Pandu dan Rindu [ kembali bertemu ]

Pandu menyerahkan jaketnya padaku. Aku memandang penuh kebingungan. Mataku berbicara, untuk apa ?

"Dipake pas pulang, biar anget hehhee." Katanya sambil berlalu.

*********************
"Sa kamu jadi latihan sama kak Rizal ?" Tanya Wulan ketika pelajaran usai.

"Iya, kamu pulang duluan aja."

"Terus nanti kamu pulangnya gimana ?" Sela Bella.

"Gampang, nanti aku ngangkot aja." Kataku singkat.

Wulan dan Bella pergi ke parkiran sedangkan aku pergi ke kelas Rizal. Dengan langkah santai aku menuju ke kelasnya. Mataku mencari sesosok itu tapi tak ketemu.

"Mau latihan dimana Sa ?" Tanya Rizal ketika melihatku di depan pintu.

"Di perpus yuk..."

Rizal mengangguk, kakinya melangkah menuju perpus.

*********************

"Duduk disana dulu, aku mau ambil buku bentar." Perintah Rizal sambil menunjuk bangku di sudut ruangan.

Aku membuka buku paket biologi yang cukup besar, mengeluarkan pensil kemudian mulai menenggelamkan diri pada materi. Sekitar 10 menit aku membaca, terdengar suara tawa yang cukup keras. Ini perpustakaan harusnya tenang kan ?

"Sssstttt berisik tahukkk !!!" Kataku sedikit keras pada seorang laki-laki dan perempuan.

Keduanya langsung menoleh ke arah ku. Aku sedikit kaget, ternyata Mona dan Pandu. Aku tersenyum miris, ada bagian hati ku yang teriris, sedikit. Mataku melihat kertas-kertas berisikan angka. Ternyata mereka juga latihan.

Aku kembali ketempat duduk, dua jam berlalu Rizal menerangkan banyak hal. Tapi hanya sedikit yang masuk dalam otak. Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku yang membuat penjelasan Rizal berhamburan keluar. Sungguh menyebalkan.

"Pulang sama siapa ?" Tanya Rizal di depan pintu perpus.

"Mau ngangkot aja, masih jam lima kok." Tanganku bergerak mengambil jaket Pandu.

"Ayo aku an..."Rizal melihat ke arah tanganku. Matanya menatap tajam.

"Ya udah hati-hati." Lanjut Rizal.

Ku kira tadi Rizal ingin memaksaku untuk pulang bersamanya tapi ternyata tidak. Rizal berjalan ke arah parkiran sedangkan aku dengan menghentak-hentakkan kaki melangkah ke depan sekolah.

Telingaku mendengar deru motor, mataku melotot melihat Mona dibonceng Pandu. Tanganku meremas jaket Pandu. Aku bahkan belum memakainya tapi sekarang tubuhku terasa panas. Lengkap sudah hari ini.

Motor Rizal melaju dari parkiran, rasa sesal mulai menghampiriku. Aku melanjutkan langkah dengan gontai. Kepalaku menunduk melihat ke tanah.

Tin !!! Tinn !!! Tin !

"Ayo naik !" Aku mengangkat kepalaku perlahan.

Hatiku berdesir, rasa panas perlahan hilang digantikan rasa sejuk yang mampu membuatku terseyum.

"Mona mana ?" Tanyaku.

"Di depan ? Lagi ngetem." Kata Pandu singkat.

Aku tertawa di dalam hati, merasa menang atas Mona. Kepalaku membesar sepertinya mulai sombong. Biarlah ! Aku tak peduli.

Setelah aku memakai jaketnya, Pandu mulai melajukan motor. Mataku melihat Mona sedang menunggu angkot. Aku tersenyum ke arahnya. Tapi dia malah melengos tawaku semakin lebar.

Langit mulai berubah warna, senja mulai menyapa ku dan Pandu yang tengah berdua. Ah ! Kenangan bersama Pandu bertambah.

******************************

"Makasih..." kataku saat motor Pandu berhenti di depan rumah.

"Kembali kasih, aku langsung pulang."

"Iya ati-ati." Ku akhiri dengan senyuman.

Setelah selesai mandi, aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. Mataku mulai menutup perlahan. Namun dering ponsel membuatku terbangun. Siapa malam-malam telfon, tanpa nama ? Aku ragu untuk mengangkatnya tapi ponselku terus berdering.

"Halo...siapa ?" kataku lirih.

"Rizal. Besok latihan pulang sekolah."

"Iya..."

"Di tempat bu Laksmi, ku tunggu diparkiran." Kata Rizal singkat.

"Loh...kenapa gak di peerr...."

Tuttt !!! Tuttt !! Tut !!!! Sambungan terputus. Dengan kesal aku melempar ponselku ke kasur.

