Titik Temu (hujan kala itu)

"Je udah ngerjain tugasnya bu Tantri belum?"

"Lupa...." Jeje memasang wajah polosnya.

"Masa sih calon istri ku ini lupa?" Agil nyengir kuda tanpa dosa.

"Dih..." Jeje bergidik ngeri.

"Hehhe namanya juga usaha. Beneran belum ngerjain?" Agil masih berusaha keras untuk mendapatkan jawaban dari Jeje.

"Lupa tadi dipinjem sama siapa, coba cari sendiri dibangku belakang..."

"Ok makasih say..."

"Stoppp !" Jeje menutup telinganya rapat-rapat.

Agil tersenyum sambil memberikan love-love di udara membuat Jeje seketika menjadi mual. Dia termasuk cewek yang risih ketika dideketin cowok secara terang-terangan. Sayangnya Agil tak paham itu, bagi Jeje, Agil hanyalah teman- yang cukup alay.

Jeje kembali duduk dibangkunya, angin menampar pipinya lembut, ia melihat ke arah jendela. Awan yang tadinya berwarna biru laut itu lama-lama berubah menjadi abu-abu, daun-daun mulai berguguran, sedetik kemudian rintik hujan datang.

Dan tanpa permisi sebuah kenangan melintas dalam ingatan. Saat itu Jeje pergi ke sekolah dengan Mita, tadinya awan berwarna cerah sampai di tengah jalan hujan datang tanpa diminta. Jeje menyuruh Mita untuk berteduh tapi Mita tetap meneruskan perjalanan karena 15 menit lagi gerbang akan ditutup, mereka menerobos hujan dengan jas hujan. Tangan Jeje mulai keriput, bibirnya menggigil. Ia memang tak bersahabat dengan hujan.

Cahaya lampu motor memantul dari spion, Jeje melihat ke belakang. Ia melihat dari sela-sela hujan, cowok yang memiliki senyum manis itu ada dibelakangnya. Diam-diam, Jeje tersenyum lantas hatinya mulai menghangat.

Hembusan napas kecewa dari Jeje terdengar saat cowok itu melajukan motornya lebih kencang. Punggung cowok itu basah, rupanya ia tak memakai jas hujan. Jeje meremas jas hujannya lebih erat. Ia berdo'a dalam hati agar hujan tak lagi lebat , atau seorang akan meminum obat.

Suara bu Tantri mengembalikan Jeje ke tempat semula, ia menoleh ke belakang. "Siniin buku gue.." ucapnya tanpa suara.

******

"Jeee, anterin ke tempat budhe gue dulu please..." rengek Rinda teman sekaligus sahabat Jeje dari SMA.

Mereka satu kelas selama di SMA dan sekarang mereka satu universitas, satu jurusan, satu kelas dan juga duduk bersebelahan. Mantappp!

"Ngapain?" Tanya Jeje.

"Ada deh..."

Jeje memandang curiga ke arah Rinda, ia ingin bertanya tapi Rinda lebih dulu menyeret tangannya.

Rinda mengambil alih motor Jeje seenaknya, ia menembus kemacetan senja. 30 menit kemudian motor itu berhenti di depan sebuah rumah berpagar besi putih.

*****

"Ayo masuk, anjing sebelah galak tau!" Rinda menggoda Jeje yang memiliki kebisaan untuk selalu menunggu di luar jika ia tak punya keperluan.

"Ihhhh seremmm..." dengan setengah hati Jeje menyeret kakinya.

"Budheeee, budheeee...." teriak Rinda setelah mengetek pintu.

Wanita cantik paruh baya yang memakai daster itu muncul dari arah belakang. Matanya melihat Jeje jeli, yang dipandang hanya tersenyum kikuk. Rinda menyalami budhenya, disusul dengan jeje.

"Jeje temannya Rinda tante." Suara Rinda memecah kebingungan wanita paruh baya dihadapannya.

"Oh, cantiknyaa..." kata Budhe ramah. Senyumnya memunculkan beberapa kerutan tapi itu tak mengurangi kecantikannya.

"Makasih tante hehehhe..."

Budhe menyerahkan sebuah bungkusan pada Rinda, "ini masih anget, baru keluar dari oven tadi."

"Makasih budhe..." Rinda tersenyum lebar.

"Langsung pulang gak usah main-main, mau ujan. Ati-ati di jalan ya..."

Rinda mengangguk sebagai jawaban, ia lantas bersalaman dengan budhenya diikuti Jeje di belakangnya.

"Itu apa Nda?" Tanya Jeje penasaran.

"Brownies coklat kesukaan lo, nanti gue bagi kalo dah sampe rumah ya. Baikkan gue..." Rinda menepuk dadanya bangga.

Sedangkan Jeje hanya mengelengkan kepalanya. Ajaib memang tingkah sabahatnya yang satu ini.




Nb: bingung gak sih kalian bacanya? Kadang tiba-tiba flashback gitu? Kalo aku sih bingung nulisnya gimana hehehe 😂





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03