Pandu Dan Rindu [ Alisa Putri Wijaya Samudra]

 Hari senin tiba, seperti biasa akan ada upacara bendera. Tapi kali ini akan ada serah terima jabatan OSIS di SMA NUSANTARA. Aku Alisa atau lebih sering dipanggil Sasa hanya mampu berjalan pelan menuju lapangan. Maklum tadi pagi belum sarapan.

"Lemes banget sih Sa ?" Tanya Wulan sahabat Sasa sewaktu SMP

"Biasa belum sarapan aku." Kata ku dengan sisa-sisa tenaga.

"Pasti gara-gara Wulan datang ke rumah mu kepagian kan ?" Hardik Bella

"Sialan ! Mamanya Sasa belum masak Bella Bello Belek !" Ejek Wulan.

Yang dihina cuma senyam-senyum gak jelas. Bagi Bella itu adalah panggilan sayang dari Wulan. Lantas keduanya tertawa bersama. Membuat teman-teman yang lain melihat ke arah mereka.

Aku meletakkan jari telunjukku dibibir. Menyuruh sahabat-sahabat ku untuk diam. Mereka kemudian mengarahkan pandangan ke arah depan.

"Eh lihat deh. Itu kan kan Pandu !" Bisik Bella.

Aku melihat pada satu titik. Dimana Lelaki itu berjalan dengan membawa bendera. Tingginya hampir menyamai tiang yang dia bawa. Alisnya tebal, hidungnya mancung, matanya hitam pekat, dagunya kokoh, senyumnya menawan. Pandu dengan segala yang tercipta sempurna. Oh dan jangan lupakan kura-kura ninja hitam yang Pandu pacu setiap hari. Menambah aura pesonanya.

"Kak Pandu mantan ketua OSIS Sa ?" Tanya Wulan.

"Aku juga baru tahu sekarang." Ucap ku singkat. Jujur saja aku memang baru tahu pagi ini.

"Emangnya kamu kalo chatt sama kak Pandu bahasnya apa aja sih Sa. Masa gitu aja gak tahu ?" Selidik Bella.

"Idihhh kepooo !" Jawab ku sarkas

"Ayolah. Cerita sama kami, gak asik kalo mainnya rahasia-rahasian ." Tawar Bella

"Nanti, sekarang masih upacara dan aku lapar. Kamu mau diam apa mau ku makan ?!" Ujar ku sambil memainnkan alis. Dan tentu dengan senyum jail, untuk membuat mereka kesal.

"Galak amat bu ! Udah kaya ibu kostan aja." Kata Wulan sarkas.

Upacara selesai. Kami bertiga bergegas menuju kantin untuk menghentikan demo cacing-cacing yang ada di perut.

"Sa, cerita dong. Pleaseeeee." Rengek Bella dengan segala kekepoannya.

"Bentar, aku pesan dulu. Mana uangnya ? Soto sama es jeruk kan ?"  Aku benar-benar lapar pagi ini.

Bella dan Wulan memberikan uang mereka. Aku berjalan pelan menuju gerobak soto pak Budi yang penuh dengan aroma-aroma kenikmatan.

"Pak, pesen soto 3, es tehnya 3 sama gorengannya 5 ribu ya pak. Kalo bisa jangan pake lama." Mengakhiri kalimat ku dengan senyum.

"Siap mbak." Jawab Pak Budi sembari mengangkat tangan untuk hormat.

Lucu. Aku tertawa pelan, Pak Budi yang ramah dengan segala keahlian memasaknya.

Aku menyerahkan uang untuk membayar pesanan. Tapi tangan ku ditahan. Dihentikan secara sepihak. Aku melihat tangan itu, cukup besar. Bola mata ku bergerak ke atas. Mata hitam pekat itu memandang tajam. Pandu. Seketika jantung ku berdetak dengan tempo yang sedikit cepat.

"Aku traktir." Kata Pandu singkat.

"Da-dalam rangka apa ?" Sial aku gagap.

"Sedekah, biar kamu tambah sehat. Dan gak kurang gizi." Jawab Pandu dengan tertawa.

Aku melihat dengan jelas mata Pandu yang menyipit. Dan disana, ada lesung pipit. Tampan. Tangan ini ingin memegangnya tapi sayang belum muhrim. Eh ! Kok aku. Arrggghh !!!

"Ohh ya makasih. Sering-sering juga boleh." Hanya itu yang keluar dari bibir ku.

Pandu kaget. Setelah mendengar kata-kata ajaib yang keluar dari mulut ku. Tanpa sadar, aku memukul pelan bibir ku sendiri. Pandu tertawa kemudian mengangguk. Double sial.

Aku buru-buru kembali ke meja dengan malu juga tertawa dalam hati. Ternyata menyenangkan bila didekat Pandu. Wanginya bikin nagih. Sialan otak ku mulai menghasut ku.

"Kak Pandu ngapain ?" Bella kembali bertanya

"Kok uangnya utuh sih Sa ?" Wulan melihat ke arah tangan ku yang masih membawa uang.

