Pandu dan Rindu [tissue]

"Gak tahu tadi cuma ketemu di depan, kelihatannya kelaparan terus aku ajak kesini deh." Terang Pandu.

Gadis itu memukul lengan Pandu sedikit kencang, aku rasa itu sakit. Tapi Pandu malah tertawa, matanya bahkan sampai menyipit, lesung pipinya juga terlihat.

Bella melihat ke arah ku, aku mengangkat bahuku cepat. Pandu menjawab panjang kali lebar tapi aku tak menemukan apapun. Haruskah aku bertanya lagi ? Tapi untuk apa ?

"Aku pulang dulu, nanti ku telfon." Kata Pandu.

Aku terkesiap, keningku berkerut, tapi Pandu telah berlalu dari hadapanku.

Bella mengantarku pulang, dia lebih banyak diam. Mentari mulai tenggelam, senja muncul kepermukaan, tapi batinku tak menemukan titik terang. Menyebalkan !

*****

Jarum jam sudah menunjukkan angka sembilan, tapi ponsel ku tak juga berdering. Bayangan Pandu dan gadis tadi seketika menghadangku. Ah ya ! Mereka serasi sekali.

Ponselku berdering, aku hanya mengangkatnya terlalu malas untuk melihat siapa yang menelfon.

"Haloooo...kirain udah tidur ?" Suara yang sudah ku hafal.

"Belum kok..." hanya itu yang keluar dari mulutku. Menyedihkan, bukankah aku seperti sedang merajuk sekarang ?

"Kamu suka ayam mbah jenggot ?" Ucapnya kemudian.

"Tadinya iya tapi sekarang enggak lagi." Jawabku asal.

"Kalo aku sukanya ikan hehhehe." Pandu terkekeh pelan.

Lah siapa yang tanya ? Pandu membuatku bingung dan sebal sekaligus. "Aku gak nanya !" Kataku sarkas.

"Aku suka ikan tuna, ikan lele, ikan nila sama ikan...." Pandu menggantungkan kalimatnya.

Telingaku mulai bosan, aku bahkan menguap beberapa kali.

"Ikaannnmuuu yang lagi sebel sama akuuuuu hahahhahhaa." Tawa Pandu pecah.

Hatiku berdesir mendengarnya, ada rasa hangat yang menjalar ke pipi. Aku tersenyum berkali-kali.

"Mannaaa adaaaa !!!!" Tawaku menggema, terlalu keras aku cepat-cepat mengambil bantal untuk menutup mulut.

Pandu tertawa lega seolah-olah ia telah memecahkan batu "Udah malem sana tidur. Aku mau ngeronda dulu, biar gak ada pencuri."

"Dimana ?" Tanyaku penasaran.

"Di depan rumah mu lah ! Biar hati mu aman gak ada yang nyuri selain aku." Katanya dengan tertawa diakhir kalimat.

"Idihhhh recehhhh kali !" Tanganku menutup mulut rapat-rapat untuk menyembunyikan tawaku.

****************************************************************************
Sepulang sekolah sesuai kesepakatan kemarin aku dan Bagas pergi ke pusda di dekat alun-alun. Disana cukup sepi, aku memilih untuk duduk di ujung.

"Kamu baca aja Sa, biar aku yang gunting." Bagas mengambil gunting dari dalam tasnya.

"Eh...padahal aku juga bawa gunting." Jawabku kecewa

"Menggunting koran buat jadi kliping itu berat, biar aku aja. Kamu gak akan kuat." Diikuti suara tawa.

"Hahaha basi tauuuk !" Kataku jujur. Aku sudah membaca novelnya sekitar 2 tahun yang lalu sebelum akhir-akhir ini menjadi booming karena difilmkan.

Bagas mengacak-acak rambutnya asal.

Mataku mengarah ke arah luar melalui jendela kaca yang sangat besar, banyak pohon-pohon angsana, bunga-bunganya berjatuhan membuat setapak kecil itu tertutup warna kuning. Kakiku gatal untuk melangkah kesana, tapi rasanya akan sangat kurang kalau hanya berjalan sendirian.

Aku dan Bagas keluar setelah jam menunjukkan pukul 4. Ternyata tak serumit yang ku bayangkan. Tugas membuat kliping telah selesai, Bagas bekerja ekstra untuk itu. Dia yang menggunting, mengelem dan menempel sedangkan aku hanya membaca kemudian melipat artikel yang sesuai untuk dijadikan kliping. Aku disambut oleh langit yang mulai gelap yang disertai hembusan angin.

"Kamu pulangnya naik apa ? Aku anter aja ya ?! Udah sore angkotnya susah."

Aku hanya mengangguk. Bagas ada benarnya juga, aku mengikutinya menuju ke parkiran. Dia mengantarku sampai rumah. Aku hanya mengucapkan terima kasih kemudian Bagas pergi.

****************************************************************************
Ketika hari Senin tiba, aku mendengar ribut-ribut di lorong sekolah. Aku berlari menerobos kerumunan itu. Bagas tengah duduk di lantai dengan sudut bibirnya yang berdarah. Tanganku mengambil tissue dari dalam saku, menghapus sedikit darah secara pelan-pelan. Bagas hanya meringis lalu tersenyum kecil. Aku mengikuti arah pandangan Bagas. Sedetik kemudian mataku bertemu dengan Pandu. Wajahnya terlihat berbeda dari biasanya, sorot matanya benar-benar tajam disertai senyum sinis meremehkan.

Pandu tak mengatakan apapun, dia langsung angkat kaki. Tangannya mengepal sepertinya dia benar-benar marah. Aku masih bingung dengan keadaan ini, Pandu si mantan ketua OSIS berkelahi di sekolah ? Kenapa ? Ada apa dengan Pandu dan Bagas ? Setelah kerumunan itu bubar, Bagas pergi ke kamar mandi. Sedangkan aku pergi ke kantin bersama Wulan, Bella dan juga pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala.

Aku membuka telinga lebar-lebar ketika mendengar siswa-siswi di kantin tengah berbisik-bisik.

"Pandu, Bagas, Farhan, Adit sama Rizal dipanggil sama Bu Susi."

"Bagas kena bogem mentahnya Pandu."

"Sebenarnya ada masalah apasih antara Pandu sama Bagas."

Aku menghela napas, kepala ku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang sama.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03