Pandu dan Rindu [saat kantuk menyerang]

Aku keluar ruangan dengan hati yang berbunga-bunga. Rasanya benar-benar tak percaya. Kakiku melangkah ke ruangan matematika.

Pandu tengah menulis banyak angka yang tak begitu ku mengerti, di sebelahnya ada cewek berseragam SMA Garuda.

Pandu kembali ke samping Mona, disusul cewek yang tadi. Aku melihat jawaban Pandu (- 1) sedangkan yang satunya (1) hanya berbeda (-) / negatif saja.

Aku tersenyum getir menyadari ini hanya masalah ketelitian. Tapi aku yakin Pandu sangat jeli. Rizal berdiri tepat di samping ku. Tapi aku tak menoleh sedikit pun. Fokusku hanya ada di depan.

Juri berunding, membuat detak jantungku berdetak sangat cepat. Rasa yang tadi ku alami terulang kembali.

"Jawaban yang benarrrr adaaaaalaahhhhhh (-1). Selamat untuk SMA Nusantara...." aku melompat sambil bertepuk tangan membuat Rizal melihat ke arah ku. Tapi aku tak peduli. Sungguh aku merasa menang padahal bukan aku yang bertanding.

Semua juri dan peserta bersalaman, mataku melebar saat cewek berambut sebahu yang di tempat pendaftaran itu menyalami Pandu.

"Itukan kak Tania...kok malah ngasih selamat ke SMA Nusantara sih."

"Loh itukan mantan ketua OSIS....kok diaaa..."

Siswi-siswi di sebelahku mulai berbisik-bisik. Oh ya ! Terjawab sudah rasa penasaranku. Aku menghela napas kemudian melihat ke arah Pandu. Dia menyisir ruangan dengan jeli lalu matanya berhenti saat bertemu denganku. Pandangan kami beradu untuk beberapa saat aku merasa terbang, Pandu mencariku. Senyumnya muncul ke permukaan. Lalu aku kembali menapak di bumi saat seseorang menabrakku dari depan.

"Aduhhhh...!!!" Aku meringis, tubuhku yang kecil dihantam tubuh cowok berbadan kekar.

"Sorry..sorry...gak sengaja."

"Eh iya gak pa pa kok. Santai aja, masih tabrakan pertama belum seberapa. Hehehe" aku tertawa untuk menutupi rasa nyeri.

**********************

Tangan Rizal menarikku, dengan langkah cepat dia membawa ku keluar ruangan. Aku memandang wajah Rizal yang terlihat sedikit cemas, genggaman tangannya sangat kuat.

Aku mengusap pergelangan tanganku yang sedikit memerah. "Kenapa ?"

Rizal hanya menggelengkan kepalanya lalu berlalu, meninggalkanku dengan kebimbangan.

Aku duduk di bangku ruang tunggu setelah mengambil tasku lebih dulu. Membuka ponsel aku mengabari Wulan dan Bella. Lalu menelfon Mama.

"Maaaaaa....aku menang..."

"Alhamdulillah, udah mau pulang belum ?"

"Belum tahu, nanti Sasa telfon mama lagi." Mama menutup panggilan, aku kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.

Aku kaget saat mendengar seseorang berdeham, "Mau ku antar pulang ?" Sepertinya dia mendengar percakapanku dengan Mama.

Kepalaku menggeleng dengan cepat. Cowok yang tadi menabrakku, baru kenal tapi udah nawarin tebengan. Dia baik apa tukang ojek ?

"Rangga..." dia mengulurkan tangannya.

"Sasa..." sambil membalas uluran tangannya.

"Sekolah di Nusantara ya ?" Tanyanya dengan mata menatapku.

Aku mengangguk, lalu "kalo kamu?"

"Disini..." Aku sudah tahu dari seragamnya, yang ku lakukan hanyalah sekedar basa-basi.

