Pandu dan Rindu [teman macam apa ?]

Tak ada satu nama pun di kepalaku, aku juga tak mau menduga-duga.

"Siapa ?" Aku menyerah, rasa penasaran membuatku memberanikan diri bertanya.

"Pandu..." bang Adam menatapku jeli.

Ribuan pertanyaan menyerang bersamaan kupu-kupu yang menggelitik perutku.

"Ohhh..." hanya itu yang mampu keluar dari bibirku.

"Cuma oh doang ? Kasian tahu dia udah nunggu kamu satu jam dek." Bang Adam mulai nyolot.

Bolehkah aku besar kepala ? Tapi kejadian di toilet tadi membuatku mendesah kecewa.

"Terus ?"

"Ya dia tanya kamu perginya sama siapa ? Abang jawab sama temen mu tadi. Dia pamit, wajahnya murung gitu dek."

"Ohhh gitu." Aku mencoba untuk tetap cuek.

"Abang jadi bingung sama kamu dek. Pacar kamu itu yang mana sih ?"

Aku berlalu menuju kamarku dengan sedikit teriak "dua-duanya bang. Gak kaya abang satu aja gak punya. Hahahahaha"


"Awas kau ya dek !!!!" Maki bang Adam.

Tawaku terdengar sampai akhirnya teredam oleh pintu kamar.

Malam ini aku hanya ingin terlelap. Tak ingin bertanya, tak ingin memikirkan apapun perihal Pandu. Ku rasa aku sudah sampai batasku.

*********

"Wul, nanti ke rumah Bella yuk." Ajakku.

"Haduhhh aku mau les, kamu duluan aja. Nanti aku nyusul." Sahut Wulan.

Hari ini sekolah terasa sepi tanpa Bella, aku tak mendengar gosip-gosip baru, celotehannya, umpatan-umpatan Bella juga curhatannya.

Pesanku juga belum dibaca, membuatku semakin tak tenang. Bella, ku harap kau baik-baik saja.

*********
Bel istirahat menjadi penyelamat kegundahan kali ini.

Aku dan Wulan berjalan tak sabaran menuju kantin.

Langkahku terhenti saat melihat Pandu. Jujur saja aku belum siap.

"Wul, aku mau ke kamar mandi dulu ya. Kamu duluan aja." Bisik ku pelan.

Wulan memandangku curiga, tapi kemudian dia mengangguk. Saat aku berbalik. Mataku bertemu dengan Pandu. Detak jantungku menggila membuatku semakin tak tenang.

Dengan sedikit berlari aku menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Pandu dan juga semua pertanyaanku tentangnya.

Sasa : perutku sakit, aku langsung ke kelas ya Wul.

Sebenarnya itu hanya alasanku saja. Rasanya aku belum siap untuk bertemu dengan Pandu, mengirup wanginya, melihat bola matanya. Aku hanya takut kembali terjebak dalam pesonanya.

********

Suasana kelas seperti kuburan tak ada orang satupun.

Mataku sedikit melotot, langkah kakiku semakin cepat berjalan menuju mejaku. Tanganku sedikit gemetar saat mengambil secarik kertas di atas satu bungkus roti tawar isi coklat.

"Selamat menikmati, semoga laparmu lekas terobati."

-Pandu-

Jantungku berdetak tak karuan, suaranya bersahut-sahutan. Aku tersedak roti tawar yang diberikan Pandu. Tanganku bergerak mengambil es coklat, aku menghela napas lega.

Pandu tahu benar seleraku. Senyum kecil terbit dengan sendirinya. Aku memukul kepalaku pelan. Tak bisa dipungkiri aku kembali jatuh pada perhatiannya.


*******

Aku keluar gerbang sambil membawa kantok plastik berisi soto Pak Budi.

Bibirku bersenandung lirih, entah mengapa aku hanya ingin bernyanyi sore ini.

Tin ! Tinnn !!! Tin !!!!

"Mau kemana ?"

"Ke rumahnya Bella." Sahutku cepat.

"Buruan naik, aku anter."

"Tapi yang kemarin belum dibayar lo bang. Heheheh" sekalipun berkata begitu aku tetap menuruti perkataan Rangga.

"Gratis kalo buat kamu mah..." jawabnya sambil melajukan motor.

************

"Kok tumben mangkal di Nusantara ?" Kataku sambil melepas helm.

"Iseng..." Rangga masih menatapku. "Ayo buruan masuk Sa !"

Lah ? Kenapa jadi Rangga yang gak sabaran ? Yang temennya Bella kan aku ya bukan dia ? Curiga deh !

"Belllaaaaa..." teriakku.

"Oh mbak Sasa, silahkan masuk mbak." Jawab mbak Nem ramah.

"Bellanya ada ?"

"Ada mbak, lagi nonton tv tapi dari pagi belum makan, belum mandi." Nadanya terdengar sendu.

