Pandu Dan Rindu [Ayam Mbah Jenggot]
Aku berjalan keluar UKS dituntun oleh Bagas. Begitu turun dari ranjang tadi Bagas langsung memapahku. Tak enak hati untuk menolaknya, tak tega untuk membuat ia malu di depan teman-teman yang lain. Padahal sebenarnya aku risih.
Pandu bersandar di pintu mobil, lalu ia membukakan pintu untukku. Dengan berlari kecil ia memutari mobil kemudian masuk. Pandu mencondongkan tubuhnya, memasangkan sabuk pengaman. Hatiku sesak, seperti tertimpa batu besar, untuk beberapa saat aku lupa caranya bernapas. Wangi Pandu menyeruak membuatku terlena lantas memejamkan mata.
"Aku bisa pakai sendiri !" Protesku.
"Tanganmu kan sedang terluka, aku hanya menolongmu..." terang Pandu.
"Lukanya hanya kecil..."
"Iya emang, besok perbannya diganti plester aja." Aku sedikit bingung dengan ucapannya.
"Terus kenapa tadi kamu repot-repot perban segala ?!" Kata ku berapi-api.
"Sengaja biar keliatan keren..."
"Apanya ?" Tanyaku tak sabaran.
"Akunya lah hahahhaa."
Dasar Pandu sialan, geloooo maneh.
"Nyebelin tahuuukk !" Ia hanya tertawa, lalu lekas melajukan mobil.
Selain pintar menyetir mobil, ternyata Pandu juga pintar menyetir hatiku. Eeeaaaa, ya ampun....sadar Sa ! Sadar !
"Mobil siapa ?"
"Bu Susi..." Jawab Pandu sambil melihat ke arahku.
"Bu Susi guru BK yang terkenal pelit itukan ? Kok kamuuuuu..."
"Akukan anak kesayangannya jadi ya gimana yaaaa..." katanya sambi memainkan alis.
"Ckkk sombongnya !" Umpatku pelan.
Suara tawa Pandu terdengar menggema di dalam mobil.
Mobil berhenti di depan rumah. Pandu melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke arahku yang sudah melepas sabuk lebih dulu. Aku hanya menampilkan sebuah cengiran.
"Mamamu di rumah gak ?" Kata Pandu cepat.
"Di rumah kok tadi aku udah telfon Mama. Kamu langsung balik ke sekolah aja."
"Justru kalo ada mamamu, aku harus masuk. Kan sekalian kenalan sama calon mertua hehehhee." Jawabnya dengan cengiran lebar.
Lama-lama si Pandu nyebelin juga ya. Apa jangan-jangan aku cuma salah denger. Duh bahaya harus cepet-cepet ke dokter nih.
"Dihhhhhhh halu..." kekeh ku geli.
"Halu-halu gini kamu suka kan ?!"
Deg ! Tenggelamkan saja aku ! Bibirku tak bisa diajak bekerja sama untuk membantah ucapan Pandu. Aku hanya tertunduk malu. Dan menggigit bibir bagian dalam. Pandu terus tertawa sampai di depan pintu, ia baru berhenti.
Mama menyambutku dengan banyak pertanyaan, memeriksa tubuhku, lalu menyuruh untuk beristirahat di kamar.
Pandu dan mama mengobrol di ruang tamu. Samar-samar terdengar Pandu tertawa. Aku tertidur bersamaan dengan Pandu yang kembali ke sekolah.
Paginya aku merasa sudah baikan jadi mama mengizinkan untuk bersekolah.
"Sa, tolong bawa buku ini ke ruangan saya sekarang." Perintah bu Susi.
Aku merasa bu Susi sedikit kesal dengan ku, beliau tahu aku kemarin jatuh. Harusnya beliau tidak meminta bantuan padaku kan ? Atau beliau sengaja karena kemarin Pandu meminjam mobilnya ?
Dengan sigap Bagas membantu membawakan setengah buku-buku pelajaran tadi. Kami berjalan menuju ruang guru. Jantungku berdebar kencang karena harus melewati kelas Pandu.
"Sa, kita satu kelompok untuk tugas membuat kliping. Mau ngerjain kapan ?" Bagas membuka suara.
"Kalo sabtu aja gimana, sepulang sekolah ?"
"Iya udah, dimana ? Rumahku apa..."
