Pandu dan Rindu [Pagi bersama Pandu]

Aku menetralkan detak jantungku "kenapa ?" Tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Ada yang ketinggalan..." alisku menyatu memikirkan perkataan Pandu.

"Apa ?" Tanyaku penasaran.

"Hati akuuuu..." sialan ! Pandu memang selalu menggodaku. Dia tertawa terbahak-bahak. 

"Hahahha tuh kan pipimu merah." Aku cemberut, malu teramat malu malah.

Kedua tanganku menutupi wajahku, aku tertawa untuk menetralkan detak jantung yang semakin tak menentu. Pandu berhasil membuat wajahku semerah tomat. 

"Besok minggu, jalan yukkk..." dia berkata disela-sela tawaku.

Aku terdiam lalu menatap matanya. Tak ku temukan pandangan menggoda, Pandu serius kali ini. Dia mengajakku jalan, apa ?! Jalan ! Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Lalu kepalaku mengangguk dengan sadar. 

"Jangan lupa pake celana." Kata Pandu. Aku mengangguk.

"Pake rasa juga..." Pandu benar-benar tak membiarkan aku bernapas normal kali ini.

Aku mengangguk lagi, tak ingin memungkiri apa yang terjadi. Kali ini aku jujur dengan hatiku sendiri, rasa maluku bahkan menguap entah kemana.

"Aku pulang..." ucap Pandu cepat. Motornya mulai meninggalkan halaman.

Mataku tak bisa berpaling ke arah yang lain. Bagiku punggung Pandu adalah pemandangan yang paling menarik. Membuatku ingin berteriak Pandu ku mohon berbalik ! Tapi suaraku teredam oleh suara detak jantungku sendiri juga suara motornya.

***************************

Malamnya Aku menelfon Wulan dan juga Bella, kata-kataku mengalir begitu saja menceritakan tentang kejadian yang aku alami tadi. 

"Bentar-bentar aku cari tahu dulu siapa si Tania." Kata Bella dari seberang.

"Kak Pandu kok kaya ngejauh gitu ya Sa, Kalo kamu lagi sama kak Rizal ? Iya gak sih ?" Ucapan Wulan menyadarkanku.

"Kalo dipikir-pikir kamu ada benarnya juga sih Wul." 

Aku teringat saat Rizal mengantarku pulang Pandu juga ada di rumahku tapi dia berlalu. Apakah Pandu juga mengikutiku ? Kalau iya berarti dia melihatku tertidur di punggung Rizal. Tapi kenapa dia pergi dan kembali lagi saat Rizal sudah tak ada lagi di rumahku. 

"Tania itu biasa dipanggil Tata, katanya sih dia mantannya Pandu." Cerocos Bella membuatku tersadar dari lamunan.

"Pacarannya kapan ?" Wulan menimpali.

"Nih ya katanya lagi, mereka pacaran dari SMP terus putus kelas 1 SMA." Perkataan Bella kali ini membuatku susah untuk bernapas.

"Terus kenapa mereka putus ?" Tanya Wulan lagi. Aku ingin berterima kasih padanya sebab semua yang ada di kepalaku sudah ia katakan.

"Gak ada yang tahu...." Bella menghela napas. Ku akui jurus keponya bermanfaat kali ini.

"Halooo Saaa, kamu belum tidurkan ?" Tanya Bella dengan nada panik.

"Belum kok, aku denger semuanya." Aku berkata dengan lesu.

"Udah jangan sedih dulu, lebih baik sekarang kamu pilih baju buat pergi besok deh Sa." Wulan mencoba menyemangatiku.

"Iya bener, bisa-bisa besok kamu kesiangan gara-gara gak bisa tidur malam ini. Belum lagi besok pasti kamu bingung mau pake baju apa. Ya kan Wul ?" Mereka berdua tertawa. Aku ikut tertular tawa mereka, rasa sakitku sedikit memudar.

Aku membuat panggilan video dengan Wulan dan Bella. Tanganku membuka almari, mengambil beberapa baju. Aku menunjukkan satu persatu pada mereka.