Ponselku kembali berdering tanganku meraihnya gesit.

"Halo...kenapa gak di perpus aja sih ?!" Protesku.

"Apanya ?" Suara Pandu terdengar dari seberang. Aku memukul mulutku pelan.

"Emmmm...besok latihan bareng Rizal tapi gak di perpus." Kataku pelan.

"Dimana ?" Tanya Pandu.

"Di bu Laksmi." Jawabku cepat.

"Ohhhh..." kata Pandu singkat.

Cuma oh doang ? Respon Pandu kali ini benar-benar di luar dugaan. Aku menghela napas pelan. Tiga menit berlalu tanpa obrolan apapun. Pandu diam tanpa bersuara, hanya deru napasnya yang terdengar. Tapi aku yakin Pandu belum tidur, tiba-tiba sambungan terputus. Aku masih melihat ponselku berharap Pandu kembali menelfonku. Nyatanya ponselku tetap dalam genggaman sampai aku terlelap.

************************

Seharian di sekolah aku tak melihat Pandu bahkan sampai pulangpun Pandu tak menampakkan batang hidungnya. Aku menceritakan semuanya pada Wulan dan Sasa saat berjalan menuju parkiran.

"Ckckckk biar tahu rasa itu si ulet bulu !" Kata Wulan sarkas.

"Aku heran sama sifatnya kak Pandu deh Sa, bener-bener susah ditebak." Bella menimpali.

Aku hanya mengangguk lalu mengangkat kedua tanganku.

"Aku latihan dulu, daaaaa..." kataku lesu.

Rizal sudah menungguku di atas motornya, dia sama gagahnya dengan Pandu tapi entah mengapa di mataku hanya Pandu yang terlihat keren. Ah Pandu, aku mulai rindu ! Padahal baru sehari tidak bertemu tapi rasanya sudah ribuan purnama aku lalui tanpa dirimu.

***********************

"Mau pesen apa ? Disini ada ikan nila, ikan lele, ikan gurame..." terang Rizal saat sampai di tempat makan Bu Laksmi.

"Ikaannmuu yang lagi cemberuuuttt !!!!" Aku tertawa dalam hati saat mengingat perkataan Pandu waktu itu.

"Ikan lele aja, minumnya es teh." Aku merasa tak bersemangat sedikitpun.

Rizal mengatakan pesanan kepada pelayan, setelah pelayan itu berlalu aku mulai mengeluarkan suaraku.

"Kenapa gak di perpus aja sih." Tanyaku kepo.

"Bosen." Katanya singkat.

Bosan ? Baru juga sekali disana ? Dasar aneh ! Benar-benar aneh bin nyebelin !

"Terus kenapa malah milih di tempat makan ?!" Tanyaku berapi-api.

"Laper..."

Bicaranya irit banget ya Tuhan. Demi Tuhannn !!! Rasa kesal ku semakin bertambah. Rizal sialan !

"Kenapa gak makan di kan..."

"Udah diem ! makan dulu keburu dingin."

"Ckckkk ! Dasar keras kepala !" Desisku pelan.

Tuhkannn ! Emang nyebelin nih orang ! Rasanya pengen ngasih kepala lele ke mukanya. Tapi mana berani aku. Hahaha !

Aku hanya diam melihat lele di depanku. Rizal melihat ke arahku kemudian mengambil lele dari piringku, aku melotot ke arahnya. Dia meletakkan lele dipiringnya lalu memisahkan daging dari durinya.

Dia mengambil piringku yang kosong, lalu menggantinya dengan piring yang berisi lele. Aku mengucapkan terima kasih tanpa suara. Perubahan sikap Rizal yang mampu membuatku takjub.

Kami makan dalam diam, sesekali Rizal melihat ke arahku. Pandangannya membuatku salah tingkah. Aku merasa udara berubah menjadi panas atau aku hanya kepedasan entahlah ?

"Jika keras kepalaku merugikan mu, tolong ingatkan aku. Sebab aku tak ingin merugikan yang lain juga. Cukup kamu saja. Hahhahah." Rizal tertawa diakhir kalimatnya.

Aku tertular tawanya "Dasar nyebelin !!" . Suara tawa Rizal masih terdengar ditelingaku.

"Sama siapa kak ?" Aku menoleh ke arah sumber suara. Rizal menghentikan tawanya.

"Sasa..." jawab Rizal singkat.

Dengan santainya dia langsung duduk disamping Rizal. Tangannya terulur ke arahku. Aku memandangnya jeli, seperti pernah lihat tapi dimana ? Aku masih membuka kembali memoriku. Ahhh !!! Aku ingatttt !!! Diaaa kan !!!










Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03