"Tadi yang bayar Dia." Aku melihat ke arah Pandu.

Bella dan Wulan mengikuti arah pandangan ku. Pandu tengah duduk bersama ke 4 teman-temannya.

"Baik banget." Kata Wulan manja.

Aku duduk, menghela napas. Kok bisa sesak gini ya ? Bahaya nih, ternyata didekat Pandu gak baik buat kesehatan jantung.

"Kamu belum cerita lo Sa."

"Harus sekarang banget ?!" Detak jantung aja masih belum normal dan aku disuruh cerita tentang Pandu. Yang benar saja.

Bella dan Wulan melotot. Aku bergidik ngeri. Dasar miss kepo. Mak-mak rempong. Mak-mak lam... ah sudah lah.

"Aku sama dia cuma chatt biasa. Dia cuma tanya lagi apa ? Udah makan belum ? Jangan lupa solat ?" Jangan lupakan aku tambah ku dalam hati. Sebuah senyum kecil terbit sendiri ketika aku mengingat isi pesan Pandu kala itu.

"Terus kamu jawab apa ?" Bella masih belum puas dengan jawaban ku.

"Lagi mau tidur, lagi nonton TV, udah makan kok sama 4 sehat 5 sempurna. Aku udah solat, soalnya aku belum siap kalo harus disolatin." Kata ku seadanya.

"Cah edan !" Hardik Wulan

"Ngeselin abis !" Bella tak mau kalah

"Bodo amat." Kata ku santai

"Terus-terus kak Pandu balas apa ?" Bella kembali dengan jurus kepo andalannya. Menyebalkan !

"Lupa. Udah ah ! Aku mau makan dulu. Selamat makan. Selamat menikmati." Kata ku ramah saat melihat mangkuk soto di depan ku. Pak Budi sang penyelamat tanpa sayap. Aku tertawa jahat tapi dalam hati.

"Masa lupa sih ?" Bella dengan keras kepalanya.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Tapi dalam hati menambahkan sendiri. "Makan bareng aku kapan ? Kok cepet sih. Kan aku belum ke rumah mu untuk jadi imam solat mu."

Aishhh aku malah senyum-senyum sendiri. Untung Bella dan Wulan sibuk dengan soto. Coba kalo gak ? Udah dibilang gila aku. Bibir ini tersenyum lagi. Tuh kan gila beneran nih.

Kali ini aku terpaksa pulang sendiri tanpa dibonceng Wulan. Dia harus ke kantor mamanya. Ada urusan penting katanya. Bella ingin mengantar ku pulang tapi ditahan oleh Wulan. Rumahnya gak searah dengan rumah ku. Kasihan, Bolak-balik jauh sendirian.

Aku berjalan menuju tempat duduk seberang sekolah. Tempat ngetem angkot atau bis. Langit mendung, angin berhembus semakin sering, daun-daun berguguran pertanda akan hujan. Dan disini aku sendirian. Sepi.

Merogoh hp dari dalam saku. Jam 5 sore. Pantas saja angkutan umum belum ada yang lewat dari tadi. Aku mulai resah, menghela napas pelan mencoba untuk tenang.

Tin ! Tin ! Tin !

Aku meremas ujung rok, mulai berpikir macam-macam. Kemudian merapalkan do'a dalam hati.

"Ayo naik ! Aku antar."

Suara itu. Aku mengangkat kepala, mempertajam pandangan. Dia mematikan motornya. Melepas helm fullfacenya. Pandu dengan senyum menawannya muncul ke permukaan. Aku kembali menghela napas, masih terdiam dengan kaki yang lemas tak sanggup untuk melangkah.

Pikiran juga hati ku beradu. Harus boncengan sama Pandu nih ? Nunggu angkot ajalah ? Tapi udah sore kalo gak ada angkot gimana ? Aku terlalu fokus dengan apa yang ada dikepala. Sampai aku tak menyadari Pandu sudah berdiri tepat di depan ku, menyerahkan jaketnya.

"Dipake nanti kamu kehujanan. Udah sore angkot jarang lewat. Aku antar, rumah kita searah." Kata Pandu. Nadanya pelan tapi aku tahu dia tak mau dibantah.

Menurut, aku memakai jaket kebesaran milik Pandu. Wanginya menyapa hidung, tangan ini bergerak sendiri memukul pelan kepala ku. Menyadarkan dari khayal.

Kuda besi Pandu berjalan pelan. Rintik hujan mulai berjatuhan. Pandu menarik tangan ku untuk memeluk pinggangnya. Aku kaget setengah tak percaya tapi kemudian paham. Pandu menambah kecepatan motornya. Membelah serangan air hujan di tengah jalan. Aku melihat punggung Pandu yang kokoh mulai basah oleh rintik hujan. Tangan ini ingin memeluknya lebih erat untuk mengurangi dingin air hujan yang pastinya menusuk,  tapi aku takut menambah dosa.

