Pandu Dan Rindu [saingan ?]
Beberapa kali ponselku bergetar, tapi aku enggan untuk mengambilnya. Rasanya hari ini sangat melelahkan, membuatku ingin tidur lebih cepat. Baru 5 menit aku terlelap, ponselku kembali bergetar membuatku terpaksa bangun. Kali aja penting.
Pandu : Lagi dimana ?
Pandu : P
Pandu : P
Pandu : P
Demi apa ? Pertanyaan macam apa itu ? Nyawaku masih belum terkumpul sempurna. Aku hanya melihat pesan Pandu lalu bersiap untuk tidur lagi.
Pandu : yee dibaca doang, bales napa !
Sasa : di rumah.
Pandu : salam buat mamamu.
Tuhkan aneh emang si Pandu. Nitip salam buat mama ? Gak salah nih ? Mulai ngeselin deh. Tapi kok bikin penasara ya.
Sasa : salam apa ?
Ponselku berdering, aku kaget mataku sedikit melebar. Pandu telfon ? 2 bulan kenal Pandu baru kali ini dia telfon.
Pandu cuma telfon Sa ! Tarik napas pelan-pelan, buang ! Ulangi ! Sip ! Sekarang angkat telfonnya.
"Halo Assalamu'alaikum...." kata Pandu diseberang sana.
"Ha-halo..." kataku serak khas bangun tidur.
"Kamu baru bangun tidur ? Itu salam ku buat mamamu." Suara tawanya terdengar indah di telingaku.
Receh sekali memang ! Ingin marah tapi suara Pandu membuatku diam membisu.
"Oh...iya nanti aku sampein ke mama."
"Tadi kamu pulang sama siapa ?"
Keningku sedikit berkerut, pertanyaan Pandu membuatku berpikir macam-macam.
"Dih kepo !!" Aku tertawa diakhir kalimat. Merasa di atas awan.
"Ok ! Kalau kamu gak mau bilang, aku bisa tahu cari sendiri !!" Tantang Pandu
"Silahkan..." kataku tak mau kalah.
"Aku hafal plat motor tadi, di luar kepala malah !" Aku tahu saat ini Pandu tengah tertawa sinis padaku.
Gila ! Ternyata Pandu cukup berbahaya.
"Dia itu abangku, bang Adam."
Terdengar Pandu menghela napas pelan.
"Hah ! Aman." Ujapnya lirih.
Rasanya ada ratusan kupu-kupu yang terbang di perutku. Bahkan dinding dan langit-langit kamar seketika bercorak bunga-bunga. Ah senangnya.
"Kamu udah sholat Isya belum ?" Sambungnya.
"Belum..." jantungku kembali bereaksi.
"Sana sholat dulu ! Jangan lupa..." Pandu sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Apa ?" Tanya ku tak sabaran.
"Jangan lupa do'ain aku biar gak gampang cemburu !" Jawab Pandu mantap. Dia tertawa cukup keras seperti menertawai dirinya sendiri.
Sudut bibirku terangkat sedikit, aku mengangguk. Bodoh ! Pandu gak liat kamu Sa ! Aku terkekeh geli.
"Hahaahaaa iya...." jawabku serba salah.
"Ok ! Aku tutup telfonnya." Jawabnya singkat.
Aku meremas ponselku, menutup mataku dengan bantal. Lalu melihat langit-langit kamar ada banyak tulisan disana. Pandu cemburu, Pandu cemburu, Pandu cemburu mengelilingi dinding kamarku. Aku menggigit guling tanpa sadar. Bergerak kesana-kemari seperti orang gila di atas kasur. Ah Pandu ! Pipiku memanas ketika mengingatmu.
Hari ini Wulan izin gak berangkat saudaranya ada yang menikah. Aku terpaksa berangkat sendiri, motorku melaju pelan.
Aku hanya perlu memutari alun-alun, lalu berbelok ke kanan, sekolahku berada di ujung jalan. Senyumku melebar, untuk pertama kalinya naik motor sendiri ke sekolah, sejauh ini cukup bagus menurutku.
