Pandu dan Rindu [ pertumbuhan dan perkembangan ]
Seseorang itu menghentikan motornya, kemudian melepas helmnya. Gerakannya seperti slow motion yang membuatku gregetan. Senyum Bagas muncul ke permukaan. Oh ya ! Aku lupa Bagas adalah salah satu pecinta motor ber cc besar.
Satu tangannya memegang paper bag. Dengan terseyum Bagas berjalan ke arah ku dan Pandu. Sudut mataku melirik ke arah Pandu, dia terlihat kesal.
"Mau ngapain kesini ?" Pandu bertanya dengan nada sarkas.
"Cuma mau ngembaliin jaketnya Sasa kak." Bagas menyerahkan paper bag padaku.
"Oh iya tadi ketinggalan di kelas. Makasih ya Bagas." Aku tersenyum diakhir kalimat.
"Iya sama-sama..." Bagas melihat ke arah Pandu.
"Ya udah kalo gitu aku pulang ya Sa." Aku mengangguk.
Motor Bagas mulai meninggalkan halaman rumah. Pandu masih diam. Dia terlihat tak suka dengan kedatangan Bagas.
"Bagas sering dateng kesini ?" Tanya Pandu. Matanya melihat ke arah ku tajam.
"Baru dua kali..."
"Kamu suka sama Bagas ?" Pertanyaan macam apa ini ? Kenapa Pandu seperti pacar yang cemburu.
Aku menggeleng. Ada letupan kecil di dalam hati ku. Aliran darahku melambat. Pandu memang mampu membuat semua organ ditubuhku tidak bekerja dengan baik.
"Bagus, aku gak larang kamu deket sama siapapun. Karna aku percaya hanya aku yang bisa membuat kerja jantung mu lebih cepat." Pandu tersenyum tipis tapi sungguh itu terlihat sangat manis.
Aku mengangguk, membenarkan perkataan Pandu. Rasanya tubuhku begitu ringan hingga aku bisa terbang.
"Satu hal yang aku minta, jangan mudah percaya dengan orang lain." Pandu membuatku berada diambang jurang. Setiap perkataannya seolah-olah mengingatkan ku bahwa akan ada peristiwa besar.
Aku hanya bisa mengangguk, rasanya semua kata-kata ku kembali tertelan. Hilang tak mampu aku ucapkan.
"Sa..." aku menoleh, Pandu melihatku dengan sorot mata lembut.
"Sasaaa..." ucapnya lirih.
Ternggorokan ku serak "i..ya"
"Sasaku..." tawa Pandu memekakkan telingaku. Pandu sialan ! Namaku seperti merk bumbu penyedap. Tapi aku tertular tawanya.
"Namamu jadi kaya penyedap makanan. Tapi aku suka. Hahhaha" Pandu masih tertawa.
"Udah sore, pulang sana..."
"Yeee malah ngusir. Ya udah aku pulang." Kata Pandu kemudian.
"Ati-ati di jalan..."
Pandu hanya mengangguk kemudian pergi bersama motornya. Bolehkan aku iri ? Pada motor Pandu ? Motornya selalu menemani Pandu kemanapun dan kapanpun. Sedangkan aku ? Tangan ku mengelus hidungku. Ah ya ! Pandu dan segala rahasianya.
*******************************************
Pulang sekolah aku dan Rizal berlatih dengan pak Edi, beliau memberikan soal-soal. Aku hanya mengerjakan sebisaku. Ada beberapa soal yang sangat asing bagiku. Setengah jam kemudian pak Edi memeriksa lembar jawabku dan Rizal.
"Kamu emang pinter, gak salah Rizal pilih kamu." Ucap pak Edi
Aku melihat ke arah Rizal, meminta penjelasan. Tapi dia hanya tersenyum tipis. Entah kenapa aku merasa sedikit curiga dengan Rizal.
Dua jam berlalu dengan sangat cepat, hanya 40 soal yang bisa aku kerjakan. Sedangkan Rizal mampu mengerjakan 95 soal. Dia memang ahli dalam biologi.
"Aku anter pulang ya ? Kali ini gak ada penolakan." Kata Rizal dengan nada sedikit lebih keras.
Aku hanya mengangguk, setengah enam pasti angkotnya gak ada yang lewat.