Bella mengangguk sedangkan Wulan menggeleng. Begitu seterusnya, aku bahkan sampai pusing. 

Pakaianku tersebar di atas ranjang. Aku menggelengkan kepalaku berulang kali. Menatap horor ke arah almari yang sudah kosong. Aku berdecak sebal, Pandu membuatku menjadi pengacau malam ini.

Dengan sisa tenanga aku berjalan ke arah almari lalu menunjukkan satu-satunya pakaian yang tersisa.

"Cocok ! yang itu aja Sa." Kata Wulan bersemangat.

"Masukkk pak Ekooo !!!" Ucap Bella sambil mengangkat salah satu ibu jarinya.

Aku mengela napas kasar. Mengangguk lalu mematikan panggilan video. Ternyata bukan Pandu yang jadi alasanku tidak bisa tidur melainkan baju-baju yang bertebaran. 

***************************

Masih jam setengah delapan pagi tapi aku sudah mandi, dan saat ini aku sedang menyibukkan diri berdandan di depan kaca. Tanganku memoleskan bedak tipis, lipstick yang natural. Tak lupa aku juga menyemprotkan parfum ke tubuhku. 

Dengan bersenandung kecil aku menuruni tangga. "Cieeee minggu-minggu dandan, mau kemana nih ?" Goda Bang Adam.

"Apaan sih bang...." jawabku sambil senyum-senyum gak jelas.

"Dekkk udah ditunggu Pandu nihhh..." mama berteriak dari ruang tamu.

Aku berjalan dengan terburu-buru sampai tak melihat ujung meja. Kakiku terkantuk aku meringis merasakan sedikit nyeri.

Senyum Pandu menyambutku, rasa sakit di kakiku seketika menghilang. Digantikan oleh detak jantung yang tak beraturan. Rasanya aku ingin pergi ke dokter saja. Tapi tak mungkin !

Pandu berpamitan pada mama, aku pun sama. Mama mengerlingkan matanya, menggodaku seperti bang Adam. Menyebalkan sekali !

*******************

Aku memakai jaketku, Pandu mulai menghidupkan motornya. Kemudian dia memakai tas punggung.

"Sengaja biar kamu nyaman.." terang Pandu.

Senyumku mengembang aku merasa benar-benar diperhatikan. 

"Ayo naik, perjalanan kita masih panjang." Perintah Pandu. Aku menurut, menaiki motor dengan hati-hati. 

Motor Pandu mulai keluar dari halaman. Menembus kemacetan jalanan di hari minggu pagi.


Ribuan kupu-kupu menyerang perutku, aku memejamkan mataku. Menikmati wangi Pandu, kali ini hatiku benar-benar hangat. Bagiku berdua di atas motor bersama Pandu sangatlah sempurna. Perpaduan suara motor dan detak jantungku pun menciptakan alunan yang berbeda. Indah luar biasa aku bahkan tak tahu harus berkata apa.


********************

Pohon-pohon pinus tinggi menjulang, udaranya sangat segar, aroma tanah yang basah pun semakin membuatku terpana. Motor Pandu mulai melaju lebih kencang karena jalanan cukup lenggang. Aku mengeratkan pelukanku, mataku menatap tas yang menjadi pembatas. 

Aku menghela napas kasar. Belum ada ikatan tidak baik jika harus terlalu dekat. 

Motor Pandu memelan, tangannya menunjuk burung-burung yang berterbangan. Mataku mengikuti arah pandangan Pandu. Sungguh aku merasa beruntung pagi ini, melihat keagungan Tuhan bersama Pandu.

Udara semakin sejuk, jalanan pun semakin bergejolak naik-turun. Sesekali jalannya benar-benar menurun membuatku melorot ke bawah. Ah ! sekarang aku tahu kenapa Pandu memakai tas punggung.

Kali ini aku ingin berterima kasih dalam diam. Mataku masih menatap sekeliling. Pohon-pohon ikut menari, burung-burung pun bernyanyi saat melihatku dan Pandu di atas kuda besi. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03