Sampai akhirnya aku terpental pelan menyentuh aspal. Aku tak tahu apa yang terjadi ? Seingatku tak ada mobil dari arah berlawanan, tidak ada batu besar di tengah jalan. Lalu kenapa aku bisa terpental ? Apa ini cuma mimpi ? Ah iya pasti cuma mimpi.
Mataku menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk, berharap tubuhku hanya jatuh dari ranjang. Tapi faktanya aku berada di tengah jalan.
Motorku tergeletak tak berdaya sedikit jauh dariku, sepatuku terlepas satu. Aku mencoba untuk duduk lalu mengulurkan tangan meminta bantuan untuk berdiri. Bapak-bapak yang berdiri di depanku malah memberikan sepatuku.
Mungkin biar sepatuku gak hilang ? Setelah selesai, aku kembali mengulurkan tangan meminta bantuan lagi. Tapi bapak yang tadi malah melengos, berjalan kearah motor lalu memindahkan ke pinggir jalan. Sialan ! Lelaki dan ketidak pekaan mereka adalah paket yang lengkap.
Tangisan anak kecil menyadarkanku. Dia duduk di pangkuan ibunya, bibirnya sedikit berdarah. Dengan kaki yang selemas jelly aku berjalan mendekat.
Menghela napas pelan, aku merapalkan do'a agar terhindar dari amukan ibu-ibu berdaster.
Aku membatu ketika ibu itu menyerangku dengan ribuan kata maaf. Dia menjelaskan anaknya lari menyebrang sendiri untuk mengambil bola. Pantas saja ! Aku ingin marah tapi mata anak kecil tadi menyorotkan ketakutan yang luar biasa. Kasihan.
Tak kalah heboh aku juga mengucapkan ribuan kata syukur di dalam hati, bukan salahku. Kami berdamai ibu tadi bahkan memelukku sebelum pergi. Aku mencoba tersenyum, perasaan lega pun datang menghampiriku.
Motorku dibawa ke bengkel. Spionnya patah, lampu depannya pecah. Aku meneruskan sisa perjalanan dengan becak. Mengambil ponsel dari dalam tas lalu mengetik pesan di grup kelas.
Sasa : aku telat, tadi jatuh di alun-alun. Tapi gpp, sekarang lagi otw sekolahan naik becak.
Sedikit meringis ketika luka di punggung tanganku terkena sinar matahari, rasanya perih. Setelah sampai di depan pintu gerbang. Aku merogoh saku kanan, mengambil uang. Lalu menyerahkan pada bapak tukang becak. Loh kok cuma 5 ribu. Konyol sekali !
Aku mulai panik, tangan ku meraba saku sebelah kiri. Ah ! Menghela napas lega, lalu menyerahkan satu lembar uang 50 ribuan.
"Sedikit untuk bapak. Terimakasih banyak." Dengan senyum tipis diakhir kalimat.
Bapak tadi mengangguk, tersenyum padaku lalu pergi. Saat aku berbalik ketua kelas, Bella dan Sigit sudah berdiri di belakangku.
"Apanya yang sakit Sa, lecet-lecet enggak ?" Tanya Bella panik.
Aku menggeleng sebagai jawaban lalu memperlihatkan luka di tangan ku.
Ketua kelas menuntunku kearah motor, lalu ia menghidupkan motornya, melaju pelan ke UKS. Bella dan Sigit mengikuti di belakang.
"Duduk dulu disini, aku bersihin lukamu." Perintah ketua kelas menyuruhku duduk di ranjang.
Bella dan Sigit pergi ke kantin membeli minum. Hanya tinggal aku dan ketua kelas, tapi jantungku baik-baik saja. Tak berdetak kencang seperti saat berdua dengan Pandu. Padahal menurut Bella dan Wulan, Bagas cukup tampan. Dengan rambut yang kemerahan, kulitnya bersih, hidungnya mancung, matanya coklat terang. Tapi
anehnya aku tenang saja saat di dekatnya.