"Di perpustakaan daerah aja. Sekalian cari koran gratis disana." Imbuhku dengan cengiran lebar.
"Ehemmmmm.." aku mendengar seseorang berdeham.
Pandu muncul dari arah toilet, aku seperti seorang maling yang ketahuan mencuri. Dengan cepat Pandu mengambil buku-buku di tanganku. Aku memandangnya meminta penjelasan.
"Biar aku yang bawa, kamu balik ke kelas lagi aja." Kata Pandu cepat.
Aku ingin membantah, tapi melihat tatap mata Pandu nyaliku berubah menciut. Dengan sedikit berlari aku kembali ke kelas. Membiarkan Bagas berdua dengan Pandu.
Mengambil botol minum, lalu meminumnya sampai tandas.
"Kamu kenapa Sa ?" Tanya Bella heran.
Aku hanya tersenyum geli kemudian mengeleng.
"Eh nanti mampir ke ayam mbah jenggot dulu yuk." Ajakku pada Bella.
"Kamu lagi sakit lo Sa, gak boleh makan-makanan yang kaya gitu."
Aku mengeluarkan jurus andalanku. "Ayolah Bel, sekali aja. Pleasseee..." rengekku dengan mata membulat besar.
"Ok ok tapi sekalian aku dibayarin ya." Bella tertawa diakhir kalimat.
"Siap boss !" Jawab ku singkat sambil mengangkat 2 jempol.
Setelah terdengar bunyi bel pulang, aku langsung menarik Bella untuk ke parkiran.
Seperti biasa ayam mbah jenggot selalu penuh. Bella pergi ke kasir, sedangkan aku mencari tempat duduk.
Senyumku mengembang melihat Bella datang, sebenarnya aku bukan pecinta ayam. Tapi entah mengapa hari ini aku sangat ingin makan siang dengan ayam mbah jenggot.
Bella dan aku makan dengan lahap, sesekali aku tertawa sendiri. Merasa menang atas Bella.
Aku mengedarkan pandangan, ramai sekali. Dalam hati aku bertanya-tanya berapa keuntungan yang diperoleh ? Belum juga aku selesai menghitung. Aku melihat Pandu duduk diujung, dia tengah bersama seorang gadis mungil, putih, dan berponi.
Pandu tengah tertawa lepas dan mengusap rambut gadis itu pelan. Rasanya aku ingin pingsan saja, tapi mataku malah melotot.
Aku dan Pandu beradu pandang sebentar. Duh ketahuan ! Gadis itu berdiri kemudian disusul Pandu dibelakangnya. Memukul kepalaku pelan. Lalu cepat-cepat menunduk, menyibukkan diri dengan piringku lagi. Tapi sial ! Piringku sudah kosong.
Pandu semakin dekat, ketika sampai di samping mejaku. Dia berhenti, aku meraih gelas. Berpura-pura menyedot padahal isinya sudah habis.
"Kak Pandu..." kata Bella mengagetkanku. Ya Tuhan Bella ! Aku ingin memukulnya !
Aku masih sibuk dengan gelas kosong, enggan untuk menyapa Pandu.
"Makan disini juga ?" Tanya Pandu.
"Iya kak, ini nemenin Sasa." Jawab Bella singkat. Bella menyenggol siku ku "Saa.."
Ya ampun, kenapa Bella tidak peka sekali sih ! Rasanya aku ingin lari sekarang juga.
Aku mendongak kemudian tersenyum kikuk. Gadis itu melihat ke arahku. Benar-benar cantik sekalipun tanpa senyum.
"Kalo minumnya habis beli lagi Sa, jangan disedot terus nanti perutmu kembung." Pandu sialan ! Aku ketahuan lagi !
Bella melihatku heran, aku hanya cengengesan tidak jelas. Kalah telak aku dengan gadis itu !
"Ehhh...kak Pandu kesini sama siapa ?"
Kali ini aku ingin mengucapkan terima kasih pada Bella, aku ingin pergi ke kasir membelikan ayam lagi. Tapi kaki ku tak sanggup bergerak, lemas seperti jelly menunggu jawaban dari Pandu.
Aku harap telinga ku tak bermasalah kali ini. Lalu membersihkan tanganku dengan tissue, siapa tahu nanti dibutuhkan untuk menutup mulut ketika Pandu mengeluarkan jawaban yang tak terduga.
