Pandu dan Rindu [negatif]
Pandu membantuku melepas helm. Dari sini aku melihat bola mata berwarna hitam itu memandangku teduh. Bibirnya yang berwana merah muda itu menggugah selera. Apaan sih Sa ! Aku mengenyahkan pikiranku.
Aku melebarkan mataku, kaget saat dihadapkan dengan puluhan anak tangga.
Tangan Pandu mengajakku untuk menaiki tangga. Pandanganku menyebar mengamati sekeliling, cukup sepi.
Napasku ngos-ngosan, aku menghentikan langkahku tepat di pertengahan. Sungguh ini melelahkan. Suara tawa Pandu terdengar meremehkan. Aku mendongak saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipiku.
"Dasar lemah, nih minum..." kata Pandu menggodaku.
"Makasih..." aku salah tingkah saat Pandu terus memandangku.
Uhuuukkkk ! Sialan aku tersedak. Tawa Pandu semakin terdengar kencang. Tidaaakkkk !!! Double memalukan ! Sungguh menyebalkan !!!!
"Cieee grogiiii...." senyum Pandu membuatku ingin memukul wajahnya. Sungguh dia benar-benar mengejekku.
Aku tak menggubris ucapannya, kakiku berjalan meninggalkan Pandu. Suara tawa Pandu mengikutiku dari belakang.
"Woooooaaahhhh !!!!" Ucapku kagum saat melihat pemandangan yang tersaji.
"Baguskan ?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Belum pernah kesini ?" Tanya Pandu lagi.
Aku memandang Pandu lalu dengan ringannya kepalaku menggeleng. Pandangan Pandu menyebar, mengamati sekitar.
"Kalo kamu ?" Tanyaku lirih.
"Sering..." Pandu menjawab tanpa melihatku. Mulutku merapat enggan bertanya lagi. Mungkin Pandu sedang menyelami kenangannya lagi.
"Kalo lagi ada masalah, aku suka kesini..." aku menoleh menunggu Pandu bercerita lagi.
"Duluuu...sekarang udah enggak." Aku menghela napas kasar.
Pikiran dan hatiku beradu. Aku ingin bertanya tapi...sekarang atau tidak sama sekali Sa ! "Masalah sama pacarmu ?" Suaraku hampir tak terdengar.
Pandu mencari mataku, "aku bahkan belum pernah mendapatkan masalah yang seperti itu." Keningku berkerut, ada sebagian hatiku yang tak terima dengan jawaban Pandu.
Hatiku berdebar tak karuan menunggu ucapan Pandu selanjutnya. Tapi sayangnya Pandu tak melanjutkan apapun. Aku mendesah kecewa.
Tanganku bergerak mengambil tissue dari dalam tas. Mengelap butiran keringat di kening. Mataku beralih ke wajah Pandu tanpa dikomando tanganku bergerak mengambil tissue yang baru lalu menghapus butiran keringat yang menghiasi wajah Pandu.
Pandu menoleh, matanya sedikit melebar. Mungkin dia kaget dengan gerakanku yang tiba-tiba. Detak jantungku semakin tak karuan saat Pandu memandangku tajam. Aku tak sanggup lagi, menyerah. Dengan sedikit kencang aku menaruh tissueku ke badan Pandu. Dia mengaduh lalu tertawa kencang. Matanya tertutup sempurna, lesung pipinya kembali menggoda.
"Kalo dikasih kesempatan kamu mau kesini lagi gak ?" Tanya Pandu setelah tawanya reda.
"Tentu..." jawabku pasti.
"Sama siapa ?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Mataku menajam menikmati pemandangan yang indah ini. "Kamulah..." Aku tersenyum sambil berharap cemas. Pandu hanya melihatku sorot matanya seolah mengatakan kenapa ?
"Soalnya kamu yang tahu jalannya hehehhee...." imbuhku dengan cengiran.
Suara tawanya kembali terdengar "Aku tak bisa menjanjikan masa depan untuk mu..." perkataan Pandu membuatku menoleh, memandangnya dengan tajam. Sedangkan Pandu menatapku sendu.
"Sebab, semua itu ada di tangan Tuhan..." aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Tapi..." hatiku semakin berdebar tak karuan.
"Aku berusaha untuk tak menjadikan mu bagian dari masa laluku." Pandu menatapku tajam, nadanya terdengar sangat yakin.
