Pandu dan Rindu [genderang mau perang]

"Jadi kemarin gimana kencan sama kak Pandu ?" Tanya Bella penuh selidik.

Aku menjelaskan dengan teliti tanpa ada yang aku kurangi. Sesekali Bella memukul lenganku pelan atau Wulan bersahut "cieee..." sedangkan aku hanya tertawa.

Tawaku terus mengembang, sampai tak mendengar bunyi bel pulang sekolah. Pandu tak terlihat, ia bahkan tak tanggung jawab setelah membuatku tak bisa tidur semalam. Menyebalkan !

Seseorang memanggilku ketika aku, Bella dan Wulan berjalan ke parkiran. "Sa kamu dicariin, orangnya nunggu di depan gerbang."

"Siapa ?" Tanya Wulan.

Aku hanya mengangkat kedua bahu. "Kamu pulang duluan aja."

********************

Kepalaku menoleh ke kanan ke kiri mencari seseorang yang mencariku tapi terlalu banyak orang disini.

Seseorang menepuk bahuku, membuatku menoleh mencari tahu siapa pelakunya. Mataku sedikit melebar saat beradu pandang dengannya.

"Nih..." katanya sambil menyerahkan name tag bertuliskan namaku.

"Pantesan aku cariin di rumah gak ada. Makasih ya." Aku tersenyum tipis diakhir kalimat.

"Traktir minum dong..." katanya lagi kali ini dengan tatapan memohon.

Aku mengerutkan keningku dasar pamrih. Tapi aku melangkahkan kakiku menuju ke kedai samping sekolah.

*************************

"Mas coklat anget satu ya, kalo kamu apa Sa ? Gak usah malu-malu gitu. Tenang kamu yang bayar hahaha..." katanya sok-sokan. Aku memutar bola mataku jengah.

"Aku juga coklat anget." Kataku singkat.

"Kamu gak suka keju ?" Tanyanya penuh selidik.

Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Sebenarnya aku tak begitu suka sifatnya yang seolah-olah sudah mengenalku lama padahal sebenarnya. Ah sudahlah, aroma coklat beradu dengan rasa sebalku.

"Tapi aku tahu, kamu suka penikmatnya..." dia mengangkat sudut bibirnya sedikit.

"Apa sih gak jelas banget." Rasa penasaran mulai memenuhi sebagian hatiku tapi aku enggan bertanya.

Suara tawanya terdengar renyah. Semakin membuatku jenggah. Menyebalkan !

"Kamu tahu gak, kenapa aku gak sekolah di SMA Nusantara ?"

Gak tahu lagi aku, kok masih ada ya orang yang modelnya begini. Hmmmm.

"Siapa ?" Kataku cepat.

"Aku lah..." balasnya tak kalah cepat.

"Siapa ?" Kataku lagi.

"A-ku..." dia sedikit menaikkan nada bicaranya.

"Yang nanyaaaa hahahhahaha..." aku tertawa kali ini. Rasain !

"Sialan ! Dengerin baik-baik. Aku gak mau satu sekolahan sama penghianat !" Tangannya mengepal. Seperti menahan amarah.

"Siapa ?" Kataku, kali ini aku benar-benar ingin tahu tapi dia malah memandang curiga padaku.

"Aku serius kali ini. Siapa yang kamu maksud penghianat ?"

Dia hanya memandangku tanpa menjawab pertanyaanku. "Rangga...jawab ih !" Nadaku mulai meninggi.

"Nanti kamu juga tahu sendiri." Aku mengela napas kasar mendengar jawabanya.

"Silahkan diminum mas, mbak..." kata pelayan ramah.

Aku dan dia sama-sama mengangguk. Untuk beberapa saat kami minum dalam diam. Aku menikmati manis dan hangatnya coklat yang mengalir dari mulut menuju perutku. Entah kalau dia aku tak tahu dan tak mau tahu.

"Namamu Sasa kan ?" Rangga memecah keheningan.

Aku kembali memutar bola mataku menyebabkan Rangga tertawa kecil.

"Tapi kenapa aku berasa kamu itu...."

Penasaran dengan ucapannya aku mengangkat kepalaku.

"Cinta. Jadi kita kaya Rangga dan Cinta hehhehe." Lanjutnya lagi.

"Dihhhhh !" Aku melontarkan cibiran pada Rangga.

Tawanya kembali terdengar, matanya terus menatap ke arah ku. Membuatku salah tingkah. Menyeruput coklatku pelan untuk mengalihkan perhatianku darinya.

"Pantesan..." katanya lirih.

"Apa ?" Tanyaku.

Dia hanya mengeleng sebagai jawaban. Aku merasa Rangga tengah menutupi sesuatu.

Aku beranjak dari tempat duduk, tapi tanganku ditarik menyebabkan aku kembali duduk.

Mataku melotot ke arah nya. Rangga hanya tersenyum lalu berjalan menuju kasir. Katanya minta traktir kok malah dia yang bayar. Dasar aneh !

"Makasih..." ucapku basa-basi.

"Sama-sama, pulang bareng aku aja !"

"Gak mau aku !" Kataku tak mau kalah.

"Aku memaksa dan tak terima penolakan." Matanya melotot ke arah ku. Dengan menggentak-hentakkan kaki aku mengikuti Rangga dari belakang.


*********************

"Gak usah cemberut gitu..." katanya sambil memakai helm fullfacenya.

"Biarin..." eyelku.

"Tambah cantik tahu..." Rangga menggodaku. Aku tertawa lalu memukul lengannya pelan.

"Nyebelin !"

"Banget hahahha." Sahut Rangga.

Motornya melaju setelah aku menyebutkan alamat rumah ku.

Aku tak begitu menikmati perjalanan kali ini. Rasa takut lebih mendominasi sekali pun Rangga mampu membuatku tertawa. Jarak itu jelas terasa aku masih menahan diri untuk tak terlalu dekat dengannya. Ku rasa itu memang perlu sebab aku tak tahu siapa Rangga yang sebenarnya.

Motor Rangga berhenti mendadak saat lampu berganti menjadi merah membuatku sedikit menabrak punggungnya. Suara motor memekakkan telingaku seolah pemiliknya sengaja melakukan itu.

Mataku mencari sumber suara tersebut, jantungku berdetak tak karuan seperti genderang mau perang. Aliran darahku mengalir begitu cepat. Saat mata hitam pekat itu memandangku dengan tajam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03