Pandu dan rindu [savage]

"Jaga jarak aman sama Bagas..." kata Pandu.

"Kenapa ?" Jawabku seadanya, aku tak ingin menduga-duga.

"Dia baru putus sama pacarnya hari Jum'at..." shut down

"Terus ?" Kataku penasaran.

"Mantannya liat Bagas jalan sama cewek lain pas hari Sabtu..." double kill.

"Bagas dituduh selingkuh..." triple kill.

"Tadi Bagas dijotos sama Rizal, kakaknya mantannya Bagas..." maniac.

"Terus hubungannya sama aku apa ?"

"Hari sabtu kemarin kamu ngerjain tugas bareng Bagaskan ? Mantannya gak liat mukamu tapi si Rizal bakalan cari tahu siapa yang jalan sama Bagas." Savage.

"Ckkkk aku cuma ngerjain tugas bareng gak lebih." Kataku sarkas.

"Percuma mantannya Bagas sama Rizal gak bakal percaya." Ucap Pandu yakin.

"Aku sama Bagas satu kelas, dia ketua aku wakilnya. Kita satu kelompok kliping, satu jadwal piket. Otomatis aku sama dia bakalan...."

"Nurut aja kenapa sih !" Pandu mulai kesal.

"Mantannya satu sekolahan sama kita ?"

"Enggak tapi Rizal iya. Dia bakalan balas dendam sama kamu, kalau kamu tetep deket sama Bagas." Aku menangkap ada nada khawatir dalam perkataan Pandu.

Aku menghela napas pelan, yang adu jotos bukan Pandu. Tapi kenapa Pandu ada disana ? Kenapa Pandu bisa tahu ? Apa Rizal cerita sama Pandu sedetail itu ?

"Terus kenapa tadi pagi kamu ada dikerumunan itu ?"

"Aku yang misahin Bagas sama Rizal. Kamu gak tahu gimana brutalnya Rizal. Mantannya Bagas itu adek Rizal satu-satunya. Rizal sayang banget sama adeknya, dia gak suka kalau adeknya sampai kenapa-napa." Aku hanya ber oh ria tanpa suara.

"Minggu ini aku bakalan sibuk, aku gak bisa pantau Rizal, Bagas, sama kamu tiap hari. Aku gak bisa ngawasin kamu terus. Makanya kamu harus nurut, biar kamu aman. Tapi kalau Rizal berani nyentuh kamu...." Ternyata Pandu benar-benar khawatir.

"Aku yang akan turun tangan." Kata Pandu mantap.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku tanyakan, tapi aku enggan untuk menanyakannya, ada sebagian hatiku yang takut kecewa kalau jawaban Pandu tak seperti yang aku kira.

Sore itu aku tahu seperti apa teman-teman Pandu, sisi lain dari Pandu, dia sedikit pemaksa tapi begitu perhatian. Seperti malaikat penjaga bukan untukku tapi untuk semua.

*******************************************

Paginya, aku menuruti perkataan Pandu. Sedikit menjaga jarak dengan Bagas, 30 cm itu juga udah jarak kan ? Mau gimana lagi Bagas dan aku sedang mengerjakan soal fisika di depan.

Bu Meta menerangkan dengan sangat jelas, teman-teman yang lain mengangguk-anggukkan kepala. Selain pintar mengajar bu Meta juga pintar berdandan, masih muda, layak dijuluki calon mantu idaman.

"Sasa sama Wulan tolong kembalikan penggaris kayu ini ke ruangan saya ya." Kata bu Meta lembut.

"Baik bu." Aku dan Wulan bergegas ke ruang guru.

"Kamu kemarin kemana sama kak Pandu ?" Kata Wulan menagih janji.

Selama perjalanan menuju ruang guru, aku menceritakan secara detail pada Wulan.

"Tuhkannnn, bener yang berantem sama Bagas bukan kak Pandu." Aku hanya mengangguk.

"Kok kak Pandu perhatian banget sama kamu ?"

"Gak tahu aku. Mungkin dia emang perhatian, baik, sama semua orang kali." Kataku cepat.

"Bisa jadi....eh tuh liat kak Pandu ?" Aku mengikuti pandangan Wulan.