Aku terdiam, Pandu pun membisu. Suasana canggung akhirnya mengampiri kami. Tanganku membenarkan letak kacamata. Lalu berpose. "Fotoin dong hehhee" cengirku pada Pandu. Mencoba peruntungan dalam memecah kecanggungan.
***************************
"Mau wedang jahe, susu jahe apa wedang ronde ?" Tanya Pandu saat di depan warung tenda.
Aku tak tahu harus bagaimana. Tangannya menuntunku untuk masuk.
"Mang, ronde satu ya. Kamu apa Sa ?" Tanya Pandu lagi.
Mataku melihat sekitar mencari buku menu tapi tak ketemu "Emmmm susu coklat anget aja deh." Kataku lirih.
"Sama susu coklat anget ya pak." Pandu melihat ke arahku.
"Siap mas..." sahut mamang yang jualan.
"Kamu gak suka wedang jahe, susu jahe sama wedang ronde ?" Pandu kembali bertanya padaku.
"Enggak hehhehe." Kekehku pelan.
"Kenapa ?" Tanyanya penuh selidik.
"Gak suka aja, kaya ada pedes-pedesnya." Aku tersenyum diakhir kalimat.
"Ohhhh gituuu..." respon Pandu membuatku sedikit lebih tenang.
"Kalo kamu suka aku gak ?" Sungguh Pandu semakin membuatku susah untuk bernapas.
"Su...kaaa..." jawabku terbata-bata.
"Kenapa ?" Rasanya aku ingin berlari saat mendengar perkataan Pandu.
"Karna kaya ada manis-manisnya gitu..." Tawa Pandu pecah, aku menghela napas kasar. Kepalaku semakin menunduk, sungguh aku malu.
"Aku juga suka sama kamu..." perkataan Pandu membuatku melihat ke arahnya.
"Karna kamu kaya wedang ronde, ada anget-angetnya gitu..." tawa Pandu kembali terdengar.
Aku hanya membeku, tak tahu harus berkata apa. Jantungku berdetak seperti irama musik yang sangat cepat. Tapi aku menikmatinya.
"Selamat ya. Kamu hebat." Perkataanku sukses membuat Pandu kaget, ia bahkan sampai tersedak. Dengan gesit aku menyerahkan tissue padanya.
"Ohh...iya kamu juga selamat ya." Jawabnya singkat.
"Padahal cuma beda negatif ya ?" Kataku memecah keheningan.
"Hahhaa sekarang kamu tahu kan kalo negatif bisa jadi juara." Celoteh Pandu.
"Kaya kamu..." lanjutnya lagi. Aku hanya memandang penuh kebingungan.
"Kamu jadi negatif pas dibonceng Rizal karna tidur." Perkataan Pandu sukses membuat mataku melotot.
"Kamu juga negatif pas ngilang ditelfon waktu itu..." kataku tak mau kalah.
"Oh itu karna pulsaku habis, mau beli motorku di bengkel. Bocor hehehe." Aku senang mendengar alasannya.
"Kamu juga negatif waktu di SMA Garuda." Aku memukul pelan bibirku, sungguh tak bisa diajak kerjasama !
"Ohhh kalo itu sih rahasia kamu gak perlu tahu. Heheheh." Jawaban Pandu membuatku semakin bertambah sebal.
"Biarpun kamu negatif..." perkataan Pandu membuatku melihat ke arahnya. Matanya menatapku lembut.
"Tapi kamu juara di hati aku..." Pandu tersenyum diakhir kalimatnya.
Demi penguasa langit dan bumi. Aku terbang tinggi kali ini. Rasanya aku lupa untuk bernapas. Perkataan Pandu membuatku besar kepala.
*******************
Obrolan mendebarkan bersama Pandu hanya sebatas itu tidak lebih. Padahal aku sudah berpikir macam-macam tapi ternyata hanya anganku saja.
Sepanjang perjalanan pulang aku menikmati suasana malam yang tersaji. Lampu-lampu jalan, binatang malam juga Pandu. Udara dingin terpaksa membuat tubuhku semakin merapat padanya. Mataku mulai terpejam saat wangi Pandu menyerangku. Wangi yang selalu membuatku tenang.
Ada yang bilang wanita hanya perlu menunggu prianya datang. Kalau benar begitu aku akan menunggu, sekalipun Pandu tak datang aku akan tetap menunggu. Sebab hatiku telah memilih Pandu tak ingin yang lain. Terdengar bodoh memang, tapi aku tak ingin menjadi pintar kalau pada akhirnya Pandu menghindar.