"Ohhhh..." mataku terpaku saat melihat Pandu berjalan ke arah ku, aku mengeser pantatku sedikit menjauhi Rangga. Detak jantungku mulai tak beraturan, tapi aku mendesah kecewa saat dia berbelok ke arah kamar mandi.

"Kamu ikut lomba apa ?" Rangga bertanya lagi.

"Biologi...kalo kamu ?" Aku kaget saat dia hanya tertawa sedikit kencang sebagai jawaban. "Aku cuma jadi panitia, emang tampangku keliatan ada pinter-pinternya ?"

Aku menatapnya jeli, mengamati wajahnya. Kumis tipis itu menghiasi atas bibirnya. Alisnya tebal, matanya sipit seperti keturunan china. Ragu-ragu aku menggelengkan kepalaku. "Kamu gak cocok ikut lomba-lomba gini..." dia mengangkat sebelah alisnya.

"Kamu lebih cocok jadi model dengan tampangmu itu." Aku tertawa pelan.

"Ahh kamuuu..." dia ikut tertawa, aku benar saat mengatakan itu. Dia memang tampan ditambah lagi dengan bentuk tubuh yang mendukung. Dia sangat cocok untuk jadi model.

Aku melihat jam tanganku, lalu pamit pada Rangga untuk menuju ke parkiran. Di luar dugaanku dia malah mengantarku sampai ke parkiran. Baru tiga langkah aku melihat bayangan Pandu dari kaca jendela ruangan kelas. Dia berdiri mematung lalu pergi. Aku menghela napas, jangan berharap lebih Sa !

*******************

Selama perjalan pulang, aku hanya terdiam di dalam mobil. Yang lain bercerita sedangkan aku hanya pura-pura tertidur. Sebenarnya pikiranku dan hatiku sangat lelah. Pertanyaan perihal Pandu ku bawa ke dalam mimpi.

Aku terbangun ketika merasakan tepukan di pipiku. Mataku mulai terbuka, sebuah senyuman muncul di depanku. Tapi hatiku kecewa saat mengetahui senyuman itu milik Rizal.

"Aku anter pulang..." kata Rizal singkat.

Aku mengangguk dengan setengah sadar, mungkin aku akan tertidur lagi kalau harus menunggu mama. Maka Rizal adalah alternatif yang sangat tepat.

"Tunggu disini dulu, aku mau ambil motor..." aku mengangguk lagi lalu berjalan ke arah bangku. Mataku melihat sekeliling, tapi tak ku temukan Pandu dan yang lain. Sepertinya Rizal membangunkanku setelah aku tertidur untuk beberapa saat.

Tin !!!! Tinnnn !! Tin !!!!!!!

Bibirku tersenyum menyambut Rizal. Motornya melaju pelan, entah sudah berapa kali kepalaku membentur helmnya.

***********************

Saat di lampu merah, Rizal menarik tanganku untuk memeluknya. Aku kaget tapi kemudian menurut, rasa kantukku semakin parah sampai-sampai aku tertidur di punggungnya.

Aku terbangun saat motor Rizal berhenti di halaman rumah. "Terima kasih..." kataku pelan.

Rizal hanya mengangguk kemudian memutar motornya, mataku menajam melihat jalan. Disana Pandu tengah mengamatiku, saat pandangan kami bertemu dia malah menghidupkan motornya lalu berlalu.

Suara klakson Rizal menyadarkanku. Aku memukul kepalaku berkali-kali. Bodoh !!!! Bodoh !! Benar-benar bodoh kamu Sa ! Aku menyesal tapi untuk apa ? Bukankah aku dan Pandu tidak ada hubungan apa-apa ? Tapi kenapa aku. Ahhh ! Dengan menghembuskan napas kasar aku masuk ke dalam rumah.

Langkahku terhenti saat mendengar deru motor memasuki halaman, senyumku mengembang. Kantukku seketika hilang digantikan dengan detak jantung yang tak beraturan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03