Pandu dan Rindu [pulpen yang mengenaskan]

Tak terasa sudah satu bulan aku berlatih biologi dengan kak Rizal. Tepat hari ini, perlombaan lomba cerdas cermat di SMA Garuda diadakan.

Semua perwakilan dari sekolahku berangkat menggunakan mobil sekolah kecuali Pandu yang berangkat lebih dulu untuk mengurus pendaftaran ulang.

Suasana di sma Garuda sangat ramai, penuh dengan siswa beraneka seragam. SMA Garuda memang sekolah favorit setelah sekolahku. Maka tak heran jika banyak peserta yang mengikuti lomba.

Aku berjalan bersama rombongan. Ditempat pendaftaran Pandu tengah mengobrol asyik dengan seorang siswi tapi wajahnya asing. Kami pun berlalu mencari tempat duduk yang telah disediakan.

Mataku masih setia memandang Pandu, entah sudah yang berapa kali Pandu tersenyum dengan siswi itu. Sepertinya siswi itu begitu ramah, atau mereka sudah kenal dekat. Entahlah aku tak mau tahu.

Pandanganku menyebar melihat semakin banyak peserta yang datang. Tanganku semakin terasa dingin. Jantungku berdetak tak tenang, keringat sebesar biji jagung mulai berjatuhan.

Menghirup udara sebanyak mungkin lalu aku mengerluarkannya perlahan. Rizal memperhatikan ku, dia tersenyum padaku. Mencoba menyemangati ku.

Mataku melotot saat melihat siswi tersebut memasangkan kartu peserta pada Pandu. Bukankah dia terlalu baik ? Kemudian Pandu datang dengan membawa kartu peserta. Dia membaginya satu per satu, dia bahkan tak melihat ke arah ku. Tubuhku masih membeku sampai Rizal datang mengangetkan dengan menyerahkan kartu pesertaku. Aku tersenyum sebagai tanda terima kasih.

Pandu kembali mengobrol dengan siswi tersebut, baru lima menit mereka mengobrol tapi bagiku itu terasa terlalu lama. Si ulet bulu datang menghampiri mereka dengan membawa buku. Pandu menuliskan sesuatu pada kertas, ku rasa si ulet bulu bertanya tentang soal latihan.

Tanganku mengenggam buku biologi yang belum tersentuh sedikit pun. Ulet bulu kembali dengan wajah masam, sepertinya dia mulai kesal dengan Pandu. Aku mengedarkan pandanganku ingin ke kamar mandi. Ah ya kamar mandi ada di ujung lorong, itu artinya aku harus melewati Pandu.

"Kak, aku mau ke kamar mandi bentar..." pamitku.

"Iya jangan lama-lama..." jawab Rizal singkat.

Aku mengangguk lalu berjalan pelan, tepat disamping Pandu jantungku berdetak tak karuan. Wangi Pandu benar-benar membuatku tenang kali ini. Rasanya aku ingin berlama-lama dengannya tapi tak mungkin. Suara tawa siswi itu menyadarku untuk segera pergi ke kamar mandi.

**********************

Apakah aku sudah berubah bentuk menjadi butiran debu ? Kenapa Pandu tak melihatku sedari tadi. Dengan mengehentak-hentakkan kaki aku masuk ke dalam kamar mandi. Sepi tak ada satu orang pun di dalam. Aku ingin keluar, tapi rasanya tak bisa ku tahan lebih lama lagi. Berdo'a dalam hati aku masuk ke dalam bilik. Ah rasanya benar-benar lega, gerakan tanganku yang membuka pintu terhenti saat mendengar suara dari luar.

"Aku seneng deh Re, ketemu Pandu lagi. Kamu liatkan tadi Pandu ganteng bangetttt..." nadanya mengebu-gebu.

"Iya aku juga ikutan seneng. Semoga jadi awal yang baik ya kak." Aku kenal suara itu.