Bella dan Sigit kembali dengan membawa teman-teman yang lain. Sambil menunggu Bagas menyiapkan peralatan, aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya tertawa ketika aku selesai bercerita, termasuk diriku sendiri. Adegan berdarah yang cukup lucu.
Bagas mengambil tanganku, dengan hati-
hati dia mulai membersihkan lukaku.
" Sakit ?" Tanyanya saat melihatku meringis. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka masih tertawa membuat UKS ramai. Mata ku melihat Pandu ikut tertawa di depan pintu. Sejak kapan dia berada disini ?
Lagi-lagi aku meringis rasa perih itu bertambah. Bahkan tidak berkurang sedikitpun ketika aku melihat Pandu berjalan ke arah ku. Ia langsung merebut kapas yang dipegang Bagas. Aku kaget, Bagas dan yang lain pun sama. Seketika ruangan menjadi hening. Kedatangan Pandu mulai membuat yang lain berbisik-bisik.
Pandu memeriksa tanganku jeli, matanya menyipit. Wajahnya berubah serius. Napasnya sedikit tak beraturan.
"Tutup matamu sebentar Sa !"
"Kenapa ?" Ada apa sebenarnya ? Kenapa Pandu sampai menyuruhku menutup mata.
"Bawel ! Cepetan tutup mata !" Pandu membentakku tapi aku mendengar ada nanda kekhawatiran disana.
Bisa apa aku selain menurut ? Jujur saja aku takut. Menutup mata ku rapat-rapat. Menikmati wangi Pandu.
"Mengangguk untuk iya, menggeleng untuk tidak." Ujarnya lagi.
Aku mencoba untuk berpikir positif, mempercayai Pandu sepenuhnya.
"Kamu suka ice cream ?" Tangannya mulai bergerak membersihkan luka.
Aku mengangguk
"Kamu suka coklat panas ?" Keningku berkerut menahan rasa perih.
Dari mana Pandu tahu ? Aku mengangguk lagi.
Wangi Pandu semakin kuat, aku rasa Pandu semakin mendekat.
"Kamu suka Pandu ?" Berbisik lirih di telinga, nyaris tak terdengar.
Tapi jantungku bereaksi berlebihan, aku bahkan bisa mendengar suara detaknya, aku meremas selimut kuat-kuat rasanya tak karuan.
Peluru Pandu menusuk relung hati yang terdalam. Bersamaan dengan itu aku merasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari telapak tangan ku.
"Ah ! Sakiiittt !!!" Teriak ku.
Pandu memandangku. Tatapan mata yang tadinya khawatir sekarang mulai melembut. Dahinya sedikit berkeringat, tanganya menyerahkan pingset kecil ke Bagas.
"Ada kaca kecil di telapak tanganmu, tapi sekarang hanya ada aku." Ucapnya tulus disertai senyum tipis yang menular padaku.
Pengalihan rasa sakit yang sangat bagus. Pandu membuka gulungan perban. Wajahnya kembali serius saat melilitkan perban itu ditanganku.
"Lukanya kecil jadi gak usah dijahit, tapi hindari kontak dengan air. Kamu pulang aja ya ? Istirahat di rumah, aku antar. Tunggu disini dulu, aku ambil kunci." Pandu berlalu meninggalkan pertanyaan dibenakku.
Sebelum keluar pintu Pandu menepuk bahu Bagas pelan.
"Jagain bentar !" Pandu dan semua sikapnya membuat ku geleng-geleng kepala.
"Kamu pacaran sama kak Pandu ?"
"Kok kak Pandu baik banget sama kamu ?"
"Perhatian banget ya kak Pandu ?"
"Yang diobati tanganmu yang deg-degan hatiku !"
Aku menggelengkan kepala ku berulang kali. Aku hanya tersenyum tak mampu menjawab. Hanya mengaamiinkan dalam hati.