********************************
"Jauhi Bagas." Perkataan Rizal sukses menghentikan tanganku yang sedang memakai helm.
"Aku tahu gkamu gak suka sama Bagas. Tapi cinta bisa datang karena terbiasa." Aku masih diam tak mengucapkan apapun.
"Jangan takut padaku, dan jangan membeciku karema itu bisa jadi bumerang buat kamu." Mulutku masih membisu tak menjawab perkataan Rizal.
"Kata orang benci bisa berubah jadi cinta." Rizal tersenyum sinis diakhir kalimat. Seolah-olah dia yang menang.
Motor Rizal menembus kemacetan, memecah otakku dan menghancurkan kedamaian dalam hatiku.
*********************************
Malam ini aku tak bisa tidur, padahal jam sudah diangka 10. Dugaan ku keliru, Rizal sudah tahu yang sebenarnya dia bahkan sudah menyiapkan peluru. Aku menguap berkali-kali tapi mataku tak bisa terlelap sedikit pun. Dering telfon membuatku semakin kesal.
"Halo..." kataku.
"Kamu belum tidur ? Pasti kepikiran aku ya ?" Jawab Pandu diseberang.
"Ccckk ! PD kali !!!!" Aku mendengar Pandu tertawa.
"Tadi belajar apa sama pak Edi ?"
"Belajar pertumbuhan sama perkembangan." Jawabku singkat.
"Sama dong, aku juga lagi belajar menumbuhkan rasa percaya mu pada ku..." Pandu sengaja menggantungkan ucapannya.
Aku membuka telingaku lebar-lebar, ingin mendengar perkataan Pandu tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Sama mengembangkan rasa nyaman mu pada ku.." Pandu terkekeh geli.
"Apaan sih gak jelas banget ! Sumpah !!!" Aku tertawa sambil menggigit ujung bantal
"Udah sana tidur jangan lupa..." Pandu berhenti sejenak "jangan lupa berdo'a". Pandu tertawa kencang benar-benar menyebalkan ! Pandu Sialan !
"Kamu juga jangan lupa..." aku mengambil napas sebentar "jangan lupakan aku" kataku lirih hampir tak terdengar, tersamarkan suara angin.
"Apa ? Coba ulangi ?" Tanya Pandu ingin memastikan.
"Gak mau ah !" Aku menggigit bibir bawahku kuat.
"Aku denger. Siap Sasaku hehhehe." Ternyata telinga Pandu benar-benar tajam. Aku harus mencatatnya dalam ingatan.
Hatiku menghangat padahal di luar rintik hujan mulai berjatuhan, aroma tahan yang basah menusuk hidungku, mengingatkanku akan wangi Pandu. Aku menepuk kepalaku pelan Pandu semakin membuatku susah tidur. Tapi aku senang sebab Pandu menjadi alasan kenapa aku susah tidur bukan Rizal.
***********************************
"Sa, kamu ikut lomba cerdas cermat bareng kak Rizal ? Mapel biologi ?" Tanya Bella saat aku tiba di depan ke kelas bersama Wulan.
"Iya..." aku heran dari mana Bella tahu padahal aku belum cerita.
"Kamu tahu gak ? Kak Pandu sama Mona juga ikut mapel matematika."
"Kamu tahu dari siapa Bel ?" Pandu tak mengatakan hal ini padaku, mungkin dia lupa atau malah sengaja menutupinya dariku.
"Dari kakak kelas yang ngobrol di km tadi. Heheheh"
"Eh ehhhh liat ke arah jam 9" kata Wulan cepat.
Pandu tengah berlari, matanya melihatku dari atas ke bawah. Dia berhenti tepat dihadapan ku.
"Aku lupa...." katanya dengan napas tersengal-sengal.
"Lupa apa ?" Aku penasaran. Wajahnya terlihat sedikit cemas.
"Lupa belum mengucapkan selamat pagi sama kamu." Senyum Pandu muncul kepermukaan.
Aku hanya mampu tersenyum sebagai jawaban, Bella memukul lengan ku pelan sedangkan Wulan berdeham berulang kali. Pandu benar, dia membuat kerja jantungku lebih cepat. Tapi aku merasa Pandu tengah menutupi sesuatu. Aku tak percaya jika Pandu berlari sampai napasnya tersengal-sengal hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku mencari kebenaran di bola matanya tapi hanya wajah ku yang terlihat.
