Pandu dan Rindu [di atas awan]
Panitia memberikan waktu 30 menit untuk ISHOMA. Semua peserta kembali pada base camp masing-masing. Aku memilih mencari tempat yang sepi untuk menenangkan diri.
Suara gemericik air dan ikan mas yang berenang kesana-kemari membuatku nyaman. Aku mengamati gerakannya, sudut bibirku melengkung sedikit. Menghela napas perlahan aku kembali membaca buku biologi.
Fokusku tiba-tiba lenyap saat seseorang datang menatap. Mengambil tempat tepat di sebelahku. Tanganya menyerahkan es coklat padaku.
"Makasih..." ucapku lirih.
Aku mulai meminumnya, matanya masih mengawasi. Lalu Pandu berbisik di telingaku. Napas hangatnya menerpa pipi.
"Tetaplah disisiku saat kau tahu betapa bodohnya aku di masa lalu. Sebab..." aku menoleh menatap kedua matanya "aku ingin belajar indahnya dunia bersamamu." Pandu tersenyum diakhir kalimat.
Hatiku berdesir rasa hangat itu mulai menyerang bersamaan dengan rasa penasaran juga ketakutan. Masa lalu Pandu ? Aku ingin bertanya lebih banyak tapi perkataan Pandu membuatku menelan pertanyaanku.
"Kau tak perlu mencari tahu karena semua itu sedang menujumu pelan-pelan."
Aku menelan ludahku dengan susah payah.
Pandu masih menatap mataku kali ini tatapannya sendu "ku mohon jadilah kuat untukku, Sa." Bibirku kelu tak mampu untuk mengeluarkan suara.
"Sekuat macan. Hahahhaa" tawa Pandu menular padaku. Aku senang ketika tawaku bercampur dengan tawanya rasanya aku sedang mendengarkan konser musik terindah di dunia.
Lesung pipi Pandu semakin membuatku lupa diri. Tanpa sadar tanganku bergerak menyentuh pipinya. Pandu kaget, dia menghentikan tawanya lalu matanya melotot ke arah ku. Tawaku semakin kencang, "ternyata asli.." kataku disela-sela tawa.
Pandu berdeham setelah aku menurunkan tanganku. Pandu mengacak rambut belakangnya. Aku tersenyum tenyata dia juga bisa salah tingkah. Lain kali aku akan melakukannya lagi, ekspresi Pandu membuatku ketagihan.
Dering ponsel Pandu mengagetkan kami, saat dia merogoh ponselnya dari dalam saku, aku melihat foto yang membuatku semakin penasaran.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Memang selalu seperti itu, yang di atas awan bisa terjun ke jurang kapan saja.
Suara gemericik air dan ikan mas yang berenang kesana-kemari membuatku nyaman. Aku mengamati gerakannya, sudut bibirku melengkung sedikit. Menghela napas perlahan aku kembali membaca buku biologi.
Fokusku tiba-tiba lenyap saat seseorang datang menatap. Mengambil tempat tepat di sebelahku. Tanganya menyerahkan es coklat padaku.
"Makasih..." ucapku lirih.
Aku mulai meminumnya, matanya masih mengawasi. Lalu Pandu berbisik di telingaku. Napas hangatnya menerpa pipi.
"Tetaplah disisiku saat kau tahu betapa bodohnya aku di masa lalu. Sebab..." aku menoleh menatap kedua matanya "aku ingin belajar indahnya dunia bersamamu." Pandu tersenyum diakhir kalimat.
Hatiku berdesir rasa hangat itu mulai menyerang bersamaan dengan rasa penasaran juga ketakutan. Masa lalu Pandu ? Aku ingin bertanya lebih banyak tapi perkataan Pandu membuatku menelan pertanyaanku.
"Kau tak perlu mencari tahu karena semua itu sedang menujumu pelan-pelan."
Aku menelan ludahku dengan susah payah.
Pandu masih menatap mataku kali ini tatapannya sendu "ku mohon jadilah kuat untukku, Sa." Bibirku kelu tak mampu untuk mengeluarkan suara.
"Sekuat macan. Hahahhaa" tawa Pandu menular padaku. Aku senang ketika tawaku bercampur dengan tawanya rasanya aku sedang mendengarkan konser musik terindah di dunia.
Lesung pipi Pandu semakin membuatku lupa diri. Tanpa sadar tanganku bergerak menyentuh pipinya. Pandu kaget, dia menghentikan tawanya lalu matanya melotot ke arah ku. Tawaku semakin kencang, "ternyata asli.." kataku disela-sela tawa.
Pandu berdeham setelah aku menurunkan tanganku. Pandu mengacak rambut belakangnya. Aku tersenyum tenyata dia juga bisa salah tingkah. Lain kali aku akan melakukannya lagi, ekspresi Pandu membuatku ketagihan.
Dering ponsel Pandu mengagetkan kami, saat dia merogoh ponselnya dari dalam saku, aku melihat foto yang membuatku semakin penasaran.
"......."
"Segera meluncur." Pandu mematikan ponselnya lalu memasukkan ke dalam saku.
"Ayo makan dulu yang lain udah nunggu..." ajak Pandu, aku menurut mengikuti langkah Pandu dari belakang. Aku tak memperhatikan jalan, masih fokus dengan es coklat pemberiannya.
Sampai akhirnya aku menabrak punggunya. Untung saja es coklatnya tidak tumpah. Aku semakin kaget saat tangan Pandu menarikku.