Merebahkan punggungku di ranjang, mata ini tertutup mengingat pertanyaan terakhir Pandu. Lalu dengan sangat sadar aku mengangguk sebagai jawaban.
Pandu : Lagi dimana ?
Pandu : P
Pandu : P
Pandu : P
Demi apa ? Pertanyaan macam apa itu ? Nyawaku masih belum terkumpul sempurna. Aku hanya melihat pesan Pandu lalu bersiap untuk tidur lagi.
Pandu : yee dibaca doang, bales napa !
Sasa : di rumah.
Pandu : salam buat mamamu.
Tuhkan aneh emang si Pandu. Nitip salam buat mama ? Gak salah nih ? Mulai ngeselin deh. Tapi kok bikin penasara ya.
Sasa : salam apa ?
Ponselku berdering, aku kaget mataku sedikit melebar. Pandu telfon ? 2 bulan kenal Pandu baru kali ini dia telfon.
Pandu cuma telfon Sa ! Tarik napas pelan-pelan, buang ! Ulangi ! Sip ! Sekarang angkat telfonnya.
"Halo Assalamu'alaikum...." kata Pandu diseberang sana.
"Ha-halo..." kataku serak khas bangun tidur.
"Kamu baru bangun tidur ? Itu salam ku buat mamamu." Suara tawanya terdengar indah di telingaku.
Receh sekali memang ! Ingin marah tapi suara Pandu membuatku diam membisu.
"Oh...iya nanti aku sampein ke mama."
"Tadi kamu pulang sama siapa ?"
Keningku sedikit berkerut, pertanyaan Pandu membuatku berpikir macam-macam.
"Dih kepo !!" Aku tertawa diakhir kalimat. Merasa di atas awan.
"Ok ! Kalau kamu gak mau bilang, aku bisa tahu cari sendiri !!" Tantang Pandu
"Silahkan..." kataku tak mau kalah.
"Aku hafal plat motor tadi, di luar kepala malah !" Aku tahu saat ini Pandu tengah tertawa sinis padaku.
Gila ! Ternyata Pandu cukup berbahaya.
"Dia itu abangku, bang Adam."
Terdengar Pandu menghela napas pelan.
"Hah ! Aman." Ujapnya lirih.
Rasanya ada ratusan kupu-kupu yang terbang di perutku. Bahkan dinding dan langit-langit kamar seketika bercorak bunga-bunga. Ah senangnya.
"Kamu udah sholat Isya belum ?" Sambungnya.
"Belum..." jantungku kembali bereaksi.
"Sana sholat dulu ! Jangan lupa..." Pandu sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Apa ?" Tanya ku tak sabaran.
"Jangan lupa do'ain aku biar gak gampang cemburu !" Jawab Pandu mantap. Dia tertawa cukup keras seperti menertawai dirinya sendiri.
Sudut bibirku terangkat sedikit, aku mengangguk. Bodoh ! Pandu gak liat kamu Sa ! Aku terkekeh geli.
"Hahaahaaa iya...." jawabku serba salah.
"Ok ! Aku tutup telfonnya." Jawabnya singkat.
Aku meremas ponselku, menutup mataku dengan bantal. Lalu melihat langit-langit kamar ada banyak tulisan disana. Pandu cemburu, Pandu cemburu, Pandu cemburu mengelilingi dinding kamarku. Aku menggigit guling tanpa sadar. Bergerak kesana-kemari seperti orang gila di atas kasur. Ah Pandu ! Pipiku memanas ketika mengingatmu.
Hari ini Wulan izin gak berangkat saudaranya ada yang menikah. Aku terpaksa berangkat sendiri, motorku melaju pelan.
Aku hanya perlu memutari alun-alun, lalu berbelok ke kanan, sekolahku berada di ujung jalan. Senyumku melebar, untuk pertama kalinya naik motor sendiri ke sekolah, sejauh ini cukup bagus menurutku.
