Pandu dan Rindu [titik terang]

Mbak Nem menangis tersedu-sedu saat kami sampai di rumah Bella. Wulan berlari memeluk mbak Nem. Sedangkan aku masih mematung di depan pintu.

"Kamu sekuat macan." Bisik Pandu di telingaku.

Aku melihat ke dua bola mata hitam pekat miliknya. Lalu beralih ke bibirnya yang melengkung membentuk sebuah senyuman.

Aku ingin memeluknya menumpahkan segala rasa gundah ini tapi jarak antara aku dan Pandu membuatku terdiam kaku.

Tangan Pandu mengusap kepalaku lembut. Tatapannya sendu. Pandu menarikku ke dalam bersamaan tanganku yang mengusap butiran bening yang jatuh di pipi.

"Kita udah cari ke tempat-tempat yang biasa Bella datangi tapi hasilnya nihil." Kata Wulan lirih.

"Mbak Nem udah cari di rumah ?" Tanya Rangga penuh selidik.

Mbak Nem hanya mengangguk. Butiran bening itu terus keluar dari matanya.

Aku menggigit bibir ku kuat-kuat. Merasa putus asa. Aku baru tersadar jika dari tadi aku tak melihat ke dua orang tua Bella.

"Om sama tante udah dikabarin kan mbak ?" Tanyaku lirih.

Mbak Nem mengangguk lagi. Tangisnya semakin terdengar kencang. Wulan mengusap-usap punggungnya berulangkali mencoba menenangkan mbak Nem.

"Bapak sama ibu berantem hebat. Sampai-sampai ibu minta pisah. Mbak Bella ngeliat semua." Kata mbak Nem. Nadanya terdengar miris.

"Bapak langsung pergi. Sedangkan ibu marah besar, beliau sampai banting-banting vas bunga sama koran, majalah, sepatu, tas juga." Lanjut mbak Nem.

"Malem itu, ibu juga pergi. Mbak Bella nangis di kamar dia gak mau makan, gak mau keluar kamar. Saya juga gak boleh masuk ke kamarnya." Tangis mbak Nem semakin keras.

Aku tak sanggup lagi menahan. Air mataku luruh begitu saja. Mataku memejam. Merasa pusing dengan semua ini. Bella serapuh itu. Dan aku tak tahu ? Teman macam apa kamu ini Sa.

Tangis Wulan juga semakin kencang. "Maafin aku yang terlalu egois, mementingkan diriku sendiri Bel." Kata Wulan disela-sela tangisannya.

Rangga memukul sofa kencang menimbulkan bunyi yang cukup keras. Tangannya mengepal kuat. Dia ingin memukul meja tapi gerakan tangannya dihentikan oleh Pandu.

"Kita cari lagi di rumah ini. Kalau gak ketemu baru kita cari di luar." Kata Pandu tenang.

Aku dan Wulan mencari disekita kamar Bella dan ruang keluarga, sedangkan mbak Nem di kamar orang tua Bella dan kamar belakang. Rangga dan pandu mencari di halaman belakang.

******

Bella tak ada di kamarnya, aku bahkan mencarinya di kamar mandi. Wulan mencari Bella sampai ke dalam lemari tapi hasilnya tetap nihil.

Teriakan mbak Nem membuat kami bergegas menuju ke kamar orang tua Bella.

Mbak Nem terduduk lemas disamping pintu kamar mandi. Rangga keluar dari kamar mandi dengan menggendong tubuh Bella yang lemah. Bibirnya berwarna ungu, rambutnya basah. Jejak air mata tertinggal di pipinya. Hidungnya merah.

Dengan sangat hati-hati Rangga meletakkan tubuh Bella ke ranjang. Bibirnya menggigil, "bapak, ibu jangan tinggalin Bella." Suaranya terdengar lirih. Matanya masih menutup sempurna.

Mbak Nem meminta kami untuk keluar. Dia ingin menganti pakaian Bella agar Bella tak jatuh sakit.

********

Kami keluar lalu berjalan ke ruang tamu. Pikiranku kacau, air mataku dari tadi tak berhenti mengalir.

Wulan menghamburkan diri memelukku. Tangisnya pecah, aku tahu dia merasa bersalah sama Bella. Tanganku mengusap-usap punggungnya pelan.

"Maafin aku..." kata Wulan parau.

"Aku egois, kemarin aku gak jalan sama kak Pandu aku cuma..."

Gerakan tanganku terhenti.

"Beli es buah, traktir dia Karena kak Pandu udah bantuin aku ngerjain tugas di les-lesan....." Wulan masih menangis.

"Tadi pagi aku sebel sama kamu, jadi aku jawabnya asal." Lanjutnya lagi.

"Terus pas pulang sekolah perutku mules, jadi aku ke kamar mandi dulu..."

Aku menghembuskan napas kasar, ternyata aku salah sangka.

"Begitu aku balik ke kelas kamu udah gak ada...."

"Sampai diparkiran ban motor ku bocor, aku semakin panik pas baca pesannya mbak Nem..."

Aku masih terdiam tak sanggup berkata apa-apa.

"Sampai akhirnya kak Pandu dateng, aku cerita semuanya. Dan dia mau bantuin aku cari Bella..."

Aku melihat ke arah Pandu, senyumnya muncul ke permukaan. Sudah aku katakan Pandu adalah malaikat pelindung bagi semua. Dan itu memang benar adanya.

"Aku langsung cari ke rumah neneknya. Soalnya aku mikir kamu pasti udah cari di sekitar sini..." Wulan masih melanjutkan ceritanya.

"Maafin aku ya Sa, aku bukan penikung kok. Hehehhee." Tawa Wulan terdengar tapi suaranya hanya kecil.

Aku tersenyum lalu tanganku menepuk punggungnya sedikit kencang. Wulan mengaduh kesakitan. Dia membuka kartu yang ku simpan rapat-rapat. Sialan emang !

********

Malam ini aku pulang diantar Pandu. Wulan ngotot meminta Rangga untuk mengantarnya pulang. Aku tahu Wulan menjaga perasaanku.

Saat kami pulang Bella sudah tersadar, tapi dia tak masih butuh waktu untuk menenangkan diri.

Malam ini misteri tentang Bella terpecahkan. Masalah Wulan juga sudah selesai. Hanya aku yang masih berdebar-debar menunggu penjelasan Pandu.

Tapi akhirnya aku kembali menelan pil pahit. Karena begitu sampai rumah dia langsung pamit pulang.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03