"Aamiin udah yuk, acara udah mau mulai nih." Derap langkah kaki kembali ku dengar. Sepetinya mereka sudah keluar.

Hatiku terasa begiti nyeri, aku mencoba bernapas pelan tapi rasanya semakin nyeri. Oh tidak ! Apakah sekarang aku memiliki penyakit hati ? Dadaku semakin sesak saat teringat percakapan barusan. Tanganku bergerak ke atas menepuk dadaku.

"Peserta dimohon untuk segera memasuki ruangan" suara  dari speaker terdengar sayup-sayup.

Aku membasuh wajahku dengan air, kemudian kakiku yang lemas ku paksa untuk keluar. Bagian hatiku masih sedikit terasa nyeri. Siapapun tolong ingatkan aku untuk segera pergi ke dokter.

"Astagfirullah..!" Teriakku. Tanganku bergerak mengelus dadaku untuk menetralkan detak jantung.

"Untung kamu cepet keluar kalo gak ? Pintu ini mau aku dobrak !" Kata Rizal dengan nada kesal.

Aku hanya menampilkan cengiran yang lebar "maaf kak tadi mules hehehe."

Kami berjalan menuju ke lantai dua, saat aku ingin masuk ke dalam ruangan. Mataku melihat Pandu dengan siswi itu di depan pintu. Tangan Pandu terulur menerima pulpen dari siswi itu. Aku mengangkat sudut bibir ku ke atas. Tersenyum miris melihat pemandangan yang begitu romantis.

"Buruan Sa !" Rizal melotot ke arah ku.

Aku mengigit bibir dalam ku dengan kepala menunduk melihat lantai. Kakiku berjalan pelan memasuki ruangan.

Aku dan Rizal duduk di barisan paling depan. Terdapat 15 pasangan di ruangan ini, rasanya begitu sesak. Udara penuh dengan persaingan. Aku kembali merasakan tanganku berubah menjadi dingin.

"Jumlah soalnya ada 30 butir, waktunya 30 menit. Akan ada 10 pasangan yang akan tersisih dibabak ini." Terang pengawas berkaca mata.

"Silakan kerjakan dengan sebaik-baiknya." Lanjutnya setelah membagi soal.

Rizal membagi kertas menjadi dua bagian. Aku dari nomor 1-15 sedangkan Rizal nomor selanjutnya. Kami mengerjakan dalam diam. Beberapa soal aku lewati, keningku berkerut mencoba menggali memoriku. Pikiranku benar-benar buntu di nomor 15, bab persilangan. Aku memutar-mutar pulpenku, tapi sialnya kejadian di depan pintu tadi semakin membuatku kesal. Tanganku mengepal lalu mencoret-coret kertas sampai menimbulkan suara berisik.

Pandangan Rizal membuatku terdiam, sorot matanya tajam memintaku untuk diam. Aku memukul kepalaku pelan. Lalu kembali membuka soal. 20 menit berlalu, Rizal menarik kertasku. Dia memeriksanya, wajahnya benar-benar fokus. Beberapa kali dia berdecak. Aku mulau berdo'a dalam hati.

"Ccckkk !!! Fokus dong Sa. Ada lima soal yang jawabannya salah." Nadanya dingin.

Aku semakin menggigit kuat bibir bagian dalam. Lalu kepalaku mengangguk pelan. Sebegitu dahsyatkan efek siswi tersebut padaku. Kenapa dalam sekejap dia menyita perhatian Pandu dari ku ? Pulpenku terjatuh ke lantai dengan mengenaskan. Bukan terjatuh tapi aku yang membantingnya dengan sengaja.

Tanganku terulur mengambil pulpenku, sudut bibirku melengkung, tersenyum menyadari pulpenku patah menjadi dua bagian. Aku menghela napas, memenjamkan mataku sambil menarik-narik hidungku. Rasa pusing kembali menyerangku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03