SM - 05
Sedari tadi pemilik mata hitam pekat dan rambut melewati bahu itu terus mengembangkan senyum. Bahkan orang-orang yang melihatnya sampai bingung dibuatnya. Mungkin juga mereka berpikiran bahwa Senja belum meminum obatnya, kepala kebentur lalu gagar otak atau bisa jadi Senja dapet warisan yang gak bakalan habis tujuh turunan.
Nyatanya dugaan mereka semua keliru. Senja hanya merasa jatuh cinta. Dan beruntung karena tadi pagi ia berangkat sekolah bersama Adam- pujangga pertama.
"Hah?! Kok bisa?!" Rani sedikit teriak pada Senja setelah ia selesai bercerita.
"Tadi tu angkotnya lama, terus aku berdiri di jalan nunggu si Alang tapi malah kak Adam nawarin boncengan. Ya udah jadi bareng deh..." Jawab Senja masih dengan tersenyum.
"Serius?! Jangan-jangan dia emang ada rasa sama kamu..."
"Jangan ngasih harapanlah! Ntar aku jadi baper hahah."
"Lah emang kamu udah baperkan!"
"Emang keliatan ya? Hahahah." Senja menjawab sambil tertawa lebar.
Suara gebrakan meja membuat Rani tak jadi menjawab pertanyaan Senja.
"Dasar anak unta! Minta tebengan taunya udah berangkat duluan!"
"Sorry deh Lang. Abisnya kamu lama..."
"Terus tadi berangkat sama siapa?"
"Sama kak Adam..." tangan Senja mengambil botol minum yang ia bawa dari rumah. Membuka tutupnya lalu menyerahkan ke Alang.
"Ohh gitu..." jawab Alang singkat, lalu menghabiskan air putih dalam botol.
"Haus pak haji..." celoteh Rani.
Alang hanya tersenyum miring lantas berlalu meninggalkan Senja yang masih terdiam memperhatikan botol kosong.
"Alanggggggg!!!! Kenapa dihabisin sih!!!!"
"Iya sorry nanti gue ganti."
"Gak mau nanti! Maunya sekarang..." terdengar Senja merajuk.
"Ya udah hayuk kantin..."
Senja dan Alang keluar kelas menuju ke kantin. Rani hanya menggelengkan kepala pelan. Satu kata untuk Senja. Ajaib!
*****
"Lang, kamu marah ya sama Senja..."
"Gak!" Jawab Alang singkat.
"Tuh kan beneran marah. Jawabnya aja cuma singkat gitu..." suara Senja mulai lirih.
"Enggaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk." Alang menjawab dengan satu tarikan napas.
"Heheheheh nah gitu dong."
"Nih..." Alang menyodorkan satu botol air mineral.
"Makasih Lang..."
Alang hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia berjalan menuju kelas meninggalkan Senja.
Dengan sedikit berlari Senja mengejar Alang.
"Langggg tungguin!!!!" Suara Senja memenuhi koridor. Tapi Alang tetap acuh.
"Duhhh!!"
Alang langsung menoleh ketika mendengar suara Senja. Kali ini ia menyesali perbuatannya. Lalu dengan langkah cepat ia menghampiri Senja.
"Mana yang sakit?" Alang panik, memeriksa kaki Senja. Matanya menyelusuri sahabatnya yang terduduk di lantai koridor.
"Hati aku hahahha..." jawab Senja disela-sela tawanya.
"Gak usah becanda!" Telapak tangan yang cukup besar itu mengacak-acak rambut milik Senja.
Alang berdiri lalu mengulur tangannya membantu Senja untuk berdiri.
"Heheheh udah dimaafin belum nih?"
"Belum lah..." jawab Alang sambil menatap Senja.
"Ya udah aku pura-pura jatuh lagi kalo gitu..."
"Terserah! Sini aku liatin!"
"Kok Alang jahat sih..."
"Siapa bilang? Nanti kan ditangkep biar gak sakit."
"Ohhhh so sweeettttt..."
"Idaman bukan?"
"Iya...idolaaakkkk"
"Harus pake qolqolah gitu jawabnya?"
"Yuhuuuu..."
Sungguh pertemanan antara Senja dan Alang sangatlah tidak wajar. Tapi mereka sadar bahwa mereka seperti saling memahami satu sama lain.
*****
Deru motor Alang memecah jalanan. Senja memeluk erat pinggang Alang dari belakang. Karena Alang sangat kencang memacu kuda besinya.
"Besok minggu Rani ultah Lang. Kita bikin surpise party yuk?!" Kata Senja disaat motor Alamg terjebak lampu merah.