"Kalo jalan sama aku itu disamping jangan dibelakang, kamu terlalu cantik untuk ditinggal." Kata Pandu dengan nada jailnya.
Aku kira Pandu ingin memarahiku tapi ternyata dia malah membuat pipiku merah padam. Pandu benar-benar sialan !
Tautan jemariku dan pandu tak terlepas sama sekali saat kami melangkah melewati lorong yang sepi. Kami berjalan dalam diam, aku menikmati detak jantungku yang tak beraturan sama sekali, sesekali aku menatap wajah Pandu. Aku tersenyum kecil merasa menjadi wanita yang paling beruntung di muka bumi.
Aku bernapas lega saat Pandu melepas genggaman tanganku. Suasana ramai mulai menyapa, membuatku kembali disergap rasa gugup yang tak terkendali.
"Esnya diminum lagi Sa." Kata Pandu.
Kepalaku mengangguk sebagai jawaban lalu melakukan perintah Pandu. Aku meminum dalam diam sampai di depan pintu base camp aku berhenti untuk membuang gelas es coklat. Gerakan tanganku terhenti Pandu mengambil gelasnya. Aku menatapnya penuh selidik.
"Masuk..." nada Pandu pelan tapi aku tahu dia tak mau dibantah.
Lagi-lagi aku hanya menurut, Pandu dan segala pesonanya mampu membuat dia semakin berkuasa atas diriku. Pipiku memanas, aku buru-buru mengusapnya tapi sialnya pipiku semakin bertambah panas saat wangi Pandu yang tersisa tercium oleh hidungku.
Saat aku masuk ke dalam ruangan, semua orang memandangku penuh selidik. Tanganku mengangkat buku biologiku ke atas. Mereka kembali sibuk dengan makanannya. Aku mengambil duduk disebelah Mona karena hanya itu kursi yang tersisa. Tak berselang lama kemudian, Pandu masuk. Ia mengambil duduk di sebelah Rizal dan Bagas. Sesekali pandanganku dan Rizal beradu.
Rizal mencuri pandang padaku dan semua itu tak luput dari pengawasan Pandu. Aku merasa seperti orang yang bersalah. Kemudian aku hanya menunduk melihat paha ayam yang tinggal separuh. Atau membuang pandangan ke segala arah, kemana pun itu asalkan tak melihat Pandu.
************************
Masing-masing dari kami membubarkan diri kembali ke medan laga. Aku menghela napas pelan, setidaknya es coklat membuatku sedikit lebih tenang.
Pandu mengepalkan tangannya padaku mengucapkan semangat tanpa suara sebelum dia menghilang masuk ke dalam ruangan cerdas cermat Matematika.
"Babak ini adalah babak rebutan ada 15 soal. Kalian bisa menjawab sebelum pertanyaan selesai dibacakan." Kali ini wanita paruh baya yang menjelaskan jalannya perlombaan.
Perolehan point SMA Garuda dan SMA Nusantara seri, tinggal ada 1 pertanyaan lagi artinya kami berada dalam final sekarang. Detak jantungku benar-benar tak karuan, keringat sebesar biji jagung mulai berjatuhan.
"Sel di dalam tubuh yang tidak dapat memanfaatkan senyawa keton sebagai sumber energinya adalah..." Tidak ada yang menjawab sebelum pertanyaan selesai.
Aku melihat ke arah Rizal tapi dia hanya menggeleng. Aku menghela napas pelan, aku tahu jawabnya tapi aku masih ragu. Dengan bimbang aku mengangkat tangan.
Rizal menoleh ke arah ku, dia terlihat cemas. Sungguh aku pun begitu bahkan sekarang perutku terasa sakit. Tanganku basah kakiku sedikit gemetar. "Sel da...rah me...rah." sial aku benar-benar gugup. Para juri berunding, untuk beberapa saat aku berhenti bernapas.
Jika jawabanku salah maka dipastikan SMA Garuda yang akan menang. Itu berarti aku adalah penyebab kekalahan kali ini. Aku merapalkan semua do'a lalu memejamkan mata saat juri mulai membuka suara.
"Jawabannyaaaaaaaaa benarrrr !!!! Selamat untuk saudara Rizal dan Alisa dari SMA Nusantara." Suaranya memecahkan kepalaku.
"Alhamdulillah..." aku berkata lirih sambil mengusap wajahku dengan kedua tangan.
Rizal tersenyum padaku "kita menang Sa, kamu hebat !!!!" Aku tersenyum merasa menjadi pahlawan kali ini.
Para juri dan peserta bersalaman. Aku merasa sedikit iba ketika melihat wajah lesu dari perwakilan SMA Garuda. Mungkin mereka merasa malu karena mereka kalah di kandang sendiri.
"Menang kalah itu biasa dalam perlombaan. Kalian hebat hanya saja kami lebih beruntung." Aku tersenyum diakhir kalimat.
Rita perwakilan siswi dari SMA Garuda langsung memelukku. Air mata yang ku tahan dari tadi menetes dengan sendirinya. Rasa haru dan iba bercampur menjadi satu.
"Selamat !! Tapi jangan senang dulu, lain kali aku akan mengalahkan mu..." dia tertawa sedikit keras kemudian tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipi.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Memang selalu seperti itu, yang di atas awan bisa terjun ke jurang kapan saja.

Komentar
Posting Komentar