Pandu dan Rindu [tak sekuat macan]

Hanya butuh 15 menit bagi Pandu untuk menyelesaikan soal matematika.

Aku dan Pandu berjalan beriringan keluar dari perpus.

Rizal menghampiri ku dengan kaos olahraga.

"Sa, ini undangan dari SMA Garuda. Nanti malem dateng ya. Kita dapet penghargaan soalnya." Kata Rizal ramah.

"Iya nanti aku suruh bang Adam buat nganterin." Aku tersenyum kecil.

Dalam hati aku berharap Pandu mengajak ku untuk berangkat dengannya tapi nyatanya sampai di depan kelas dia hanya membisu.

*************

"Gila kamu Sa ! Bisa-bisanya juara kelas gak ngerjain PR !" Wulan langsung menyerangku.

"Aku lupa sumpah !"

"Tumben kamu lagi ada masalah ?" Tanya Bella.

Aku hanya mengangguk. Wulan memandangku penuh curiga.

"Masalah sama Kak Pandu ?" Tanya Wulan.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Kamu jangan mau ngorbanin tugas kamu cuma buat hal yang gak pasti kaya cinta Sa !" Imbuh Wulan.

Hatiku terasa perih, cinta itu gak pasti dan Pandu itu semu. Aku mengangguk mantap mengiyakan ucapan Wulan.

Bella mengusap-usap lenganku. Mencoba menenangkan gejolak dalam diriku.

Selama sisa pelajaran aku hanya melamun, memikirkan ucapan Rangga, Wulan dan sikap Pandu akhir-akhir ini. Aku tak percaya rasa ragu mulai memasuki relung hatiku sendiri. Padahal sebelumnya aku sangat yakin dengan Pandu. Tak ada yang tahu selain Pandu dan Tuhan mengenai alasan perubahan sikapnya padaku.

****************

Malam ini aku tak bergairah sama sekali, padahal seharusnya aku senang karena akan menerima penghargaan.

Aku memilih pakaian berwarna hitam, juga riasan yang sangat natural. Saat aku bercermin wajahku tampak suram. Aku tertawa menertawai diriku sendiri.


Harusnya dengan pakaian seperti ini aku pergi ke pemakaman bukan acara penghargaan. Tapi aku tak peduli, bagiku pakaian ini menggambarkan suasana hatiku saat ini.

"Dek...udah ditungguin temen mu nih." Bang Adam teriak dari ruang tamu.

Aku merasa jantungku berdetak lebih cepat, kakiku berlari-lari kecil menuruni tangga. Ada letupan yang muncul dari dalam hatiku. Aku menghela napas lega, berharap Pandu datang untuk menjemputku. Aku percaya Pandu tak merubah sikapnya padaku. Pandu masih sama seperti dulu, penuh misteri juga kejutan diluar dugaan.

Mataku melotot untuk memastikan seseorang yang duduk di depan bang Adam adalah Pandu. Aku bahkan mengucek mataku berulang kali, tapi sayangnya aku tak salah kali ini.

Aku menghembuskan napas kasar, "ngapain ke sini ?" Tanyaku tanpa basa-basi.

"Ya mau jemput kamu lah." Katanya tak mau kalah.

Bang Adam hanya memandangku bingung.

"Buruan, keburu macet ntar." Perintahnya.

Aku menurut, tak ingin membuat bang Adam penasaran. "Siapa ? Kok beda ?" Bisik bang Adam saat aku berpamitan dengannya.

"Temen..." kataku singkat.

****************

Motor Rangga melaju pelan memecah kemacetan. Ada bagian hatiku yang kecewa, aku bahkan berulang kali mendongakkan kepalaku menghalau butiran kristal yang ingin keluar. Wahai penguasa, aku ingin bertanya dimanakah Pandu berada ?

Tapi sampai Rangga dan aku memasuki area SMA Garuda tak ku temukan jawaban dimana Pandu sekarang. Tatapan mata dari siswa SMA garuda menyerangku saat aku melepas helm. Mungkin mereka penasaran dengan statusku karena aku berangkat bersama Rangga. Aku menghembuskan napas kasar.

Aku mengikuti Rangga yang membawaku ke tempat acara. Sampai di depan pintu aku disambut oleh Rere. Ia melempar senyum hangat padaku. Aku membalas senyumnya sekalipun dengan terpaksa.

"Dateng sama siapa Sa ?" Tanya Rere.

Aku hanya mengarahkan padanganku menuju Rangga. Dan dengan sombongnya Rangga menepuk-nepuk dada membanggakan diri. Bola mataku memutar jengah dengan sikap Rangga.

"Ojek kamu Sa ?" Kata Rere dengan nada mengejek.

Aku tertawa mendengar perkataan Rere, kepalaku mengangguk tanpa dikomando.

"Sialan..." Rangga mengumpat pelan.

Tangan Rangga menarikku masuk ke dalam, dia masih terlihat kesal. Aku duduk di deretan bangku kedua dari depan. Tanpa kata Rangga meninggalkan aku sendiri. Aku tersenyum melihat tingkahnya.

Mataku nanar melihat Pandu berjalan bersama Tata, mantan ketua OSIS SMA Garuda. Aku menemukanmu, tapi entah kenapa hatiku malah bertambah pilu.

Pandu terlihat jauh dimataku padahal ia hanya berjarak 7 bangku dari ku. Ia tertawa tapi aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Pandu terlihat senang, dadaku bergemuruh. Aku menghirup napas pelan, wangi Pandu kali ini tak membuatku tenang sama sekali. Ribuan pertanyaan membuat tubuh ini melayang.

Gerakan di sebelahku membuat pikiranku kembali ke bumi. Senyum Rizal muncul ke permukaan. Aku tersenyum kikuk, mataku melihat ke arah Pandu. Kali ini aku benar-benar iri dengan Mona. Kejadian di perpus kembali terulang di kepalaku. Haruskah aku melakukannya lagi ? Siapa tahu Mona keluar seperti tadi ? Aku tersenyum menertawai ide gila ku sendiri.

Acara dimulai dengan sambutan, lalu dilanjutkan dengan pentas tari. Setelah itu baru penyerahan penghargaan. Saat namaku dan Rizal disebut detak jantungku tak beraturan, aku berjalan ke atas panggung bersama Rizal dengan kaki yang selemas jelly.

Suara tepuk tangan terdengar saat piala diserahkan padaku juga Rizal. Aku tersenyum setidaknya ada sedikit rasa bahagia malam ini. Butiran kristal tak bisa ku tahan. Mungkin mereka pikir aku terharu karena memangkan lomba ini, padahal bukan itu alasannya. Cukup aku dan Tuhan yang tahu kalau hati ku teriris saat melihat Pandu asyik bercanda bersama Tata. Dari awal dia masuk sampai saat ini.

Genggaman tanganku pada piala semakin kuat. Piala ini memang cukup ringan tapi aku rasa akan sakit jika mengenai kepala seseorang. Aku menggelengkan kepalaku lalu tanganku bergerak mengusap air mataku. Aku terseyum kemudian turun dari panggung.

Aku pamit untuk pergi ke toilet pada Rizal, bersamaan nama Pandu dan Mona yang disebut untuk naik ke atas panggung. Hatiku terlalu terluka untuk melihat senyum Pandu, untuk mendengar suara tepuk tangan yang ditujukan padanya.

Aku terlalu rapuh untuk melihat Tata mengucapkan selamat pada Pandu. Sekarang aku tahu, Pandu keliru sebab aku tak sekuat macan seperti permintaannya waktu itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03