"Boleh...mau gimana emang?" Jawab Alang singkat.
"Kita bikin drama aja gimana?"
"Drama apa?" Alang mulai memacu motornya tapi kali cukup pelan. Agar ia bisa mendengar suara Senja.
"Nanti aku pura-pura kecelakaan apa sakit aja terus biarin dia panik, Rani pasti dateng ke rumah. Nah kita undang temen-temen biar dateng langsung ke rumahku."
"Assshiapp bosqueeh..."
Tangan Senja memukul kepala Alang pelan. Sungguh suara Alang sangat menyebalkan.
*****
Mother Rose Cake and Bakery adalah salah satu toko yang paling laris, tentu saja karena rasanya yang nikmat. Tapi yang paling memikat pembeli adalah harganya yang sangat bersahabat.
Siapa yang bisa menolak cake harga murah tapi rasa memanjakan lidah? Tidak ada! Begitu juga dengan Senja, ia sengaja mampir ke toko itu dan memesan birthday cake untuk sahabatnya Rani.
Suara lonceng terdengar ketika Senja membuka pintu pelan. Kaki mungil gadis itu melangkah diikuti sepasang sepatu berwarna hitam dibelakangnya.
Gadis yang rambutnya diikat ekor kuda itu tersenyum senang, matanya berbinar melihat birthday cake yang warna-warni dengan bentuk dan ukuran yang beragam.
"Jangan beli yang coklat, ingat ini buat Rani bukan buat kamu."
"Iya Lang, iya...."
Setelah lima menit berlalu, birthday cake berwarna pastel dengan tambahan macaron berwarna emas di atasnya menjadi pilihan Senja kali ini.

Cake yang menurutnya sangat memukau dengan tampilannya yang sederhana. Persis seperti Rani, sahabatnya itu tak suka berdandan atau memakai pernak-pernik di rambutnya tapi pesonanya akan membuat cowok yang berpapasan dengannya menoleh dua kali ke arahnya.
Mereka berdua menuju kasir, sepasang mata hitam pekat milik Senja mengenali seseorang diantara antrian yang lumayan panjang. Seseorang yang memakai jaket berwarna army tengah tersenyum dengan sang kasir setelah menerima plastik berwarna putih.
Gadis itu sedikit mempercepat langkahnya membuat rambut ekor kudanya bergerak kesana-kemari. Tapi sepertinya sang waktu tak berpihak kepadanya, Adam sudah berjalan menuju pintu membuat Senja mendesah kecewa. Kepalanya sibuk menerka-nerka, tapi tak juga ia menemukan jawaban.
*****
Rumah bercat putih yang memiliki halaman luas dipenuhi oleh bunga, dan sebuah ayunan kayu dibawah pohon mangga, menyambut Senja dan Alang sore ini.
Setelah membeli cake Senja dan sahabat cowok satu-satunya itu memutuskan untuk langsung pulang, karena mereka berdua sudah makan siang di kantin.
"Lang, kayaknya gak usah pake drama deh..."
"Kenapa?"
"Ngeri takutnya malah jadi do'a hahahhaha."
"Dasar...terus gimana?"
"Besok kita langsung ke rumah Rani ajalah."
"Terus temen-temen gimana?"
"Gak usah diundanglah, dompet Senja udah meronta-ronta. Heheheh."
"Terima kasih Tuhan, temen hamba sadarnya cepet."
Tawa mereka berdua mengudara diantara langit yang mulai berubah warna.
"Besok jemput ya Lang..."
"Siap tuan putri." Kata Alang sambil membungkukkan badannya.
Senja tersenyum, meniru gerakan Alang, lalu tangannya seolah-olah melebarkan gaun balonnya. Sungguh dua insan penuh dengan drama.
*****
Sehabis magrib deru motor Alang terdengar di halaman rumah Rani. Gadis yang diboncengnya turun dengan tergesa-gesa.
Senja menekan bel berkali-kali, tanpa henti sungguh tidak mencerminkan sisi perempuannya sedikitpun.
"Sebentarrrrr!!!!!!!"
Senja tertawa pelan sedangkan seseorang yang berdiri disebelahnya hanya mengelengkan kepalanya.
"Kejutaaaaannnnnnnnnnnnnnn!!!!!" Teriak Senja.
"Gila emang si anak unta satu ini!" Kata Alang dengan tangan yang terangkat menutupi telinga.
"Elahhh berisikkk amat!"
"Heheheheh maaf..."