Sampai akhirnya aku terpental pelan menyentuh aspal. Aku tak tahu apa yang terjadi ? Seingatku tak ada mobil dari arah berlawanan, tidak ada batu besar di tengah jalan. Lalu kenapa aku bisa terpental ? Apa ini cuma mimpi ? Ah iya pasti cuma mimpi.
Mataku menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk, berharap tubuhku hanya jatuh dari ranjang. Tapi faktanya aku berada di tengah jalan.
Motorku tergeletak tak berdaya sedikit jauh dariku, sepatuku terlepas satu. Aku mencoba untuk duduk lalu mengulurkan tangan meminta bantuan untuk berdiri. Bapak-bapak yang berdiri di depanku malah memberikan sepatuku.
Mungkin biar sepatuku gak hilang ? Setelah selesai, aku kembali mengulurkan tangan meminta bantuan lagi. Tapi bapak yang tadi malah melengos, berjalan kearah motor lalu memindahkan ke pinggir jalan. Sialan ! Lelaki dan ketidak pekaan mereka adalah paket yang lengkap.
Tangisan anak kecil menyadarkanku. Dia duduk di pangkuan ibunya, bibirnya sedikit berdarah. Dengan kaki yang selemas jelly aku berjalan mendekat.
Menghela napas pelan, aku merapalkan do'a agar terhindar dari amukan ibu-ibu berdaster.
Aku membatu ketika ibu itu menyerangku dengan ribuan kata maaf. Dia menjelaskan anaknya lari menyebrang sendiri untuk mengambil bola. Pantas saja ! Aku ingin marah tapi mata anak kecil tadi menyorotkan ketakutan yang luar biasa. Kasihan.
Tak kalah heboh aku juga mengucapkan ribuan kata syukur di dalam hati, bukan salahku. Kami berdamai ibu tadi bahkan memelukku sebelum pergi. Aku mencoba tersenyum, perasaan lega pun datang menghampiriku.
Motorku dibawa ke bengkel. Spionnya patah, lampu depannya pecah. Aku meneruskan sisa perjalanan dengan becak. Mengambil ponsel dari dalam tas lalu mengetik pesan di grup kelas.
Sasa : aku telat, tadi jatuh di alun-alun. Tapi gpp, sekarang lagi otw sekolahan naik becak.
Sedikit meringis ketika luka di punggung tanganku terkena sinar matahari, rasanya perih. Setelah sampai di depan pintu gerbang. Aku merogoh saku kanan, mengambil uang. Lalu menyerahkan pada bapak tukang becak. Loh kok cuma 5 ribu. Konyol sekali !
Aku mulai panik, tangan ku meraba saku sebelah kiri. Ah ! Menghela napas lega, lalu menyerahkan satu lembar uang 50 ribuan.
"Sedikit untuk bapak. Terimakasih banyak." Dengan senyum tipis diakhir kalimat.
Bapak tadi mengangguk, tersenyum padaku lalu pergi. Saat aku berbalik ketua kelas, Bella dan Sigit sudah berdiri di belakangku.
"Apanya yang sakit Sa, lecet-lecet enggak ?" Tanya Bella panik.
Aku menggeleng sebagai jawaban lalu memperlihatkan luka di tangan ku.
Ketua kelas menuntunku kearah motor, lalu ia menghidupkan motornya, melaju pelan ke UKS. Bella dan Sigit mengikuti di belakang.
"Duduk dulu disini, aku bersihin lukamu." Perintah ketua kelas menyuruhku duduk di ranjang.
Bella dan Sigit pergi ke kantin membeli minum. Hanya tinggal aku dan ketua kelas, tapi jantungku baik-baik saja. Tak berdetak kencang seperti saat berdua dengan Pandu. Padahal menurut Bella dan Wulan, Bagas cukup tampan. Dengan rambut yang kemerahan, kulitnya bersih, hidungnya mancung, matanya coklat terang. Tapi
anehnya aku tenang saja saat di dekatnya.
Bella dan Sigit kembali dengan membawa teman-teman yang lain. Sambil menunggu Bagas menyiapkan peralatan, aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya tertawa ketika aku selesai bercerita, termasuk diriku sendiri. Adegan berdarah yang cukup lucu.
