Gadis Bergaun Pesta
Langit tampak cerah, awan putih berkumpul sangat indah, burung-burung mulai berkicau merdu, dan hati Yasmine tak lagi sendu, dia bahkan bernyanyi dalam hati.
Tangannya memegang selembar uang kertas pemberian ibunya –Rose. Ibunya menyuruh Yasmine untuk membeli sebuah gaun pesta karena malam ini Madam Issabel, istri walikota akan berulang tahun ke 45. Usianya mungkin sudah tidak lagi muda namun kecantikannya tak pernah memudar sedikitpun. Suaminya sangat mencintai Madam Issabel maka setiap Madam berulang tahun. Walikota akan mengadakan pesta, seluruh warga diundang tanpa terkecuali. Mereka hanya perlu datang dengan perut dan tangan kosong.
“Yasmine, kapan kau akan pergi ke toko untuk membeli gaun?”
“Siang ini bu, kenapa?”
“Tolong sisakan uangmu itu untuk membeli, telur, sabun pencuci piring dan juga deterjen. Tapi ingat jangan membeli gaun yang murah!”
“Baiklah ibu. Yasmine pergi dulu…”
Yasmine menunggu kereta kuda yang akan mengantarnya ke toko dengan kepala menunduk.
Sesekali Ia melihat dompet lalu helaan napas pelan pun keluar. Yasmine mendongak ketika sebuah bayangan menutupinya.
“Yasmine kau ingin pergi kemana?
“Aku ingin membeli sebuah gaun kak…”
“Oh, kalau begitu. Tolong belikan aku satu tangkai mawar merah.”
Yasmine terdiam, dia tak kunjung mengiyakan. Lalu kelopak matanya mengecil, ia kembali menunduk, dan menggigit bibirnya kuat.
Samar-samar terdengar suara kuda mendekat, semakin lama semakin kuat. Tepat di depan Yasmine suara kereta kuda itu hilang.
“Mau ku antar nona?”
Perlahan Yasmine mengangkat kepalanya lalu menggeleng lemah. Kakinya kembali masuk ke dalam rumah.
Suara kereta kuda pun kembali terdengar. Beberapa menit kemudian Pintu terbuka dari dalam, wajah Yasmine mengintip malu-malu. Matanya bergerak kesana-kemari, kakinya mulai melangkah kecil.
*****
Tangan mungil Yasmine memilih telur, ia memasukkan tiga butir ke kerajang. Keningnya berkerut tapi kemudian sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya. Ia menyerahkannya pada seorang ibu dan menyerahkan satu lembar uang kertas.
“Hanya dua butir telur saja nona?”
“Iya…”
Yasmine kembali berjalan, masuk ke dalam toko sebentar lalu keluar lagi. Ia mengulanginya sampai lima kali. Matanya melihat keranjang, hanya bertambah setangkai mawar, sabun pencuci piring dan sebuah deterjen kecil.
Tenggorokannya terasa kering, tangannya mengusap keningnya beberapa kali. Seperti ditarik oleh magnet Yasmine berjalan mendekati gerobak es serut. Tapi saat gerobak es serut tersebut tepat di depan matanya, kaki Yasmine tak juga memelan. Ia malah berbelok ke kanan dan berhenti disebuah kran.
Tangannya memutar kran, lalu kedua tangannya menadah air yang keluar. Setelah tangannya penuh, Ia membasuh muka, tapi airnya entah kemana karna tak sedikitpun ada yang menetes.
Yasmine kembali memasukki toko –yang penuh dengan gaun, saat ia melihat sebuah lemari kaca pantulan dirinya terlihat, kali ini bibirnya basah. Senyumnya mengembang, lemari kaca itu berisi gaun berwarna merah muda dengan aksen renda dan manik-manik ditangan. Kainnya sangat halus tapi saat matanya tak sengaja bertemu dengan sebuah kertas gerakan tangannya berhenti.
