Pandu dan Rindu [penghianat]

Membasuh wajahku dengan air adalah tindakan yang tepat saat ini. Aku meringis melihat diriku sendiri. Cengeng kali kamu sa ! Aku memukul dadaku berulang kali mencoba menghancurkan batu besar yang membuat sesak. Kepalaku tertunduk, mataku terpejam.

Hatiku kembali bergejolak saat mendengar dua orang masuk sambil mengobrol seru "kayanya si Tata bakalan balikan deh sama Pandu." Kata si rambut sebahu. "Iya, kamu liat aja tadi dia berangkat bareng sama Pandu." Jawab temannya. Tanganku mengepal kuat. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya aku menguatkan diri keluar dari toilet.

*************

Kakiku membawaku ke stand penjual coklat di depan gerbang. Aku tersenyum lalu memesan satu coklat hangat.

Aroma coklat membuai membuat ku terpejam menikmati. Aku melihat miris ke arah gelas cup yang tersaji di depanku. Taburan kejunya membuatku bergidik. Ngeri kali !

Aku meminumnya perlahan, rasa keju memenuhi mulutku, rasa mual mulai menyapaku, tapi aku terus meminumnya. Aku bernapas lega saat berhasil menelan coklat hangat dengan taburan keju. Malam ini aku membayangkan keju adalah Pandu.

Tarikan bangku disebelahku membuatku kaget. Aku tak menoleh sama sekali. Tanganku sibuk mengaduk-aduk coklat hangat.

"Kenapa kesini ?"

"Bosan..." aku berbohong kali ini.

"Mau pulang sekarang ?" Katanya lagi.

"Boleh..." ucapku singkat.

"Tunggu bentar lagi, aku panitia jadi gak bisa pulang duluan." Jelasnya.

Aku menghela napas kasar. Tanganku masih sibuk mengaduk-aduk minuman.

"Aku nyesel sekolah di SMA Nusantara..."

Rangga diam tak mengatakan apapun.

"Aku satu sekolah sama penghianat." Kataku yakin.

Rangga tertawa sinis, "pindah aja..."

Aku menoleh ke arahnya "kemana ?" Nadaku terdengar putus asa.

"Ke hati ku aja...." tawa Rangga menggetarkan hatiku. Aku akui Rangga tak kalah tampan.

Motor Rangga juga sama dengan punya Pandu hanya berbeda warna saja. Ckckkk ! Pandu lagi. Aku mencoba mengenyahkan penghianat itu dari pikiranku. Entah kenapa aku merasa dihianati oleh Pandu. Tawa Rangga menular kepadaku sungguh sinis juga miris.

Aku melirik jam tanganku, sudah pukul sembilan malam. Pantas saja semua undangan membubarkan diri. Rupanya aku disini sampai acara selesai hebat sekali kamu Sa !

Dering ponsel terdengar, aku yakin itu bukan ponselku sebab aku mengaturnya dalam mode diam.

"....."

"Lagi di kamar mandi, perutku mulas." Rangga mengeluarkan suara yang menjijikan.

"....."

"Ok makasih. Sorry ya aku pulang duluan."

"....."

Rangga memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Dasar pembohong. Panitia abal-abal." Aku terkekeh.

"Hehehheh kan demi kamu." Katanya tanpa dosa.

"Lah ?" Aku bingung dengan ucapannya.

"Yang minta pulang siapa ? Kamu kan ?"

Aku tersenyum lalu mengangguk.

"Tunggu disini aja, aku ambil motor dulu."

Rangga berlalu kembali ke dalam area sekolah.

Tanganku mengambil ponsel dari dalam tas. Rizal menelfonku 3 kali. Sepertinya dia khawatir denganku.

Sasa : sorry perutku sakit, aku pulang duluan kak.

Aku memang peniru yang handal. Hahhaha !

Bella : Sa, bisa ke rumahku sekarang ?

Deg ! Aku merasa tak tenang kali ini.

Sasa : oke, tunggu bentar lagi !

Aku gelisah menunggu Rangga. Tiga menit kemudian Rangga datang. Untung cepet kalo gak udah aku sumpahin mules beneran dia !

"Tolong anterin aku ke tempat temen ku dulu !"

"Siap neng, bayarnya double tapi hehhehe."

"Udah cepetan !"


*******************

"Bell...Bellla..." teriakku saat sampai di rumah Bella.

"Silahkan masuk mbak. Langsung ke kamarnya mbak Bella aja." Kata mbak Nem ramah.

Aku mengangguk, mataku memandang curiga melihat pecahan kaca berhamburan di lantai, koran-koran juga menambah berantakan ruang keluarga. Tumben, gak biasanya banget rumah Bella berantakan.

"Bel...." aku membuka pintu kamar perlahan.

Aku langsung berlari, menghamburkan diri memeluk Bella. Saat ini Bella tengah menangis, rambutnya berantakan, dia memeluk kakinya sendiri.

"Sttttt....tenang ada aku disini Bel." Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Tanganku mengusap punggungnya.

Bella adalah tipe orang yang tak ingin bercerita jika bukan keinginannya. Sekalipun dipaksa dia akan tetap diam.

Cukup lama kami dalam posisi ini. Suara tangis Bella masih terdengar. Aku ikut menangis, hatiku juga pilu. Perihal Bella juga Pandu membuatku menjadi gadis cengeng malam ini.

Aku mengusap air mataku. Menepuk-nepuk pelan punggung Bella. Dia melepaskan pelukanku. Matanya sembap, hidungnya merah.

"Makasih ya Sa. Kamu bisa pulang sekarang." Katanya dengan nada parau.

Aku menggeleng, menatapnya dengan pandangan memohon.

"Udah malem Sa." Kata Rangga, tangannya bersedekap di dada. Dia tengah berdiri di depan pintu.

Aku sudah memintanya untuk pulang lebih dulu. Tapi dia menolak dan bersikeras untuk ikut masuk ke rumah Bella. Menyebalkan !

Bella memandangku penuh curiga. Meminta penjelasan dariku.

"Cuma temen, aku pulang dulu ya Bel." Bisikku di telinga Bella.

Sebenarnya aku tak rela meninggalkan Bella. Tapi apa boleh buat, jika dia berkata pulang maka aku harus pulang. Dia pemaksa sama seperti orang yang disebelahku.

*****************

"Makasih. Ati-ati di jalan." Kataku saat Rangga mengantarku sampai rumah.

Rangga mengangguk lalu melajukan motornya.

Dengan pikiran yang kacau aku mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum. Bang bukain...."

Tatapan tajam Bang Adam menyambutku. Aku mulai berhitung dalam hati.

"Dari mana ? Jam sebelas baru pulang ha ?!"

"Dari rumahnya Bella." Aku mengeluarkan ponselku lalu menunjukkan pesan Bella.

"Hmmmm. Lagi ada masalah ?"

Aku mengangguk lalu dengan langkah seribu aku meninggalkan bang Adam. Langkahku terhenti saat bang Adam berteriak.

"Tadi kamu dicariin dek..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03