Pandu dan Rindu [ manisnya coklat, wangi Pandu dan suara rintik hujan]

Aku meninggalkan kantin dengan membawa air mineral di tangan. Pikiranku masih beradu, aku tak suka mendengar bisik-bisik tentang keburukan Pandu, hatiku seperti diremas-remas. Rasanya ingin menyangkalnya tapi aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


***************************************

Pandu keluar dari ruangan bu Susi, kemudian berjalan ke arah lapangan. Dengan sedikit berlari aku mengejar Pandu. Meninggalkan Wulan dan Bella, tapi aku yakin mereka paham. Kaki ini berhenti tepat dibelakangnya dengan napas tersengal-sengal.

"Nih..." kataku sembari menyodorkan air mineral.

"Makasih..." jawabnya singkat.

Aku hanya terpaku ketika Pandu minum, jakunnya naik turun, bibir merahnya sedikit basah, rahangnya benar-benar kokoh, hidungnnya mancung, kumis tipis disekitar bibirnya membuat Pandu terlihat semakinnnn.... Ah !!! Aku menepuk-nepuk kepalaku pelan. 

Pandu melirikku dari sudut matanya, dia mengangkat sudut bibirnya sedikit, lalu menjilat bibir bawahnya perlahan.

"Manis..." terdengar nada menggoda.

Aku hanya menggigit bibir dalam ku kuat-kuat, pesona Pandu seolah mencekik, rasa panas menjalar dari pipi kemudian turun ke hati. Aku menghirup udara pelan-pelan untuk meredakan rasa aneh yang tiba-tiba datang menyerang. Sialnya ! Wangi Pandu semakin membuatku salah tingkah.

Dengan sedikit menghentakkan kaki, aku pergi ke arah lapangan meninggalkan Pandu. Belum juga tiga langkah, tanganku di tarik olehnya. Sehingga tubuhku berbalik ke arah Pandu. Kali ini sorot matanya kembali seperti biasa. Wangi Pandu benar-benar membuatku sesak. 

"Nanti pulang sekolah ikut aku ya ?!" Perintah Pandu.

"Kemana ?" Tanya ku penasaran.

"Obatin lukaku, dan ingat ! Lukaku gak bisa ilang kalo cuma dilap pake tissue." Wajahnya menunjukkan keseriusan.

Mataku langsung memindai tubuh Pandu dengan jeli, utuh tak ada yang terluka sedikitpun.
Apa Pandu mengalami luka dalam ? Harusnya dia ke rumah sakit bukan ke aku.

"Ke rumah sakit aja, aku gak bisa ngobatin soalnya." Kataku lirih dengan senyum getir.

Pandu tertawa, suaranya benar-benar renyah seolah-olah baru menang lotre. Tangannya terulur cepat ke arah keningku. Badanku mendadak kaku, tak bisa menghindar ketika Pandu menjitak pelan. Bibir ini hanya mengaduh, tanganku bergerak ke atas. Tapi akhirnya hanya melayang diudara, saat tangan Pandu mengusap-usap keningku. Gerakannya ringan, seringan bulu. 

"Udah sana ke lapangan." Suara Pandu mengagetkanku.
Aku hanya menggangguk sebagai jawaban, Pandu berjalan ke arah tempat sampah untuk membuang botol air mineral. Botol yang sangat beruntung, aku meringis. Mengusap keningku, senyum kecil terbit tanpa bisa ku tahan. 

**********************************

Bel pulang sudah terdengar, tapi aku masih tertahan di kelas bersama Bagas dan Wulan. Besok adalah hari piket kami bertiga, aturan di sekolah mengharuskan menyapu saat pulang. Dengan alasan agar kelas tetap terlihat bersih setiap saat. 

"Siniin sapunya biar aku aja yang nyapu..." Bagas berusaha merebut sapu dari tanganku.

"Gak mau ! Kamu duduk aja, tadikan kamu udah buang sampah." Kamu juga barusan kena pukul Pandu, ini sebagai permintaan maaf ku mewakili Pandu. 

Bagas akhirnya menurut, dia duduk di kursi guru. Melihat ke arah ku dengan senyumnya. Lima belas menit kemudian kelas sudah bersih. 

"Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku sajjaaaaaaa...." Wulan bernyanyi dengan suara cemprengnya. 

Aku terkekeh geli, kemudian mengangkat sapu ke arah Wulan.

"Apa kamu bilang ?! Udah sana sapu yang bersih ! Dasar anak gak tahu diri !" Kataku dengan nada dibuat-buat.

Tawa Wulan, Bagas dan tawa ku pecah, terdengar menggema diseluruh ruangan. Tapi itu tak berlangsung lama, Wulan dan Bagas menghentikan tawa mereka. Aku mengikuti arah pandangan mereka, Pandu tengah berdiri di depan pintu.

"Ayooo..." ajak Pandu.

"Aku pulang bareng Pandu ya Wul, kamu hati-hati." Kataku lirih.

"Awas aja kalo gak cerita !" Tangan Wulan bergerak memotong lehernya sendiri. Aku terkekeh geli sambil berjalan ke arah meja untuk mengambil tas.

"Aku duluan ya, Wul...Bagas..." pamitku.

********************************************

Sore ini langkah kakiku, beriringan dengan langkah kakinya, tapi rintik hujan turun. Aku takut malamnya Pandu menghilang tanpa kabar. Tapi tunggu, dia menggenggam tanganku, mengajakku berlari bersama rintik hujan menuju kedai samping sekolah.

Aku dan Pandu duduk di depan jendela kaca, rintik hujan terlihat jelas dari sini, aku tersenyum senang, ada bagian hatiku yang merasa nyaman. Bersama Pandu, hujan menjadi sesuatu yang sangat aku nikmati dan ingin ku ulangi lagi. Aku menghela napas pelan lalu melihat ke arah Pandu. Rambutnya sedikit basah, tapi senyumnya mengembang.

Kepulan asap dan aroma coklat menyeruak di depan wajahku. Aku mengenggam gelas ku merasakan hangat di telapak tangan. Kali ini aku menikmati coklat panas bersamanya, sekalipun Pandu minum latte tapi tetap saja aku berada didekatnya.

Aku memejamkan mataku, menikmati manisnya coklat, wangi Pandu dan suara rintik hujan. Pandu melihat kearahku, lama. Membuatku salah tingkah.

"Mau..." tawarku pada Pandu.

Dia hanya menggeleng pelan. "Aku sukanya keju bukan coklat, tapi tenang kamu setara dengan keju. Bahkan sekarang kamu lebih." Pandu tersenyum kecil diakhir kalimat, mengangkat cangkirnya lalu menyeruput lattenya pelan-pelan.




Aku tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Membisu setelah mendengar perkataan Pandu. Kali ini Pandu tak menggodaku lagi, dia benar-benar menikmati lattenya. Sedangkan aku menikmati setiap gerakan Pandu, menyimpannya dalam kenangan yang akan selalu ku rindukan. Aku berharap masih banyak lagi kenangan yang akan Pandu ciptakan, berulang dan hal itu membuaku bersyukur sebab Pandu membawaku ikut serta ke dalam dunia yang sengaja dia ciptakan bersamaku.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03