Pandu tengah duduk dibangku di bawah pohon rindang. Ditemani laptop dan ketua OSIS yang baru. Detak jantungku semakin cepat, pertama karena aku akan bertemu dengan Pandu, yang kedua aku akan melewati kelasnya itu artinya aku akan melintas di depan kelasnya Rizal. Aku menghirup napas dalam-dalam mencoba tenang.

"Ehemmmm..." Wulan berdeham tepat di samping Pandu dan ketua OSIS.

Sontak saja, Pandu dan ketua OSIS melihat ke arah kami. Wulan sialan, cari mati dia rupanya.

"Mau kemana kak ? Ini belum selesai lo..." kata ketua OSIS bersamaan Pandu yang berjalan ke arah ku.

"Mau ke toilet bentar, mau ikut ?" Ucap Pandu dengan nada sinis.

Ketua OSIS itu hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil meringis.

"Dasar ulet buluu, gatel !" Kata Wulan sarkas. Aku mencubit lengannya, lalu menggelengkan kepala. Wulan hanya meringis.

"Siniin..." tangan Pandu terulur ke arah ku.

Aku dan wulan saling bertatapan, bingung dengan perkataan Pandu barusan.

"Penggarisnya, biar aku yang naruh di ruang guru. Punya bu Meta kan ?"

Aku dan Wulan menggangguk bersamaan. Tanganku menyerahkan penggaris ke Pandu, "Makasih.." kataku dengan senyum tipis.

""Sama-sama. Udah sana cepat ke kelas lagi."

Setibanya di kelas, aku tak langsung masuk. Aku masih berdiri mematung melihat ke arah Pandu. Dia benar-benar pergi ke ruang guru, satu menit kemudian ku lihat siswa di kelas Pandu berhamburan. Mereka memakai kaus olahraga, ah ya ! Sekarang aku tahu kenapa Pandu memintaku untuk lekas pergi.


**************************************

"Itu kenapa si ketua OSIS baru jadi kaya ulet bulu sih ?" Wulan membuka suara.

"Dia kan emang suka sama kak Pandu dari kelas 1." Rista menimpali.

"Tapi kak Pandu emang ganteng sih ya ?! Pinter lagi !" Nanda menambahkan.

"Tapi nih ya denger-denger kak Pandu lagi deket samaaaa...."

Aku merasa deg-degan, ikut penasaran.

"Sama anak Garuda 1." Lanjut Siska.

"Tahu dari mana kamu ?" Tanya Bella kepo.

"Anak kelas Xl ada yang liat kak Pandu jalan sama anak Garuda, katanya anaknya cantik, putih, ponian." Kata Siska semangat.

"Ohhhhhh yang waktu kita ketemu di mbah jenggot Sa !!!" Jawab Bella berapi-api.

Aku hanya mengangguk, lalu kembali mengingat-ingat jawaban Pandu waktu itu. Dia tidak menyebutkan siapa gadis itu, dia hanya mengalihkan jawabannya, seperti ada yang ditutup-tutupi. Entah kenapa hatiku terasa sedikit nyeri. Butuh ke dokter segera ! Tapi yang di depan mata ku hanya semangkuk bakso.

Kali ini semangkuk bakso pak kumis menjadi pelarianku, 5 sendok sambal ku campurkan ke dalam mangkok, sedikit kecap dan garam. Aromanya membuatku bergidik, merahnya menyala membuatku was-was.

"Tumben banget Sasa pake sambelnya banyak." Ejek Nanda.

Aku hanya nyengir kuda sebagai jawaban. Mulutku rasanya seperti terbakar, padahal baru 3 suap. Dengan panik aku mencari minum, tapi sayangnya es jeruk yang ku pesan belum datang. Aku membuka mulut lebar-lebar mencari oksigen.

"Kepedesan ya neng, nih es ku buat kamu aja." Suaranya asing.

Dengan cepat aku mengambil es jeruk itu, lalu meminumnya sampai habis. Aku menghela napas lega lalu mendongak untuk melihat siapa yang telah menyelamatku kali ini.

Jantungku seperti terlepas lalu jatuh ke lantai. Setengah mati aku mencoba untuk tenang, kepalaku mulai pening, aku ingin lari tapi kakiku tak bisa bergerak sama sekali. Menghirup napas dalam-dalam berulang kali tapi aku tak merasa tenang sama sekali.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03