*****
"Selamat ulang tahun ya Ran, semoga tambah cantik, sehat selalu, tambah pinter, dan yang terpenting cita-cita kamu punya badan bagus kesampean. Hahahaha."
"Hbd ya Ran...cie tuaaaaaa."
"Alang sialan, makasih ya Sen....jadi tambah sayang deh!"
Dua perempuan itu saling berpelukan.
"Oke anggep aja aku makhluk gaib disini."
"Alang mah gak usah ikutan pelukan, inget dosa udah menggunung."
Mendengar perkataan Senja, Rani dan Alang tertawa terbahak-bahak. Sungguh, gadis cantik diantara mereka ini berbakat menjadi pelawak.
"Cantik sih cantik tapi koplak."
"Dasar anak unta!"
"Mau ke toilet bentar ya, udah gak tahan ni." Senja bersuara menghentikan tawa yang menggema.
"Ckkk kebiasaan. Ya udah sana."
"Abang temenin ya neng...."
"Gakk usah!"
*****
Senja merasa lega, ia bergegas untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya tapi saat melihat meja makan langkah kakinya terhenti.
Matanya memandang tajam sebuah box berisikan birthday cake, tangan mungilnya dengan lancang mengambil kartu ucapan ia membacanya sekilas. Bola matanya membesar, Senja mengedarkan pandangan. Plastik putih tergeletak tak berdaya di keranjang sampah.
*****
Kamar berwarna putih itu sudah gelap, tapi Senja belum memejamkan matanya. Ia sibuk berpikir tentang sesuatu yang membuatnya gelisah.
Ibunya Rani pintar memasak, setiap ulang tahun beliau selalu membuatkan birthday cake untuk putri kesayangannya. Tapi tadi Senja melihat birthday cake yang ia yakini dari Mother Rose Cake and Bakery.
Simbol ditutup box dan juga plastik putih itu adalah buktinya. Tadinya ia berpikiran bisa saja ibunya Rani sibuk, jadi beliau memilih membeli cake untuk Rani.
Tapi Senja menepis jauh-jauh pikiran itu saat ia teringat dengan kartu ucapan yang berisikan tulisan singkat.
"Selamat ulang tahun cewek pendaki gunung."
-Adm-
Pikirannya tak bisa menerima kedua orang tua Rani menuliskan kalimat itu.
"Apa mungkin Adm itu? Ahh semoga bukan." Senja berkata lirih, sebagian hatinya terasa perih.
Nyatanya dugaan mereka semua keliru. Senja hanya merasa jatuh cinta. Dan beruntung karena tadi pagi ia berangkat sekolah bersama Adam- pujangga pertama.
"Hah?! Kok bisa?!" Rani sedikit teriak pada Senja setelah ia selesai bercerita.
"Tadi tu angkotnya lama, terus aku berdiri di jalan nunggu si Alang tapi malah kak Adam nawarin boncengan. Ya udah jadi bareng deh..." Jawab Senja masih dengan tersenyum.
"Serius?! Jangan-jangan dia emang ada rasa sama kamu..."
"Jangan ngasih harapanlah! Ntar aku jadi baper hahah."
"Lah emang kamu udah baperkan!"
"Emang keliatan ya? Hahahah." Senja menjawab sambil tertawa lebar.
Suara gebrakan meja membuat Rani tak jadi menjawab pertanyaan Senja.
"Dasar anak unta! Minta tebengan taunya udah berangkat duluan!"
"Sorry deh Lang. Abisnya kamu lama..."
"Terus tadi berangkat sama siapa?"
"Sama kak Adam..." tangan Senja mengambil botol minum yang ia bawa dari rumah. Membuka tutupnya lalu menyerahkan ke Alang.
"Ohh gitu..." jawab Alang singkat, lalu menghabiskan air putih dalam botol.
"Haus pak haji..." celoteh Rani.
Alang hanya tersenyum miring lantas berlalu meninggalkan Senja yang masih terdiam memperhatikan botol kosong.
"Alanggggggg!!!! Kenapa dihabisin sih!!!!"
"Iya sorry nanti gue ganti."
"Gak mau nanti! Maunya sekarang..." terdengar Senja merajuk.
"Ya udah hayuk kantin..."
Senja dan Alang keluar kelas menuju ke kantin. Rani hanya menggelengkan kepala pelan. Satu kata untuk Senja. Ajaib!
*****
"Lang, kamu marah ya sama Senja..."
"Gak!" Jawab Alang singkat.
"Tuh kan beneran marah. Jawabnya aja cuma singkat gitu..." suara Senja mulai lirih.