*****
Langit mulai berubah warna menjadi merah, matahari mulai tenggelam. Namun Yasmine masih asyik memilih gaun diantara tumpukan gaun yang lainnya. Ia mengobrak-abrik sampai ke dasar kotak berukuran sedang.
Yasmine menghela napas, lalu tangannya dengan terampil melipat gaun-gaun itu. Tapi tidak dengan sebuah gaun berwarna biru gelap ia membawanya kepada seorang ibu tua.
“Pilihan yang bagus nona, gaun ini baru dipakai dua hari yang lalu. Masih wangi dan juga bersih.”
Yasmine menerima kantong berwarna putih dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya. Ia menyerahkan sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah mengucapkan terima kasih Yasmine berlari keluar toko.
“Heiii nonaaaaa, jangan lupa lusa kau harus kembali lagi kesini!”
*****
“Kenapa lama sekali Yasmine, ibu sangat lapar. Cepat goreng telur itu untuk ku!”
Lima belas menit Yasmine bergelut di dapur, ia meninggalkan meja makan dengan tiga irisan telur. Kemudian dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama hanya sekitar sepuluh menit Yasmine keluar dari dalam kamar mandi bersaman dengan kakaknya yang keluar dari dalam kamar.
“Yasmine tolong bersihkan sepatuku, aku masih akan berias.”
Yasmine masuk ke dalam kamar, kemudian memakai gaun berwarna biru tua, ia berputar-putar di depan kaca lalu kaget setelah melihat ke arah jam. Tangannya dengan tergesa-gesa memoles lipstick berwarna merah muda ke bibirnya.
“Yasmine dimana sepatuku ?”
“Di depan kamar mandi kak….”
“Yasmine dimana bunga mawar ku?”
“Di keranjang belanja….”
“Yasmine kenapa lama sekali! Kau menyusul saja, ibu takut terlambat. Ayo kak...”
Pantulan Yasmine di cermin sangat menyedikan. Matanya berkaca-kaca, senyumnya tiba-tiba lenyap. Ia terdiam untuk beberapa saat.
*****
Langit tampak cerah, awan putih berkumpul sangat indah, burung-burung mulai berkicau merdu, dan hati Yasmine tak lagi sendu, dia bahkan bernyanyi dalam hati.
Tangannya memegang selembar uang kertas pemberian ibunya –Rose. Ibunya menyuruh Yasmine untuk membeli sebuah gaun pesta karena malam ini Madam Issabel, istri walikota akan berulang tahun ke 45. Usianya mungkin sudah tidak lagi muda namun kecantikannya tak pernah memudar sedikitpun. Suaminya sangat mencintai Madam Issabel maka setiap Madam berulang tahun. Walikota akan mengadakan pesta, seluruh warga diundang tanpa terkecuali. Mereka hanya perlu datang dengan perut dan tangan kosong.
“Yasmine, kapan kau akan pergi ke toko untuk membeli gaun?”
“Siang ini bu, kenapa?”
“Tolong sisakan uangmu itu untuk membeli, telur, sabun pencuci piring dan juga deterjen. Tapi ingat jangan membeli gaun yang murah!”
“Baiklah ibu. Yasmine pergi dulu…”
Yasmine menunggu kereta kuda yang akan mengantarnya ke toko dengan kepala menunduk.
Sesekali Ia melihat dompet lalu helaan napas pelan pun keluar. Yasmine mendongak ketika sebuah bayangan menutupinya.
“Yasmine kau ingin pergi kemana?
“Aku ingin membeli sebuah gaun kak…”
“Oh, kalau begitu. Tolong belikan aku satu tangkai mawar merah.”
Yasmine terdiam, dia tak kunjung mengiyakan. Lalu kelopak matanya mengecil, ia kembali menunduk, dan menggigit bibirnya kuat.
Samar-samar terdengar suara kuda mendekat, semakin lama semakin kuat. Tepat di depan Yasmine suara kereta kuda itu hilang.
“Mau ku antar nona?”