Berdua dengannya di atas kuda besinya, membuat aku mengerti, bahwa kedua tangan ini nyaman memeluknya, tubuhnya menjadi candu bagi sepuluh jemari. Atau aku hanya takut jatuh ? Karna dia begitu cepat menunggang kuda besinya.

Setelah beradu dengan air hujan, sedan, motor dan juga dingin yang menusuk. Motor Pandu berhenti tepat di depan rumah ku. Seingat ku tadi, aku belum memberi tahu arah menuju rumah ku, lantas dari mana Pandu tahu ? Turun perlahan dengan wajah penasaran.

"Kok kamu tahu rumah ku ?" Serang ku saat itu juga.

Pandu melepas helm fullfacenya, bibirnya sedikit ungu, pipinya terlihat lebih putih pucat. Ada bagian hati ku yang tak tenang, tak tega. Bingung sendiri antara kasihan atau khawatir ?

"Apasih yang gak aku tahu dari kamu- Alisa Putri Wijaya Samudra." Jawabnya dengan senyum diakhir kalimat.

"Samudra ?" Aku masih bertanya-tanya. Memastikan apa yang ada di kepala ku benar.

"Samudra nama belakang ku. Kamu masuk, langsung mandi seragam mu basah. Aku pulang." Perintah Pandu.

Aku masih membisu. Tak tahu harus berkata apa. Otak ini seketika tak dapat berpikir. Serangan Pandu begitu mendadak dan juga tepat. Untuk seperkian detik aku kehilangan kata-kata.

"Oh iya. Makasih. Kamu juga hati-hati." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut ku, padahal masih banyak kata yang lainnya kabari aku kalo kamu udah sampai rumah, kamu juga langsung mandi, minum teh hangat, tidur pake selimut tebal. Dan jangan sakit !

Seolah paham dengan kata yang tak terucap Pandu mengangguk, mengiyakan.

Aku melihat punggungnya melaju, menajamkan mata, seragam Pandu basah kuyup. Ah ! Aku lupa meminjamkan jaket. Berdo'a dalam hati agar Pandu tak jatuh sakit. Ah Pandu, maafkan aku.

Dengan buru-buru aku masuk ke dalam rumah. Menutup pintu, tangan ku meraba jantung. Masih sama, berdetak kencang. Aku menghela napas, menghirup wangi Pandu yang tersisa. Pandu dan segala yang ada. Memejamkan mata, mengucap tanpa suara.

Terima kasih Pandu Laksana Samudra.







Komentar

  1. Kereeennn....kutunggu lanjutannya. Alur ceritanya bagus, hanya saja ada penggunaan tanda baca yg kurang pas menurut saya. Terutama tanda tanya sama titik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbkkk istiii. Siaap nanti tak edit lagi hahahah.

      Hapus
  2. Sudah bagus, hanya PEUBI harus diperhatikan lagi. Spasi, mana yang perlu digandeng atau dipisah. Misalkan membawa ku (membawaku) yg bnr tidak dipisah "ku"nya. Seperti yang dicontoh aku kasih tanda kurung. Sama jangan kebanyakan kata aku,ku. Misalkan : Aku melihat punggungnya melaju. menajamkan mata (ku), seragam Pandu basah kuyup. Ah ! Aku lupa meminjamkan jaket (ku). Aku hanya berdo'a agar Pandu tak jatuh sakit. Ah Pandu, maafkan aku.

    Bisa diganti

    Aku melihat punggungnya melaju, mata ini tertuju pada seragam Pandu yang basah kuyup. Ah ! Aku lupa meminjamkan jaket. Dalam batin ini hanya mampu berdo'a agar Pandu tak jatuh sakit. Pandu, maafkan kebodohan yang tidak bisa diobati ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap boss kuuu. Siappp makasih. Nanti diedit lagi hehhehe

      Hapus
    2. Sip sip.. PUEBI kwi mksude. Gentine EYD salah nulis peubi malah wkwk

      Hapus
  3. Bagus lho, semoga bisa lebih baik lgi,, dituggu karya dlnjutnya.

    BalasHapus
  4. Nice qaqa, wah aku jadi termotivasi buat nulis nich....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Ganiii 😊 Ayooo sama" nulis sama" belajar hehehe

      Hapus
  5. Balasan
    1. Alhamdulillah πŸ˜…aku juga dibikin baper kok sama kamu hahahaha

      Hapus
  6. Bagus baguss.. Iya kaidah PUEBI ny mungkin yg kurang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbk iraaa... iya ini juga masih belajar hehhehew

      Hapus
  7. Bagus mba, ditunggu karya selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhh heheheh. Siappp jangan lupa kasih tahu temen" mu yang lain hahah

      Hapus
    2. Okee. Penasaran nih sama kelanjutan cerita pandu laksana samudra 😁

      Hapus
  8. Berasa muda lagi baca cerpenmu lal.!

    Xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha makasih oom. Emang oom masih muda kok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ tapi bo'ong wkwkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03