SM - 06
Sudah terlalu malam untuk memulai tidur tapi tidak untuk memulai sebuah pertengkaran.
Sepasang kelopak mata itu mulai terbuka perlahan, bola matanya bergerak kesana kemari, ia membuka telinga lebar-lebar guna memastikan apakah benar dua orang yang terlibat pertengkaran itu orang tuanya sendiri.
Gadis yang memakai baju tidur motif beruang itu turun dari ranjang, membuka pintu sepelan mungkin agar tak menimbulkan suara yang membuat dua orang di luar sana curiga.
Kedua bola hitam pekat itu melebar sempurna, melihat seseorang berpakaian daster tertunduk lemas tak berdaya di sofa, tangannya sibuk menyeka pipi, dihadapannya seseorang tengah berjongkok, kepalanya tergeletak pasrah di pangkuan wanita itu.
Hening, hanya suara jarum jam yang terdengar saat ini.
"Kalo itu yang kamu mau, besok aku akan pergi ke pengadilan buat ngurus semuanya."
Senja menahan isak tangisnya saat mendengar suara papanya. Ia menepuk keras bagian dada. Sungguh gadis itu hanya ingin udara.
Pintu kamarnya tertutup lemah, tubuhnya jatuh luruh di lantai kamarnya yang dingin.
Suara langkah kaki terdengar pelan. Lalu suara itu hilang di depan pintu kamarnya.
"Udah malem mas, kasihan Senja. Besok aja kita kasih tahu anakmu."
Langkah kaki mulai terdengar kembali meninggalkan seorang gadis yang tengah menutup mulutnya.
Satu jam berlalu dan Senja masih pada posisi itu. Duduk, memeluk lututnya sendiri denga kepala yang tertunduk lesu.
Matanya tak bisa terpejam, suaranya tiba-tiba hilang. Pikirannya melayang, ia tak pernah menyangka segalanya terasa seperti mimpi, tapi air mata yang membasahi pipi adalah sebuah bukti bahwa semuanya benar-benar terjadi.
Senja menghembuskan napas kasar, lalu menyeret kakinya kembali ke tempat tidur. Ia melihat langit-langit kamar. Seketika bayangan ketika Senja bersama ibunya memasak di dapur terlintas, suara ayahnya yang memujinya cantik setiap selesai membuatkan secangkir kopi kembali terdengar. Saat ibunya menyuapinya makan ketika sakit, saat ayahnya pulang dengan sekotak penuh es krim karna ia berhasil menjadi juara kelas berkeliaran.
Air matanya mulai berjatuhan lebih deras dari yang tadi, ia semakin sering memukul bagian dada. Kedua tangannya menutup mulutnya rapat-rapat.
Menghirup udara lalu mengeluarkan pelan-pelan Senja mencoba untuk tetap tenang. Otaknya menggiring untuk berpikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lima menit berlalu, dan semuanya gelap.
*****
Senja terbangun dari kenyataan yang paling pahit selama hidupnya. Sebenarnya gadis itu merasa menyesal sudah membuka matanya kembali.
Tidak bisakah ia tertidur lagi dan semua yang ia lihat semalam berubah menjadi bunga tidur yang tak akan jadi kenyataan?
Lima menit berlalu tapi ia tak merasakan perubahan apapun, do'anya pagi ini tak dikabulkan.
Gadis yang semalaman menangis kini sudah berganti, ia merubah segala sendu menjadi senyum merekah pagi ini. Sekalipun bola mata hitam pekat itu tetap menyimpan pilu. Kakinya melangkah pelan menuju dapur
"Ma, Senja berangkat dulu ya."
"Eh, gak sarapan dulu?" Wanita yang telah melahirkan Senja di dunia itu terlihat berbeda, bola matanya tak sebening biasanya.
Kedua orang itu sama-sama tahu penyebabnya tapi Mamanya belum siap untuk bercerita sendangkan Senja merasa belum siap menerima kenyataan.
Salahkah ia jika masih berharap bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk?
"Udah siang Ma, Senja piket hari ini. Papa mana?"
"Tadi pagi-pagi udah pergi, katanya mau keluar kota."
"Ohhh...Senja berangkat ya Ma..."
Pikirannya melayang pada kejadian semalam, ia meremas kuat pinggiran rok abu-abu sebagai pelampiasan. Semua seolah menjadi bumerang bagi do'a yang sedari tadi Senja rapalkan.
"Yaaaa hati-hatiiii...."
Senja hanya tersenyum sebagai balasan, sebenarnya hati kecilnya ingin bertanya tentang kejadian semalam, meronta meminta penjelasan, tapi sebagian hati kecilnya yang lain merasa belum siap.
Pikirannya melayang gadis kecil itu terlihat rapuh dan pasrah secara bersamaan. Tapi otaknya masih saja bekerja, merasa janggal atas kejadian yang ia lihat.
Kedua orang tuanya tak pernah terlibat pertengkaran sedikitpun, Senja bahkan semua keluarga dan tetangganya tahu itu. Keuangan keluarganya juga cukup stabil, ia bahkan sering meminta hal-hal yang sebenarnya tidak perlu tapi Papanya masih sanggup untuk memenuhi itu. Sekalipun tidak semuanya tapi Senja merasa perpisahan mereka bukan karena ekonomi.
Apakah ada sesuatu yang belum Senja ketahui? Otaknya bekerja keras menyelesaikan permasalahan yang cukup rumit ini tapi sampai di dalam kelas pun sebuah pertanyaan tadi masih tetap menjadi sebuah misteri.
****
Sorry untuk hiatus yang cukup lama, merasa belum siap nulis part ini heheee. Tapi akhirnya mood membaik membuat jemariku kembali mengetik walaupun cuma sedikit heheeee.
Jangan lupa vote dan komennya ya man temannnnnn 😄
Komentar
Posting Komentar