"Enggaaaakkkkkkkkkkkkkkkkk." Alang menjawab dengan satu tarikan napas.
"Heheheheh nah gitu dong."
"Nih..." Alang menyodorkan satu botol air mineral.
"Makasih Lang..."
Alang hanya mengangguk sebagai jawaban. Kemudian ia berjalan menuju kelas meninggalkan Senja.
Dengan sedikit berlari Senja mengejar Alang.
"Langggg tungguin!!!!" Suara Senja memenuhi koridor. Tapi Alang tetap acuh.
"Duhhh!!"
Alang langsung menoleh ketika mendengar suara Senja. Kali ini ia menyesali perbuatannya. Lalu dengan langkah cepat ia menghampiri Senja.
"Mana yang sakit?" Alang panik, memeriksa kaki Senja. Matanya menyelusuri sahabatnya yang terduduk di lantai koridor.
"Hati aku hahahha..." jawab Senja disela-sela tawanya.
"Gak usah becanda!" Telapak tangan yang cukup besar itu mengacak-acak rambut milik Senja.
Alang berdiri lalu mengulur tangannya membantu Senja untuk berdiri.
"Heheheh udah dimaafin belum nih?"
"Belum lah..." jawab Alang sambil menatap Senja.
"Ya udah aku pura-pura jatuh lagi kalo gitu..."
"Terserah! Sini aku liatin!"
"Kok Alang jahat sih..."
"Siapa bilang? Nanti kan ditangkep biar gak sakit."
"Ohhhh so sweeettttt..."
"Idaman bukan?"
"Iya...idolaaakkkk"
"Harus pake qolqolah gitu jawabnya?"
"Yuhuuuu..."
Sungguh pertemanan antara Senja dan Alang sangatlah tidak wajar. Tapi mereka sadar bahwa mereka seperti saling memahami satu sama lain.
*****
Deru motor Alang memecah jalanan. Senja memeluk erat pinggang Alang dari belakang. Karena Alang sangat kencang memacu kuda besinya.
"Besok minggu Rani ultah Lang. Kita bikin surpise party yuk?!" Kata Senja disaat motor Alamg terjebak lampu merah.
"Boleh...mau gimana emang?" Jawab Alang singkat.
"Kita bikin drama aja gimana?"
"Drama apa?" Alang mulai memacu motornya tapi kali cukup pelan. Agar ia bisa mendengar suara Senja.
"Nanti aku pura-pura kecelakaan apa sakit aja terus biarin dia panik, Rani pasti dateng ke rumah. Nah kita undang temen-temen biar dateng langsung ke rumahku."
"Assshiapp bosqueeh..."
Tangan Senja memukul kepala Alang pelan. Sungguh suara Alang sangat menyebalkan.
*****
Mother Rose Cake and Bakery adalah salah satu toko yang paling laris, tentu saja karena rasanya yang nikmat. Tapi yang paling memikat pembeli adalah harganya yang sangat bersahabat.
Siapa yang bisa menolak cake harga murah tapi rasa memanjakan lidah? Tidak ada! Begitu juga dengan Senja, ia sengaja mampir ke toko itu dan memesan birthday cake untuk sahabatnya Rani.
Suara lonceng terdengar ketika Senja membuka pintu pelan. Kaki mungil gadis itu melangkah diikuti sepasang sepatu berwarna hitam dibelakangnya.
Gadis yang rambutnya diikat ekor kuda itu tersenyum senang, matanya berbinar melihat birthday cake yang warna-warni dengan bentuk dan ukuran yang beragam.
"Jangan beli yang coklat, ingat ini buat Rani bukan buat kamu."
"Iya Lang, iya...."
Setelah lima menit berlalu, birthday cake berwarna pastel dengan tambahan macaron berwarna emas di atasnya menjadi pilihan Senja kali ini.

Cake yang menurutnya sangat memukau dengan tampilannya yang sederhana. Persis seperti Rani, sahabatnya itu tak suka berdandan atau memakai pernak-pernik di rambutnya tapi pesonanya akan membuat cowok yang berpapasan dengannya menoleh dua kali ke arahnya.
Mereka berdua menuju kasir, sepasang mata hitam pekat milik Senja mengenali seseorang diantara antrian yang lumayan panjang. Seseorang yang memakai jaket berwarna army tengah tersenyum dengan sang kasir setelah menerima plastik berwarna putih.
