Pandu dan Rindu [Bella menghilang]

Hari ini Bella tak berangkat sekolah. Padahal kemarin dia terlihat baik-baik saja, mungkin hatinya yang terluka. Sepertinya masalah Bella juga belum  selesai.

Wulan tengah asyik mengerjakan tugas, rasanya bibirku ingin bertanya tapi rasa kesal membuatku enggan. Aku menghembuskan napas kasar.

"Bella sakit apa sih Sa ? Kok gak berangkat lagi ?" Tanya Wulan.

Aku setengah tak percaya Wulan menanyakan itu padaku. Berarti kemarin dia gak jadi ke tempat Bella.

"Sakit hati !" Kataku sarkas.

"Masa ? Dia kan jomblo ?" Tanya lagi.

"Lah ? Emang yang bisa bikin sakit hati cuma pacar ? Teman juga bisa kali !" Ok aku mulai tersulut emosi kali ini.

"Kamu kenapa sih Sa ?"

"Kamu tuh yang kenapa ? Katanya mau nyusul malah berduaan. Sama siapa ? Pacar baru ?" Kataku sewot.

"Pantesan sewot, kamu liat ya ? Bagus deh."

Aku bingung dengan perkataannya.

Wulan tersenyum sinis "jadi kamu tahu kan. Kalo Pandu juga perhatian sama aku." Lanjutnya mantap.

Dyaarrr !!! Sepertinya bom dalam diriku meledak membuat hatiku hancur berkeping-keping. Wulan jalan sama Pandu ? Mereka berdua dekat ? Sejak kapan ? Ribuan pertanyaan singgah di kepalaku tapi sayangnya aku tak cukup berani untuk bertanya.

Wulan mengibarkan bendera perang, menabur aroma persaingan. Dia pindah tempat duduk. Aku menghela napas kasar, mengusap dada ku pelan. Rasanya sakit, tak pernah terbayangkan juga terpikirkan oleh ku sebelumnya.

*********

Bel pulang sekolah berbunyi, aku berjalan pelan menuju tempat ngetem angkot, pikiranku gundah. Selama pelajaran tadi Wulan tak menjelaskan lebih lanjut. Aku merasa ada yang aneh, selama ini aku tak pernah melihat kedekatan Wulan dan Pandu. Tapi kenapa tiba-tiba Wulan berkata itu padaku.

Haruskah panggilan sahabat yang aku sematkan padanya berganti menjadi musuh dalam selimut, duri dalam daging atau tukang tikung. Argggggghhh !!!! Kepala ku pusing.

Ponsel ku bergetar ada sebuah pesan masuk.

Mbak Nem : mbak Bella kabur dari rumah tadi pagi. Sekarang belum pulang. Tolong bantu cariin ya mbak.


Jantungku seperti terlepas dari tempatnya. Bella terlalu nekat. Apakah masalah yang dia hadapi terlalu berat ?

Sasa : ok mbak. Nanti tak kabari lagi.

Aku mencari nama seseorang, kemudian menelfonnya.

"Bella kabur, bantuin aku cari dia. aku lagi di sekolah buruan kesini." Kataku tergesa-gesa.

"Ok aku segera meluncur kesana." Sahut seseorang di seberang.

Ponselku kembali ku masukkan ke dalam tas. Setelah aku mengirim pesan pada bang Adam. Aku menggigit kuku tangan. Kakiku berjalan kesana-kemari. Otakku sibuk mencari tempat-tempat yang sering Bella datangi. Sampai akhirnya lamunanku terhenti oleh suara bass.

"Ayo buruan naik."

Dengan sedikit berlari aku naik motor Rangga. Hanya dia yang bisa diandalkan.

********

Supermaket, taman, alun-alun, perpustakaan sudah kami datangi tapi Bella masih belum ketemu.

Aku mengambil ponsel dari dalam tas. Tak ada pesan dari mbak Nem. Berarti Bella belum pulang.

Aku menepuk pudak Rangga "ke puncak, disana ada rumah neneknya Bella."

Rangga mengangguk lalu melajukan motornya lebih kencang. Wajahnya terlihat cemas.

Motor Rangga berhenti di sebuah kedai. Aku mengernyitkan keningku.

Rangga berjalan tergesa-gesa "istirahat dulu, baru lanjut." Nadanya terdengar datar.

Aku mengangguk. Lalu mengikuti langkahnya dari belakang.

Mataku melebar saat melihat Wulan, jantungku berdetak lebih cepat saat tahu siapa yang di sebelahnya. Pandu menyambutku dengan senyum andalannya. Tapi sayangnya itu semakin membuat hatiku teriris.





"Mang wedang ronde satu, kamu apa Sa ?" Pertanyaan Rangga membuatku kembali ke bumi.

"Susu jahe satu..." kataku pelan.

Aku mencoba membiasakan diri dengan apa-apa yang kamu sukai. Barangkali kita bisa menikmati bersama. Tapi ternyata itu hanyalah khayalku semata.

Aku mendesah kecewa melihat Pandu dan Wulan bergantian.

"Susu coklat anget satu ya mang." Suara Pandu membuatku menoleh ke arahnya. Tepat di depannya ada susu jahe yang masih setengah. Tapi kenapa dia memesan lagi ? Entahlah !

Wulan melihat ke arah ku dengan sengit. Aku meringis. Rangga sibuk dengan ponselnya.

Tatapan Pandu semakin membuatku tak nyaman. Aura malam ini sungguh mencekam. Membuatku terdiam.

"Silahkan diminum." Kata mamang ramah.

Aroma jahe tercium kuat, aku mulai bergidik ngeri. Tanganku ragu-ragu untuk mengambilnya.

"Buruan diminum Sa, terus lanjut cari Bella lagi." Kata Rangga sambil minum wedang ronde miliknya.

Aku tersenyum kikuk. Gerakan tanganku yang ingin mengambil gelas terhenti saat Pandu memindahkan gelas berisi susu coklat hangat padaku.

Rangga tersedak, terdengar wulan berdecak sebal sedangkan aku hanya mampu mengucapkan terima kasih tanpa suara.

Pandu menatapku lembut. Hatiku berdesir rasa hangat menjalar ke pipi. Bolehkan aku besar kepala ?

Tapi saat aku melihat Wulan, semuanya lenyap begitu saja. Aku tersenyum miris.

"Gak usah ke rumah neneknya Bella. Aku tadi dari sana dan Bellanya gak ada." Kata Wulan memecah ketegangan.

"Oh. Ok." Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.  Semua pertanyaan-pertanyaan kembali ku telan.

"Terus kita mau cari kemana lagi ?" Kali ini Rangga yang bersuara.

"Ke rumah Bella. Kita cari di rumahnya." Kata Wulan cepat.

"Tapi mbak Nem gak ngabarin, dia juga pasti udah nyari Bella di rumah. Dan Bella belum ketemu." Imbuhku.

"Kita cari dulu, mbak Nem sama kaya kita. Panik. Siapa tahu Bella udah pulang." Kali ini aku setuju dengan Wulan.

Aku mengangguk mengiyakan. Dalam hati aku berdo'a agar Bella segera ketemu. Tentunya dalam keadaan baik-baik saja.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03