Aku melebarkan mataku, kaget saat dihadapkan dengan puluhan anak tangga.
Tangan Pandu mengajakku untuk menaiki tangga. Pandanganku menyebar mengamati sekeliling, cukup sepi.
Napasku ngos-ngosan, aku menghentikan langkahku tepat di pertengahan. Sungguh ini melelahkan. Suara tawa Pandu terdengar meremehkan. Aku mendongak saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipiku.
"Dasar lemah, nih minum..." kata Pandu menggodaku.
"Makasih..." aku salah tingkah saat Pandu terus memandangku.
Uhuuukkkk ! Sialan aku tersedak. Tawa Pandu semakin terdengar kencang. Tidaaakkkk !!! Double memalukan ! Sungguh menyebalkan !!!!
"Cieee grogiiii...." senyum Pandu membuatku ingin memukul wajahnya. Sungguh dia benar-benar mengejekku.
Aku tak menggubris ucapannya, kakiku berjalan meninggalkan Pandu. Suara tawa Pandu mengikutiku dari belakang.
"Woooooaaahhhh !!!!" Ucapku kagum saat melihat pemandangan yang tersaji.
"Baguskan ?" Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Belum pernah kesini ?" Tanya Pandu lagi.
Aku memandang Pandu lalu dengan ringannya kepalaku menggeleng. Pandangan Pandu menyebar, mengamati sekitar.
"Kalo kamu ?" Tanyaku lirih.
"Sering..." Pandu menjawab tanpa melihatku. Mulutku merapat enggan bertanya lagi. Mungkin Pandu sedang menyelami kenangannya lagi.
"Kalo lagi ada masalah, aku suka kesini..." aku menoleh menunggu Pandu bercerita lagi.
"Duluuu...sekarang udah enggak." Aku menghela napas kasar.
Pikiran dan hatiku beradu. Aku ingin bertanya tapi...sekarang atau tidak sama sekali Sa ! "Masalah sama pacarmu ?" Suaraku hampir tak terdengar.
Pandu mencari mataku, "aku bahkan belum pernah mendapatkan masalah yang seperti itu." Keningku berkerut, ada sebagian hatiku yang tak terima dengan jawaban Pandu.
Hatiku berdebar tak karuan menunggu ucapan Pandu selanjutnya. Tapi sayangnya Pandu tak melanjutkan apapun. Aku mendesah kecewa.
Tanganku bergerak mengambil tissue dari dalam tas. Mengelap butiran keringat di kening. Mataku beralih ke wajah Pandu tanpa dikomando tanganku bergerak mengambil tissue yang baru lalu menghapus butiran keringat yang menghiasi wajah Pandu.
Pandu menoleh, matanya sedikit melebar. Mungkin dia kaget dengan gerakanku yang tiba-tiba. Detak jantungku semakin tak karuan saat Pandu memandangku tajam. Aku tak sanggup lagi, menyerah. Dengan sedikit kencang aku menaruh tissueku ke badan Pandu. Dia mengaduh lalu tertawa kencang. Matanya tertutup sempurna, lesung pipinya kembali menggoda.
"Kalo dikasih kesempatan kamu mau kesini lagi gak ?" Tanya Pandu setelah tawanya reda.
"Tentu..." jawabku pasti.
"Sama siapa ?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Mataku menajam menikmati pemandangan yang indah ini. "Kamulah..." Aku tersenyum sambil berharap cemas. Pandu hanya melihatku sorot matanya seolah mengatakan kenapa ?
"Soalnya kamu yang tahu jalannya hehehhee...." imbuhku dengan cengiran.
Suara tawanya kembali terdengar "Aku tak bisa menjanjikan masa depan untuk mu..." perkataan Pandu membuatku menoleh, memandangnya dengan tajam. Sedangkan Pandu menatapku sendu.
"Sebab, semua itu ada di tangan Tuhan..." aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Tapi..." hatiku semakin berdebar tak karuan.
"Aku berusaha untuk tak menjadikan mu bagian dari masa laluku." Pandu menatapku tajam, nadanya terdengar sangat yakin.
Aku terdiam, Pandu pun membisu. Suasana canggung akhirnya mengampiri kami. Tanganku membenarkan letak kacamata. Lalu berpose. "Fotoin dong hehhee" cengirku pada Pandu. Mencoba peruntungan dalam memecah kecanggungan.