NB : kayanya bakalan jarang update, solanya udah mulai belajar bareng dedek-dedek gemes. Kalo mas Pandu munculnya cepet berarti aku pandai mengatur waktu wahahahha....
Pandu bersandar di pintu mobil, lalu ia membukakan pintu untukku. Dengan berlari kecil ia memutari mobil kemudian masuk. Pandu mencondongkan tubuhnya, memasangkan sabuk pengaman. Hatiku sesak, seperti tertimpa batu besar, untuk beberapa saat aku lupa caranya bernapas. Wangi Pandu menyeruak membuatku terlena lantas memejamkan mata.
"Aku bisa pakai sendiri !" Protesku.
"Tanganmu kan sedang terluka, aku hanya menolongmu..." terang Pandu.
"Lukanya hanya kecil..."
"Iya emang, besok perbannya diganti plester aja." Aku sedikit bingung dengan ucapannya.
"Terus kenapa tadi kamu repot-repot perban segala ?!" Kata ku berapi-api.
"Sengaja biar keliatan keren..."
"Apanya ?" Tanyaku tak sabaran.
"Akunya lah hahahhaa."
Dasar Pandu sialan, geloooo maneh.
"Nyebelin tahuuukk !" Ia hanya tertawa, lalu lekas melajukan mobil.
Selain pintar menyetir mobil, ternyata Pandu juga pintar menyetir hatiku. Eeeaaaa, ya ampun....sadar Sa ! Sadar !
"Mobil siapa ?"
"Bu Susi..." Jawab Pandu sambil melihat ke arahku.
"Bu Susi guru BK yang terkenal pelit itukan ? Kok kamuuuuu..."
"Akukan anak kesayangannya jadi ya gimana yaaaa..." katanya sambi memainkan alis.
"Ckkk sombongnya !" Umpatku pelan.
Suara tawa Pandu terdengar menggema di dalam mobil.
Mobil berhenti di depan rumah. Pandu melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke arahku yang sudah melepas sabuk lebih dulu. Aku hanya menampilkan sebuah cengiran.
"Mamamu di rumah gak ?" Kata Pandu cepat.
"Di rumah kok tadi aku udah telfon Mama. Kamu langsung balik ke sekolah aja."
"Justru kalo ada mamamu, aku harus masuk. Kan sekalian kenalan sama calon mertua hehehhee." Jawabnya dengan cengiran lebar.
Lama-lama si Pandu nyebelin juga ya. Apa jangan-jangan aku cuma salah denger. Duh bahaya harus cepet-cepet ke dokter nih.
"Dihhhhhhh halu..." kekeh ku geli.
"Halu-halu gini kamu suka kan ?!"
Deg ! Tenggelamkan saja aku ! Bibirku tak bisa diajak bekerja sama untuk membantah ucapan Pandu. Aku hanya tertunduk malu. Dan menggigit bibir bagian dalam. Pandu terus tertawa sampai di depan pintu, ia baru berhenti.
Mama menyambutku dengan banyak pertanyaan, memeriksa tubuhku, lalu menyuruh untuk beristirahat di kamar.
Pandu dan mama mengobrol di ruang tamu. Samar-samar terdengar Pandu tertawa. Aku tertidur bersamaan dengan Pandu yang kembali ke sekolah.
Paginya aku merasa sudah baikan jadi mama mengizinkan untuk bersekolah.
"Sa, tolong bawa buku ini ke ruangan saya sekarang." Perintah bu Susi.
Aku merasa bu Susi sedikit kesal dengan ku, beliau tahu aku kemarin jatuh. Harusnya beliau tidak meminta bantuan padaku kan ? Atau beliau sengaja karena kemarin Pandu meminjam mobilnya ?
Dengan sigap Bagas membantu membawakan setengah buku-buku pelajaran tadi. Kami berjalan menuju ruang guru. Jantungku berdebar kencang karena harus melewati kelas Pandu.
"Sa, kita satu kelompok untuk tugas membuat kliping. Mau ngerjain kapan ?" Bagas membuka suara.
"Kalo sabtu aja gimana, sepulang sekolah ?"
"Iya udah, dimana ? Rumahku apa..."
"Di perpustakaan daerah aja. Sekalian cari koran gratis disana." Imbuhku dengan cengiran lebar.
