Pandu dan Rindu [ penasaran ]

"Ma...makasih kak...." Sial aku gagap. Bibirku tak sanggup untuk menyebutkan  namanya.

Dia terkekeh "Rizal..." dengan imbuhan senyum. "sama-sama. Kamu Sasa kan ? Nanti pulang sekolah temui aku di depan kelas ku ya." Lanjut Rizal.

Sebelum aku menjawab dia sudah berlalu, membuatku merasa sedikit bingung sekaligus takut.

Aku ingin mengadu perihal resahku pada Pandu, tapi aku tak melihatnya sama sekali, pesanku pun belum dibaca. Dia seperti menghilang ditelan kesibukan. Sialnya rumus fisika semakin membuatku pusing. Aku hanya merapalkan do'a dalam hati, entah sudah berapa kali aku melihat ke arah jam. Rasanya waktu berjalan terlalu cepat.

******************************

Dengan langkah gontai aku menuju ke kelas Rizal. Sesampainya disana aku tak melihat Pandu. Lalu perlahan Rizal menghampiri ku.

"Ayo..." ajaknya.

Aku masih mematung, sedikit was-was tetapi kemudian menurut.

Tepat di ruang pak Edi, dia mempersilahkan aku masuk lebih dulu. Aku mengangguk kemudian mengetuk pintu. Tok ! Tok ! Tok !

"Iya silahkan masuk..."

Pak Edi mempersilahkan kami duduk. Aku sedikit menghela napas lega. Berarti ini berurusan dengan sekolah, bukan masalah yang lain.

"Sasa sama Rizal ikut lomba cerdas cermat biologi ya ? untuk memeriahkan HUT SMA Garuda 1. Seminggu cukup 2 kali saja dengan saya, selebihnya kalian latihan sendiri. Jadi mau kapan ?"

"Kalau saya hari Selasa sama Rabu aja pak." Kata Rizal

Aku memang suka biologi, tapi untuk lomba cerdas cermat ? Ah aku mulai ragu dengan diriku sendiri.

"Sasa bagaimana ?" Tanya pak Edi padaku.

"Siap pak." Kemudian ku selipkan senyum kecil.

Kami keluar dari ruangan pak Edi, "Kamu pulang bareng siapa ?" Tanya Rizal.

"Ngangkot kak, soalnya Wulan ada les." Aku menjawab dengan ragu-ragu.

"Mau aku anter ?" Tawar Rizal.

"Gak usah kak, hehehe." Tolak ku.

Rizal tersenyum kecut "Oh ya udah aku duluan ya."

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

******************************

Tin ! Tin ! Tin !

Suara klakson membuatku kaget, aku tersenyum kemudian masuk ke dalam angkot. Kursi paling belakang adalah kursi favoritku, dari sini terlihat jelas siapa saja yang ada di belakang angkot yang aku tumpangi.

Selama perjalanan aku tenggelam dalam lamunan, pikiranku melayang kembali ke kantin tadi, Pandu dekat dengan gadis berponi dari SMA Garuda. Siapa ? Aku benar-benar penasaran. Kemudian wajah Rizal dengan alis hitam tebal dan hampir menyatu itu menghampiriku, hidungnya mancung, kulitnya sawo matang. Rambutnya hitam pekat, tapi wajahnya jarang menampilkan senyum. Aku menghela napas lega, ternyata Rizal belum tahu tentang ku dan Bagas.

Mataku melihat ke arah belakang ketika aku mendengar deru motor yang ku kenal. Motor itu melaju pelan mengikuti angkot yang aku tumpangi.

Aku menyerahkan 1 lembar uang lalu turun dari angkot, dengan tergesa-gesa aku membuka pintu pagar lalu mengeluarkan kunci rumah. Sampai di depan pintu tanganku mengelus dada, merasakan detaknya yang begitu cepat. Langkah kaki membawaku kedalam kamar untuk berganti baju. Dari jendela aku melihat motor tadi berhenti di depan halaman, pemiliknya baru saja turun dari motor


Setelah berganti pakaian aku keluar dari rumah, Pandu menyambutku dengan senyuman. Aku membalas senyumnya, mataku memindai Pandu. Dia tidak lagi memakai seragam sekolah.