***************************
"Mau wedang jahe, susu jahe apa wedang ronde ?" Tanya Pandu saat di depan warung tenda.
Aku tak tahu harus bagaimana. Tangannya menuntunku untuk masuk.
"Mang, ronde satu ya. Kamu apa Sa ?" Tanya Pandu lagi.
Mataku melihat sekitar mencari buku menu tapi tak ketemu "Emmmm susu coklat anget aja deh." Kataku lirih.
"Sama susu coklat anget ya pak." Pandu melihat ke arahku.
"Siap mas..." sahut mamang yang jualan.
"Kamu gak suka wedang jahe, susu jahe sama wedang ronde ?" Pandu kembali bertanya padaku.
"Enggak hehhehe." Kekehku pelan.
"Kenapa ?" Tanyanya penuh selidik.
"Gak suka aja, kaya ada pedes-pedesnya." Aku tersenyum diakhir kalimat.
"Ohhhh gituuu..." respon Pandu membuatku sedikit lebih tenang.
"Kalo kamu suka aku gak ?" Sungguh Pandu semakin membuatku susah untuk bernapas.
"Su...kaaa..." jawabku terbata-bata.
"Kenapa ?" Rasanya aku ingin berlari saat mendengar perkataan Pandu.
"Karna kaya ada manis-manisnya gitu..." Tawa Pandu pecah, aku menghela napas kasar. Kepalaku semakin menunduk, sungguh aku malu.
"Aku juga suka sama kamu..." perkataan Pandu membuatku melihat ke arahnya.
"Karna kamu kaya wedang ronde, ada anget-angetnya gitu..." tawa Pandu kembali terdengar.
Aku hanya membeku, tak tahu harus berkata apa. Jantungku berdetak seperti irama musik yang sangat cepat. Tapi aku menikmatinya.
"Selamat ya. Kamu hebat." Perkataanku sukses membuat Pandu kaget, ia bahkan sampai tersedak. Dengan gesit aku menyerahkan tissue padanya.
"Ohh...iya kamu juga selamat ya." Jawabnya singkat.
"Padahal cuma beda negatif ya ?" Kataku memecah keheningan.
"Hahhaa sekarang kamu tahu kan kalo negatif bisa jadi juara." Celoteh Pandu.
"Kaya kamu..." lanjutnya lagi. Aku hanya memandang penuh kebingungan.
"Kamu jadi negatif pas dibonceng Rizal karna tidur." Perkataan Pandu sukses membuat mataku melotot.
"Kamu juga negatif pas ngilang ditelfon waktu itu..." kataku tak mau kalah.
"Oh itu karna pulsaku habis, mau beli motorku di bengkel. Bocor hehehe." Aku senang mendengar alasannya.
"Kamu juga negatif waktu di SMA Garuda." Aku memukul pelan bibirku, sungguh tak bisa diajak kerjasama !
"Ohhh kalo itu sih rahasia kamu gak perlu tahu. Heheheh." Jawaban Pandu membuatku semakin bertambah sebal.
"Biarpun kamu negatif..." perkataan Pandu membuatku melihat ke arahnya. Matanya menatapku lembut.
"Tapi kamu juara di hati aku..." Pandu tersenyum diakhir kalimatnya.
Demi penguasa langit dan bumi. Aku terbang tinggi kali ini. Rasanya aku lupa untuk bernapas. Perkataan Pandu membuatku besar kepala.
*******************
Obrolan mendebarkan bersama Pandu hanya sebatas itu tidak lebih. Padahal aku sudah berpikir macam-macam tapi ternyata hanya anganku saja.
Sepanjang perjalanan pulang aku menikmati suasana malam yang tersaji. Lampu-lampu jalan, binatang malam juga Pandu. Udara dingin terpaksa membuat tubuhku semakin merapat padanya. Mataku mulai terpejam saat wangi Pandu menyerangku. Wangi yang selalu membuatku tenang.
Ada yang bilang wanita hanya perlu menunggu prianya datang. Kalau benar begitu aku akan menunggu, sekalipun Pandu tak datang aku akan tetap menunggu. Sebab hatiku telah memilih Pandu tak ingin yang lain. Terdengar bodoh memang, tapi aku tak ingin menjadi pintar kalau pada akhirnya Pandu menghindar.

Komentar
Posting Komentar