Pandu dan Rindu [ hamparan pasir ]

"Rere..." tangannya terulur ke arahku.

"Sasa..." jawabku sambil terseyum kecil.

Dia menyisir poninya lalu memesan makanan. Mataku enggan melihat yang lain Rere begitu memikat, bibirnya merah muda, matanya bulat besar, suaranya mengalun merdu.

"Kamu kelas berapa ?" Katanya mengagetkanku.

"Baru kelas satu kok, kalo kamu ?" 

"Sama, tapi aku di SMA Garuda." Jawabnya sambil meminum es jeruk milik Rizal.

"Kenal Bagas ?" Lanjutnya pelan.

Rizal hanya diam tak ikut dalam percakapan ini, tangannya sibuk bermain ponsel.

"Bagas Ardi ? Satu kelas malah." Aku mulai penasaran.

"Oh gitu...salam ya buat dia. Hehehe."

"Apaan sih dek !" Rizal membuka suaranya. Pandangannya terlihat kesal.

Rere hanya cengengesan gak jelas. Tangannya membenarkan poninya lagi. Aku merasa bingung, kenapa Rere malah bertanya tentang Bagas ? Kenapa gak tanya tentang Pandu ?

"Kalo sama kak Pandu kenal ?" Kata Rere kemudian.

Aku tersedak, berdeham lalu "ke..kenal." sialan aku gagap.

"Salam ya buat kak Pandu, bilangin dicariin mantan ketua OSIS Garuda gitu hehehee..." Rere kembali meminum es jeruknya. Rasa haus Rere menular kepadaku. Tanganku bergerak mengambil es teh lalu meminumnya.

Aku berdeham untuk menetralkan suaraku. "Mantan ketua OSIS ?" tanyaku dengan nada lirih.

Rere hanya mengangguk sungguh respon yang tidak ingin aku lihat. Aku ingin bertanya lebih tapi aku takut Rere curiga padaku. Sorot mata Rizal menajam ke arah ku. Sepertinya dia ingin melihat responku.

"Kak, anterin aku ke toko kue ya. Pengen beli brownis pleaseee." Kata Rere manja.

"Kakak bareng Sasa dek..." Rizal melihat ke arah ku.

"Ehhh ehh aku bisa pulang sendiri kok Kak. Beneran." Kataku sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan.

"Tuhhhkannn....ayolahhh..." rengek Rere, tangannya menggoyang-goyangkan tangan Rizal.

"Iya udah. Maaf ya Sa." Kata Rizal sambil mengambil piring Rere yang berisi ikan nila bakar kemudian ia memisahkan daging dari durinya.

Aku mengangguk sebagai jawaban, mataku masih memperhatikan gerakan tangan Rizal, setelah selesai Rizal kembali menaruh piring tadi ketempat semula. Perbuatan Rizal tadi sama persis seperti yang ia lakukan padaku. Ternyata dia memang seperti itu. Syukurlah aku merasa tenang sekarang.

"Makasih kakakku tersayang." Kata Rere dengan nada manja.

"Iya, dasar adek manjaaa !" Tangan Rizal membelai kepala Rere lembut.

Rere mulai menyibukkan diri dengan makanannya. Rizal sibuk dengan ponselnya sedangkan aku sibuk dengan pikiranku ternyata Rere adiknya Rizal berarti mantannya Bagas. Pantas saja dia bertanya tentang Bagas lalu siapa mantan ketua OSIS Garuda ?

Bunyi ponsel menyadarkanku ada satu pesan dari Pandu.

Pandu : dimana ?

Ada letupan kecil dari dalam hatiku, senyumku terbit dalam waktu singkat.

Sasa : masih di tempat Bu Laksmi. Kenapa ?

Pesanku sudah dibaca Pandu tapi ia belum juga membalasnya. Aku mulai kesal, kemudian meletakkan ponselku di meja.

"Kami pulang dulu ya Sa, ati-ati di jalan..." pamit Rere. Aku mengangguk, kemudian mereka berlalu menuju kasir dan keluar.

Aku masih menikmati sore dengan aroma ikan bakar, suara sendok yang beradu dengan piring juga pikiran mengenai Pandu.