"Ehemmmmm.." aku mendengar seseorang berdeham.
Pandu muncul dari arah toilet, aku seperti seorang maling yang ketahuan mencuri. Dengan cepat Pandu mengambil buku-buku di tanganku. Aku memandangnya meminta penjelasan.
"Biar aku yang bawa, kamu balik ke kelas lagi aja." Kata Pandu cepat.
Aku ingin membantah, tapi melihat tatap mata Pandu nyaliku berubah menciut. Dengan sedikit berlari aku kembali ke kelas. Membiarkan Bagas berdua dengan Pandu.
Mengambil botol minum, lalu meminumnya sampai tandas.
"Kamu kenapa Sa ?" Tanya Bella heran.
Aku hanya tersenyum geli kemudian mengeleng.
"Eh nanti mampir ke ayam mbah jenggot dulu yuk." Ajakku pada Bella.
"Kamu lagi sakit lo Sa, gak boleh makan-makanan yang kaya gitu."
Aku mengeluarkan jurus andalanku. "Ayolah Bel, sekali aja. Pleasseee..." rengekku dengan mata membulat besar.
"Ok ok tapi sekalian aku dibayarin ya." Bella tertawa diakhir kalimat.
"Siap boss !" Jawab ku singkat sambil mengangkat 2 jempol.
Setelah terdengar bunyi bel pulang, aku langsung menarik Bella untuk ke parkiran.
Seperti biasa ayam mbah jenggot selalu penuh. Bella pergi ke kasir, sedangkan aku mencari tempat duduk.
Senyumku mengembang melihat Bella datang, sebenarnya aku bukan pecinta ayam. Tapi entah mengapa hari ini aku sangat ingin makan siang dengan ayam mbah jenggot.
Aku mengedarkan pandangan, ramai sekali. Dalam hati aku bertanya-tanya berapa keuntungan yang diperoleh ? Belum juga aku selesai menghitung. Aku melihat Pandu duduk diujung, dia tengah bersama seorang gadis mungil, putih, dan berponi.
Pandu tengah tertawa lepas dan mengusap rambut gadis itu pelan. Rasanya aku ingin pingsan saja, tapi mataku malah melotot.
Aku dan Pandu beradu pandang sebentar. Duh ketahuan ! Gadis itu berdiri kemudian disusul Pandu dibelakangnya. Memukul kepalaku pelan. Lalu cepat-cepat menunduk, menyibukkan diri dengan piringku lagi. Tapi sial ! Piringku sudah kosong.
Pandu semakin dekat, ketika sampai di samping mejaku. Dia berhenti, aku meraih gelas. Berpura-pura menyedot padahal isinya sudah habis.
"Kak Pandu..." kata Bella mengagetkanku. Ya Tuhan Bella ! Aku ingin memukulnya !
Aku masih sibuk dengan gelas kosong, enggan untuk menyapa Pandu.
"Makan disini juga ?" Tanya Pandu.
"Iya kak, ini nemenin Sasa." Jawab Bella singkat. Bella menyenggol siku ku "Saa.."
Ya ampun, kenapa Bella tidak peka sekali sih ! Rasanya aku ingin lari sekarang juga.
Aku mendongak kemudian tersenyum kikuk. Gadis itu melihat ke arahku. Benar-benar cantik sekalipun tanpa senyum.
"Kalo minumnya habis beli lagi Sa, jangan disedot terus nanti perutmu kembung." Pandu sialan ! Aku ketahuan lagi !
Bella melihatku heran, aku hanya cengengesan tidak jelas. Kalah telak aku dengan gadis itu !
"Ehhh...kak Pandu kesini sama siapa ?"
Kali ini aku ingin mengucapkan terima kasih pada Bella, aku ingin pergi ke kasir membelikan ayam lagi. Tapi kaki ku tak sanggup bergerak, lemas seperti jelly menunggu jawaban dari Pandu.
Aku harap telinga ku tak bermasalah kali ini. Lalu membersihkan tanganku dengan tissue, siapa tahu nanti dibutuhkan untuk menutup mulut ketika Pandu mengeluarkan jawaban yang tak terduga.
NB : kayanya bakalan jarang update, solanya udah mulai belajar bareng dedek-dedek gemes. Kalo mas Pandu munculnya cepet berarti aku pandai mengatur waktu wahahahha....

Komentar
Posting Komentar