Bagas mengambil tanganku, dengan hati-
hati dia mulai membersihkan lukaku.
" Sakit ?" Tanyanya saat melihatku meringis. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka masih tertawa membuat UKS ramai. Mata ku melihat Pandu ikut tertawa di depan pintu. Sejak kapan dia berada disini ?
Lagi-lagi aku meringis rasa perih itu bertambah. Bahkan tidak berkurang sedikitpun ketika aku melihat Pandu berjalan ke arah ku. Ia langsung merebut kapas yang dipegang Bagas. Aku kaget, Bagas dan yang lain pun sama. Seketika ruangan menjadi hening. Kedatangan Pandu mulai membuat yang lain berbisik-bisik.
Pandu memeriksa tanganku jeli, matanya menyipit. Wajahnya berubah serius. Napasnya sedikit tak beraturan.
"Tutup matamu sebentar Sa !"
"Kenapa ?" Ada apa sebenarnya ? Kenapa Pandu sampai menyuruhku menutup mata.
"Bawel ! Cepetan tutup mata !" Pandu membentakku tapi aku mendengar ada nanda kekhawatiran disana.
Bisa apa aku selain menurut ? Jujur saja aku takut. Menutup mata ku rapat-rapat. Menikmati wangi Pandu.
"Mengangguk untuk iya, menggeleng untuk tidak." Ujarnya lagi.
Aku mencoba untuk berpikir positif, mempercayai Pandu sepenuhnya.
"Kamu suka ice cream ?" Tangannya mulai bergerak membersihkan luka.
Aku mengangguk
"Kamu suka coklat panas ?" Keningku berkerut menahan rasa perih.
Dari mana Pandu tahu ? Aku mengangguk lagi.
Wangi Pandu semakin kuat, aku rasa Pandu semakin mendekat.
"Kamu suka Pandu ?" Berbisik lirih di telinga, nyaris tak terdengar.
Tapi jantungku bereaksi berlebihan, aku bahkan bisa mendengar suara detaknya, aku meremas selimut kuat-kuat rasanya tak karuan.
Peluru Pandu menusuk relung hati yang terdalam. Bersamaan dengan itu aku merasa ada sesuatu yang ditarik keluar dari telapak tangan ku.
"Ah ! Sakiiittt !!!" Teriak ku.
Pandu memandangku. Tatapan mata yang tadinya khawatir sekarang mulai melembut. Dahinya sedikit berkeringat, tanganya menyerahkan pingset kecil ke Bagas.
"Ada kaca kecil di telapak tanganmu, tapi sekarang hanya ada aku." Ucapnya tulus disertai senyum tipis yang menular padaku.
Pengalihan rasa sakit yang sangat bagus. Pandu membuka gulungan perban. Wajahnya kembali serius saat melilitkan perban itu ditanganku.
"Lukanya kecil jadi gak usah dijahit, tapi hindari kontak dengan air. Kamu pulang aja ya ? Istirahat di rumah, aku antar. Tunggu disini dulu, aku ambil kunci." Pandu berlalu meninggalkan pertanyaan dibenakku.
Sebelum keluar pintu Pandu menepuk bahu Bagas pelan.
"Jagain bentar !" Pandu dan semua sikapnya membuat ku geleng-geleng kepala.
"Kamu pacaran sama kak Pandu ?"
"Kok kak Pandu baik banget sama kamu ?"
"Perhatian banget ya kak Pandu ?"
"Yang diobati tanganmu yang deg-degan hatiku !"
Aku menggelengkan kepala ku berulang kali. Aku hanya tersenyum tak mampu menjawab. Hanya mengaamiinkan dalam hati.
Merebahkan punggungku di ranjang, mata ini tertutup mengingat pertanyaan terakhir Pandu. Lalu dengan sangat sadar aku mengangguk sebagai jawaban.
Komentar
Posting Komentar