Aku tersenyum, tanganku mengusap lengan mbak Nem. "Ini Sasa bawa soto buat Bella, tolong dipanasin ya mbak."

Mbak Nem sudah bekerja di rumah ini sejak Bella masih SD, dia yang merawat Bella dari kecil sampai sekarang, setahuku orang tua Bella cukup sibuk dengan perkerjaannya. Bella anak tunggal dan mbak Nemlah tempat berkeluh kesahnya saat di rumah. Jadi wajar kalau mbak Nem sangat sayang dengan Bella. Begitu pun sebaliknya.

"Bel..." kataku lirih.

Bella menoleh ke arah ku, dia langsung memelukku, tubuhnya bergetar. Aku membalas pelukannya, tanganku mengusap-usap rambut Bella yang berantakan belum disisir.

"Wulan gak kesini Sa ?" Bella mengusap air matanya lalu merapikan rambutnya.

Aku menggeleng lemah "Dia lagi ada les, nanti nyusul kok."

"Ehemmmm !!!" Rangga berdeham seperti dibuat-buat sengaja agar kami tak mengabaikan kehadirannya.

"Ehhh siapa ?" Tanya Bella.

Rangga mengulurkan tangannya "Rangga, temennya Bella."

Aku melihat senyuman Rangga muncul ke permukaan.

"Bel...la temennya Sasa." Bella sedikit gugup.

"Yang belum mandi..." imbuh Rangga.

Aku menahan tawaku, mataku memandang jeli perubahan ekspresi Bella.

"Nyebelin ! Tunggu bentar, aku mau mandi dulu." Kata Bella sambil berlalu.

Ajaib ! Biasanya Bella malas mandi kalau ada masalah, sekalipun aku atau Wulan yang menyuruhnya mandi berkali-kali, dia tak akan mandi. Sedangkan Rangga cukup sekali dan Bella langsung bergegas mandi. Kali ini aku akui Rangga cukup hebat !

Bola mata Rangga menjelajahi setiap foto di ruangan, aku mulai berpikir macam-macam. Mungkinkah Rangga ? Ah ! Hentikan pikiran bodohmu itu Sa !

Lima belas menit kemudian Bella kembali. Wajahnya terlihat lebih segar, bibirnya tak lagi berwarna pucat, senyumnya pun kembali terlihat.

"Nah gitu kan cantik..." puji Rangga.

Bella tak menjawab dia hanya senyam-senyum sendiri. Salah tingkah, aku kembali tertawa dalam hati.

"Ayo makan dulu, mbak Bella temen-temennya diajak sekalian." Kata mbak Nem dari dapur.

"Iya mbak...."

Aku membawa 3 bungkus soto, tadinya ku pikir untukku, Bella dan juga mbak Nem tapi sekarang faktanya mbak Nem makan dengan masakan yang ia masak sendiri.

"Beli dimana nih ? Kok enak ya ?" Tanya Rangga setelah menghabiskan soto miliknya.

"Di sekolah...sotonya pak Budi." Jawabku.

"Yah...bukak cabang gak dia."

Aku mengangkat kedua bahuku cepat. Terdengar Rangga mendesah kecewa.

"Tenang aja, kapan-kapan ku traktir deh." Kata Bella.

"Ok janji ya..." nadanya terdengar manja.

Dih ! Sok manis kali ! Aku mengeleng-gelengkan kepalaku berulang kali. Merasa takjub dengan perkataannya.

Jam dinding menunjukkan pukul 5 sore, aku berpamitan pulang dengan Bella dan mbak Nem. Bella tersenyum ke arah ku, dia kemudian memelukku. "Makasih..." bisiknya pelan.

Aku menggangguk, sebenarnya ada bagian hatiku yang tak rela meninggalkan Bella. Dia belum mau bercerita tentang masalahnya. Tapi melihat rumahnya yang sepi aku bisa menduganya sendiri.

*********

"Sa, minta nomernya Bella dong." Kata Rangga saat motornya berhenti di lampu merah.

"Dih ! Kenapa tadi gak minta sendiri sih !"

"Hehehhehe...." hanya terdengar suara tawa Rangga.

"Cieee... ehemmm ehem...ok nanti ku kirim."

"Sekarang Sa ! Sekarang !" Rangga mulai sewot.

"Iyaaa..." gerakan tanganku yang mengambil ponsel di dalam tas terhenti.

Saat aku melihat Wulan tengah asyik menikmati es buah dengan seorang lelaki. Sialanya dari sini wajahnya tertutupi pepohonan.

Rasanya aku ingin turun lalu menegur Wulan aku juga ingin menebang pohon-pohon itu. Tapi motor Rangga sudah kembali melaju.

Aku merasa Wulan tengah memakan omongannya sendiri. Dia bahkan lebih parah dari ku, bukan tugasnya yang diabaikan melainkan temannya hanya karna cinta yang belum pasti.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03