beraturan.
Disebelahnya ada motor bebek lengkap dengan helm. Kakinya melangkah, menuju satu motor besar tanpa helm satupun. Kuda besi itu berwarna senada dengan helm yang berada ditangannya.
Sebelum helm yang berada ditangan Senja berpindah, ia dikagetkan dengan suara dari belakangnya.
"Heh, ngapain lo?!" Suara itu cukup nyaring di telinga Senja.
Gadis berponi itu berbalik cepat, membuat rambut sebahu miliknya bergerak pelan mengenai seseorang di belakangnya. Wangi shampoonya tercium samar.
"Cuma mau ngembaliin helm tadi jatuh disana." Ia mengangkat telunjuknya menujukkan dimana helm tadi terjatuh.
Seseorang di belakangnya mengikuti telunjuk gadis yang saat ini tengah mengumpat dalam hati.
"Mana ada maling ngaku." Seseorang itu berkata cepat.
"Ya Allah, aku tu kesini cuma mau makan. Kalo kamu gak percaya ikut aja." Katanya kesal, niatnya baik tapi malah dikira maling. Perutnya sekarang benar-benar lapar ditambah sebuah tuduhan yang tidak mendasar. Sungguh kejam sekali lelaki di depannya ini.
"Oke..." jawabnya singkat.
Senja mendengus kasar, bibirnya mengerucut sebal kepada lelaki itu. Ia menghentakkan kakinya ke aspal kuat-kuat.
"Buuuuuu sotonya satu minumnya teh anget ya." Kata Senja setelah sampai di tenda bu Nah.
Senja mengambil duduk dimana ia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang di jalan sembari bergandengan tangan, beberapa dari mereka tertawa seolah dunia milik mereka, wajah-wajah bahagia tanpa lara. Tak seperti dirinya.
Untuk beberapa saat Senja kembali berselimut luka.
Sampi akhirnya sebuah deheman mengembalikannya ke dunia nyata. Ia lupa sedari tadi ia tak lagi sendiri.
"Mana KTP lo?"
Senja menatap tak percaya lelaki di depannya ini. Ia mengangkat sudut bibirnya.
"Saya belum 17 tahun jadi belum punya KTP." katanya tenang.
Lelaki di hadapannya melemparkan tatapan tak percaya. Seolah-olah mengatakan gak usah bohong, muka lo gak bisa menipu.
"Ya udah kalo gak percaya." Kata gadis itu acuh.
"Gue butuh bukti...."
*******
Sebuah permintaan maaf kepada diri sendiri karena sudah melantarkan cerita ini. Hahahah
Komentar
Posting Komentar