Satu tangannya memegang paper bag. Dengan terseyum Bagas berjalan ke arah ku dan Pandu. Sudut mataku melirik ke arah Pandu, dia terlihat kesal.
"Mau ngapain kesini ?" Pandu bertanya dengan nada sarkas.
"Cuma mau ngembaliin jaketnya Sasa kak." Bagas menyerahkan paper bag padaku.
"Oh iya tadi ketinggalan di kelas. Makasih ya Bagas." Aku tersenyum diakhir kalimat.
"Iya sama-sama..." Bagas melihat ke arah Pandu.
"Ya udah kalo gitu aku pulang ya Sa." Aku mengangguk.
Motor Bagas mulai meninggalkan halaman rumah. Pandu masih diam. Dia terlihat tak suka dengan kedatangan Bagas.
"Bagas sering dateng kesini ?" Tanya Pandu. Matanya melihat ke arah ku tajam.
"Baru dua kali..."
"Kamu suka sama Bagas ?" Pertanyaan macam apa ini ? Kenapa Pandu seperti pacar yang cemburu.
Aku menggeleng. Ada letupan kecil di dalam hati ku. Aliran darahku melambat. Pandu memang mampu membuat semua organ ditubuhku tidak bekerja dengan baik.
"Bagus, aku gak larang kamu deket sama siapapun. Karna aku percaya hanya aku yang bisa membuat kerja jantung mu lebih cepat." Pandu tersenyum tipis tapi sungguh itu terlihat sangat manis.
Aku mengangguk, membenarkan perkataan Pandu. Rasanya tubuhku begitu ringan hingga aku bisa terbang.
"Satu hal yang aku minta, jangan mudah percaya dengan orang lain." Pandu membuatku berada diambang jurang. Setiap perkataannya seolah-olah mengingatkan ku bahwa akan ada peristiwa besar.
Aku hanya bisa mengangguk, rasanya semua kata-kata ku kembali tertelan. Hilang tak mampu aku ucapkan.
"Sa..." aku menoleh, Pandu melihatku dengan sorot mata lembut.
"Sasaaa..." ucapnya lirih.
Ternggorokan ku serak "i..ya"
"Sasaku..." tawa Pandu memekakkan telingaku. Pandu sialan ! Namaku seperti merk bumbu penyedap. Tapi aku tertular tawanya.
"Namamu jadi kaya penyedap makanan. Tapi aku suka. Hahhaha" Pandu masih tertawa.
"Udah sore, pulang sana..."
"Yeee malah ngusir. Ya udah aku pulang." Kata Pandu kemudian.
"Ati-ati di jalan..."
Pandu hanya mengangguk kemudian pergi bersama motornya. Bolehkan aku iri ? Pada motor Pandu ? Motornya selalu menemani Pandu kemanapun dan kapanpun. Sedangkan aku ? Tangan ku mengelus hidungku. Ah ya ! Pandu dan segala rahasianya.
*******************************************
Pulang sekolah aku dan Rizal berlatih dengan pak Edi, beliau memberikan soal-soal. Aku hanya mengerjakan sebisaku. Ada beberapa soal yang sangat asing bagiku. Setengah jam kemudian pak Edi memeriksa lembar jawabku dan Rizal.
"Kamu emang pinter, gak salah Rizal pilih kamu." Ucap pak Edi
Aku melihat ke arah Rizal, meminta penjelasan. Tapi dia hanya tersenyum tipis. Entah kenapa aku merasa sedikit curiga dengan Rizal.
Dua jam berlalu dengan sangat cepat, hanya 40 soal yang bisa aku kerjakan. Sedangkan Rizal mampu mengerjakan 95 soal. Dia memang ahli dalam biologi.
"Aku anter pulang ya ? Kali ini gak ada penolakan." Kata Rizal dengan nada sedikit lebih keras.
Aku hanya mengangguk, setengah enam pasti angkotnya gak ada yang lewat.
********************************
"Jauhi Bagas." Perkataan Rizal sukses menghentikan tanganku yang sedang memakai helm.