Gadis itu sedikit mempercepat langkahnya membuat rambut ekor kudanya bergerak kesana-kemari. Tapi sepertinya sang waktu tak berpihak kepadanya, Adam sudah berjalan menuju pintu membuat Senja mendesah kecewa. Kepalanya sibuk menerka-nerka, tapi tak juga ia menemukan jawaban.
*****
Rumah bercat putih yang memiliki halaman luas dipenuhi oleh bunga, dan sebuah ayunan kayu dibawah pohon mangga, menyambut Senja dan Alang sore ini.
Setelah membeli cake Senja dan sahabat cowok satu-satunya itu memutuskan untuk langsung pulang, karena mereka berdua sudah makan siang di kantin.
"Lang, kayaknya gak usah pake drama deh..."
"Kenapa?"
"Ngeri takutnya malah jadi do'a hahahhaha."
"Dasar...terus gimana?"
"Besok kita langsung ke rumah Rani ajalah."
"Terus temen-temen gimana?"
"Gak usah diundanglah, dompet Senja udah meronta-ronta. Heheheh."
"Terima kasih Tuhan, temen hamba sadarnya cepet."
Tawa mereka berdua mengudara diantara langit yang mulai berubah warna.
"Besok jemput ya Lang..."
"Siap tuan putri." Kata Alang sambil membungkukkan badannya.
Senja tersenyum, meniru gerakan Alang, lalu tangannya seolah-olah melebarkan gaun balonnya. Sungguh dua insan penuh dengan drama.
*****
Sehabis magrib deru motor Alang terdengar di halaman rumah Rani. Gadis yang diboncengnya turun dengan tergesa-gesa.
Senja menekan bel berkali-kali, tanpa henti sungguh tidak mencerminkan sisi perempuannya sedikitpun.
"Sebentarrrrr!!!!!!!"
Senja tertawa pelan sedangkan seseorang yang berdiri disebelahnya hanya mengelengkan kepalanya.
"Kejutaaaaannnnnnnnnnnnnnn!!!!!" Teriak Senja.
"Gila emang si anak unta satu ini!" Kata Alang dengan tangan yang terangkat menutupi telinga.
"Elahhh berisikkk amat!"
"Heheheheh maaf..."
*****
"Selamat ulang tahun ya Ran, semoga tambah cantik, sehat selalu, tambah pinter, dan yang terpenting cita-cita kamu punya badan bagus kesampean. Hahahaha."
"Hbd ya Ran...cie tuaaaaaa."
"Alang sialan, makasih ya Sen....jadi tambah sayang deh!"
Dua perempuan itu saling berpelukan.
"Oke anggep aja aku makhluk gaib disini."
"Alang mah gak usah ikutan pelukan, inget dosa udah menggunung."
Mendengar perkataan Senja, Rani dan Alang tertawa terbahak-bahak. Sungguh, gadis cantik diantara mereka ini berbakat menjadi pelawak.
"Cantik sih cantik tapi koplak."
"Dasar anak unta!"
"Mau ke toilet bentar ya, udah gak tahan ni." Senja bersuara menghentikan tawa yang menggema.
"Ckkk kebiasaan. Ya udah sana."
"Abang temenin ya neng...."
"Gakk usah!"
*****
Senja merasa lega, ia bergegas untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya tapi saat melihat meja makan langkah kakinya terhenti.
Matanya memandang tajam sebuah box berisikan birthday cake, tangan mungilnya dengan lancang mengambil kartu ucapan ia membacanya sekilas. Bola matanya membesar, Senja mengedarkan pandangan. Plastik putih tergeletak tak berdaya di keranjang sampah.
*****
Kamar berwarna putih itu sudah gelap, tapi Senja belum memejamkan matanya. Ia sibuk berpikir tentang sesuatu yang membuatnya gelisah.
Ibunya Rani pintar memasak, setiap ulang tahun beliau selalu membuatkan birthday cake untuk putri kesayangannya. Tapi tadi Senja melihat birthday cake yang ia yakini dari Mother Rose Cake and Bakery.
Simbol ditutup box dan juga plastik putih itu adalah buktinya. Tadinya ia berpikiran bisa saja ibunya Rani sibuk, jadi beliau memilih membeli cake untuk Rani.
Tapi Senja menepis jauh-jauh pikiran itu saat ia teringat dengan kartu ucapan yang berisikan tulisan singkat.
"Selamat ulang tahun cewek pendaki gunung."
-Adm-
Pikirannya tak bisa menerima kedua orang tua Rani menuliskan kalimat itu.
"Apa mungkin Adm itu? Ahh semoga bukan." Senja berkata lirih, sebagian hatinya terasa perih.

Komentar
Posting Komentar