Ponselku kembali berdering, Pandu menelfonku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menyebalkan sekali ! Selalu saja seperti ini.

"Halo...kenapa ?" Kataku sewot.

"Keluar sekarang..." jawab Pandu cepat.

"Ngapain ? Gak mau ah..." tapi tubuhku bertindak lain, kakiku mulai melangkah menuju pintu.

Tepat di bawah pohon angsana, Pandu tengah duduk di atas motornya, tangannya masih menempelkan telfon ke telinga. Aku tersenyum rasanya seperti ada pelangi padahal hari ini tidak hujan.

"Haloo...cepetan keluar !" Kata Pandu tak sabaran.

Aku tetap membisu menikmati ekspresi wajah Pandu tak ingin melewatkan gerakan kecil darinya. Namun kakiku terus melangkah menuju Pandu ku pikir jaraknya tak jauh tapi terasa lama.

Pandu mematikan telfonnya, dia turun dari motornya. Aku tahu dia akan menjemputku tapi saat mataku dan matanya bertemu dia membeku, daun-daun kering berjatuhan tertiup angin, semesta seolah-olah mendukungku bersama Pandu.

Senyum Pandu muncul ke permukaan saat aku berdiri dihadapannya. Dia menyerahkan helmku mungkin tadi dia bertemu dengan Rizal. Entahlah aku tak ingin mencari tahu tentang itu.

"Mau jalan-jalan ?" Ajak Pandu.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Motornya melaju membelah kemacetan, senja mulai menyapaku tapi mataku enggan perpaling dari punggung Pandu, rasanya ingin memeluknya lebih erat tapi aku takut dia tak bisa bernapas. Wangi Pandu merusak kewarasanku, tubuhku merapat dengan sendirinya, mataku menutup sempurna menghirup aroma Pandu yang mengoda.

*****************************

Hamparan pasir terbentang menyambutku. Tangan Pandu membantu ku melepas helm, aku mengucapkan terima kasih dengan penuh tenaga tapi suarnya tak terdengar.

Dengan tak sabar aku berlari ke arah gubuk kecil, rasanya sangat kekanak-kanakan tapi aku tak bisa menahan rasa kagumku lebih lama lagi. Pandu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Langkah kakinya mulai menyusulku.



Mataku menoleh ketika Pandu duduk disebelahku, dari sini wajah Pandu semakin bertambah sempurna, senja di belakang tubuhnya, hamparan pasir yang berkilauan. Ah Pandu ! Aku semakin terpikat padamu.

Aku kaget saat tangan Pandu mengenggam tanganku. Tapi anehnya aku tak ingin protes, sama sekali tidak ! Sekalipun jantungku benar-benar beradu, aku tak takut bila tiba-tiba berhenti berdetak. Pandu melihatku sebentar lantas matanya mengarah pada hamparan pasir yang terlihat seperti berlian dan emas.

Hatiku berdesir saat melihat ke bawah, senyum kecil itu terbit dengan sendirinya sedari tadi. Aku bahkan tak peduli pada pandangan orang-orang yang menatapku aneh. Mungkin mereka kira aku gila, tapi dugaan mereka benar. Aku gila karena semesta yang begitu indahnya bisa ku nikmati bersama ciptaan Tuhan yang tak kalah indah.

Ada bagian hatiku yang memberontak ingin tahu siapa Mantan ketua OSIS, tapi aku ingin egois kali ini. Tak ingin merusak kenangan yang Pandu ciptakan dengan kecemburuan.

Setahuku, cinta ada karena rasa nyaman bukan jabatan. Jadi untuk apa aku balik kanan bubar jalan ? Ku rasa itu tidak perlu !

Mataku menatap Pandu lagi lalu bergerak ke bawah tangannya masih menyelimuti tanganku. Aku terseyum kecil saat pandanganku dan Pandu beradu. Jantungku semakin berdetak tak karuan, tapi aku menikmatinya.

Cinta mungkin sesederhana ini; saat ku tatap matamu aku melihat diriku yang sedang bersedih terlihat baik-baik saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03