"Ngapain ?" Tanyaku penasaran.

"Boleh aku masuk ?"

"Gak !" Alis Pandu terangkat mendengar jawabanku "di rumah lagi gak ada orang, duduk di teras aja. Hehehehe." Terangku kemudian.

Pandu menyugar rambutnya lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Bibirnya berdecak beberapa kali. Pandu semakin terlihat tampan ditambah dengan jaket kulit hitam, celana jeans, dan sepatu membuat mataku enggan untuk perpaling.

Tangan Pandu menarik hidungku sedikit kencang "Aku tahu aku tampan. Tapi kalo kamu liatin aku kaya gitu terus, lama-lama kamu bisa..."

Aku melihat ke arah Pandu, senyum jail menghiasi wajahnya "Bintitan...hahahhaha" lanjut Pandu kemudian.

Bibirku tersenyum tipis, perasaan malu itu entah pergi kemana ? Digantikan dengan perasaan yang lebih hangat dari mentari pagi, lebih sejuk dari pada hujan, serta lebih harum dari pada aroma mawar.

Setelah Pandu duduk di kursi yang ada di teras, aku bergegas masuk ke dapur untuk membuat es jeruk. Tanganku mengambil jeruk nipis yang ada di dalam kulkas kemudian mencucinya. Selanjutnya aku mengambil gelas dari rak, kakiku berjalan menuju kulkas untuk mengambil jeruk, kemudian mencucinya, tanganku menepuk kening kencang. Pandu benar-benar membuatku salah tingkah.

Akhirnya aku keluar dari dapur dengan satu gelas es jeruk. Aku meletakkan tepat di depan Pandu. "Silakan diminum.." kataku ramah. Duh ! Keripik tempenya ketinggalan di meja !

Tanpa pamit aku masuk lagi ke dalam dapur untuk mengambil toples. Tiga menit kemudian aku kembali, Pandu melihat ke arah ku. "Masih ada lagi yang ketinggalan ?" Ucap Pandu disertai tawa.

Aku mengerucutkan bibirku, lalu menggeleng. Tawa Pandu sudah tak lagi terdengar.

"Jangan gitu...." katanya kemudian.

"Kenapa emangnya ?"

"Kamu jadi keliatan tambah gemes....hehhee"

Setelah bunga-bunga bermekaran sekarang seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perutku, aku seperti melihat pelangi padahal matahari bersinar dengan cerahnya. Telingaku mendengar detak jantung yang begitu kencang dan cepat. Pandu benar-benar membuatku tak berkutik sama sekali.

"Maaf...tadi aku ada urusan di luar, Rizal gak ngapa-ngapain kamu kan ?"

"Gak kok...tadi aku sama dia pergi ke ruangannya pak Edi, aku sama dia jadi perwakilan lomba cerdas cermat di SMA Garuda 1." Jelasku.

"Berapa kali latihan ?" Tanya Pandu.

"Dua kali, Selasa sama Rabu bareng pak Edi."

"Sialan !" Pandu mengumpat pelan.

"Selasa sama Rabu aku ada jadwal les jadi gak bisa ngawasin kamu." Lanjutnya. Matanya sendu tapi tangannya sedikit mengepal.

"Tenang aja kan ada pak Edi juga." Kataku mantap, aku tak ingin menjadi beban bagi Pandu. Lagi pula menurutku Rizal tak semenakutkan itu.

"Hmmm kalo ada apa-apa telfon aja..."

"Siap ! Tapi pulsanya ganti. Hehehe."

Pandu tertawa, matanya memandangku, tangannya tak lagi mengepal. Sore ini di teras rumah terdengar tawaku bersama pandu. Rasa hangat itu menjalar ke dalam hatiku.

Suara motor terdengar memasuki halaman, mungkin Bang Adam pulang. Tapi tunggu, itu bukan motor bang Adam. Aku melihat ponsel, Papa gak mungkin pulang jam segini. Kemudian aku tersadar keluargaku tak punya motor ber cc besar itu. Aku penasaran tapi sayang wajahnya tertutup helm fullface.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03