"Aku tahu gkamu gak suka sama Bagas. Tapi cinta bisa datang karena terbiasa." Aku masih diam tak mengucapkan apapun.
"Jangan takut padaku, dan jangan membeciku karema itu bisa jadi bumerang buat kamu." Mulutku masih membisu tak menjawab perkataan Rizal.
"Kata orang benci bisa berubah jadi cinta." Rizal tersenyum sinis diakhir kalimat. Seolah-olah dia yang menang.
Motor Rizal menembus kemacetan, memecah otakku dan menghancurkan kedamaian dalam hatiku.
*********************************
Malam ini aku tak bisa tidur, padahal jam sudah diangka 10. Dugaan ku keliru, Rizal sudah tahu yang sebenarnya dia bahkan sudah menyiapkan peluru. Aku menguap berkali-kali tapi mataku tak bisa terlelap sedikit pun. Dering telfon membuatku semakin kesal.
"Halo..." kataku.
"Kamu belum tidur ? Pasti kepikiran aku ya ?" Jawab Pandu diseberang.
"Ccckk ! PD kali !!!!" Aku mendengar Pandu tertawa.
"Tadi belajar apa sama pak Edi ?"
"Belajar pertumbuhan sama perkembangan." Jawabku singkat.
"Sama dong, aku juga lagi belajar menumbuhkan rasa percaya mu pada ku..." Pandu sengaja menggantungkan ucapannya.
Aku membuka telingaku lebar-lebar, ingin mendengar perkataan Pandu tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Sama mengembangkan rasa nyaman mu pada ku.." Pandu terkekeh geli.
"Apaan sih gak jelas banget ! Sumpah !!!" Aku tertawa sambil menggigit ujung bantal
"Udah sana tidur jangan lupa..." Pandu berhenti sejenak "jangan lupa berdo'a". Pandu tertawa kencang benar-benar menyebalkan ! Pandu Sialan !
"Kamu juga jangan lupa..." aku mengambil napas sebentar "jangan lupakan aku" kataku lirih hampir tak terdengar, tersamarkan suara angin.
"Apa ? Coba ulangi ?" Tanya Pandu ingin memastikan.
"Gak mau ah !" Aku menggigit bibir bawahku kuat.
"Aku denger. Siap Sasaku hehhehe." Ternyata telinga Pandu benar-benar tajam. Aku harus mencatatnya dalam ingatan.
Hatiku menghangat padahal di luar rintik hujan mulai berjatuhan, aroma tahan yang basah menusuk hidungku, mengingatkanku akan wangi Pandu. Aku menepuk kepalaku pelan Pandu semakin membuatku susah tidur. Tapi aku senang sebab Pandu menjadi alasan kenapa aku susah tidur bukan Rizal.
***********************************
"Sa, kamu ikut lomba cerdas cermat bareng kak Rizal ? Mapel biologi ?" Tanya Bella saat aku tiba di depan ke kelas bersama Wulan.
"Iya..." aku heran dari mana Bella tahu padahal aku belum cerita.
"Kamu tahu gak ? Kak Pandu sama Mona juga ikut mapel matematika."
"Kamu tahu dari siapa Bel ?" Pandu tak mengatakan hal ini padaku, mungkin dia lupa atau malah sengaja menutupinya dariku.
"Dari kakak kelas yang ngobrol di km tadi. Heheheh"
"Eh ehhhh liat ke arah jam 9" kata Wulan cepat.
Pandu tengah berlari, matanya melihatku dari atas ke bawah. Dia berhenti tepat dihadapan ku.
"Aku lupa...." katanya dengan napas tersengal-sengal.
"Lupa apa ?" Aku penasaran. Wajahnya terlihat sedikit cemas.
"Lupa belum mengucapkan selamat pagi sama kamu." Senyum Pandu muncul kepermukaan.
Aku hanya mampu tersenyum sebagai jawaban, Bella memukul lengan ku pelan sedangkan Wulan berdeham berulang kali. Pandu benar, dia membuat kerja jantungku lebih cepat. Tapi aku merasa Pandu tengah menutupi sesuatu. Aku tak percaya jika Pandu berlari sampai napasnya tersengal-sengal hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Aku mencari kebenaran di bola matanya tapi hanya wajah ku yang terlihat.

Komentar
Posting Komentar