Perlahan Yasmine mengangkat kepalanya lalu menggeleng lemah. Kakinya kembali masuk ke dalam rumah.
Suara kereta kuda pun kembali terdengar. Beberapa menit kemudian Pintu terbuka dari dalam, wajah Yasmine mengintip malu-malu. Matanya bergerak kesana-kemari, kakinya mulai melangkah kecil.
*****
Tangan mungil Yasmine memilih telur, ia memasukkan tiga butir ke kerajang. Keningnya berkerut tapi kemudian sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya. Ia menyerahkannya pada seorang ibu dan menyerahkan satu lembar uang kertas.
“Hanya dua butir telur saja nona?”
“Iya…”
Yasmine kembali berjalan, masuk ke dalam toko sebentar lalu keluar lagi. Ia mengulanginya sampai lima kali. Matanya melihat keranjang, hanya bertambah setangkai mawar, sabun pencuci piring dan sebuah deterjen kecil.
Tenggorokannya terasa kering, tangannya mengusap keningnya beberapa kali. Seperti ditarik oleh magnet Yasmine berjalan mendekati gerobak es serut. Tapi saat gerobak es serut tersebut tepat di depan matanya, kaki Yasmine tak juga memelan. Ia malah berbelok ke kanan dan berhenti disebuah kran.
Tangannya memutar kran, lalu kedua tangannya menadah air yang keluar. Setelah tangannya penuh, Ia membasuh muka, tapi airnya entah kemana karna tak sedikitpun ada yang menetes.
Yasmine kembali memasukki toko –yang penuh dengan gaun, saat ia melihat sebuah lemari kaca pantulan dirinya terlihat, kali ini bibirnya basah. Senyumnya mengembang, lemari kaca itu berisi gaun berwarna merah muda dengan aksen renda dan manik-manik ditangan. Kainnya sangat halus tapi saat matanya tak sengaja bertemu dengan sebuah kertas gerakan tangannya berhenti.
*****
Langit mulai berubah warna menjadi merah, matahari mulai tenggelam. Namun Yasmine masih asyik memilih gaun diantara tumpukan gaun yang lainnya. Ia mengobrak-abrik sampai ke dasar kotak berukuran sedang.
Yasmine menghela napas, lalu tangannya dengan terampil melipat gaun-gaun itu. Tapi tidak dengan sebuah gaun berwarna biru gelap ia membawanya kepada seorang ibu tua.
“Pilihan yang bagus nona, gaun ini baru dipakai dua hari yang lalu. Masih wangi dan juga bersih.”
Yasmine menerima kantong berwarna putih dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya. Ia menyerahkan sisa uang yang ada di dompetnya. Setelah mengucapkan terima kasih Yasmine berlari keluar toko.
“Heiii nonaaaaa, jangan lupa lusa kau harus kembali lagi kesini!”
*****
“Kenapa lama sekali Yasmine, ibu sangat lapar. Cepat goreng telur itu untuk ku!”
Lima belas menit Yasmine bergelut di dapur, ia meninggalkan meja makan dengan tiga irisan telur. Kemudian dengan tergesa-gesa ia masuk ke dalam kamar mandi. Tak butuh waktu lama hanya sekitar sepuluh menit Yasmine keluar dari dalam kamar mandi bersaman dengan kakaknya yang keluar dari dalam kamar.
“Yasmine tolong bersihkan sepatuku, aku masih akan berias.”
Yasmine masuk ke dalam kamar, kemudian memakai gaun berwarna biru tua, ia berputar-putar di depan kaca lalu kaget setelah melihat ke arah jam. Tangannya dengan tergesa-gesa memoles lipstick berwarna merah muda ke bibirnya.
“Yasmine dimana sepatuku ?”
“Di depan kamar mandi kak….”
“Yasmine dimana bunga mawar ku?”
“Di keranjang belanja….”
“Yasmine kenapa lama sekali! Kau menyusul saja, ibu takut terlambat. Ayo kak...”
Pantulan Yasmine di cermin sangat menyedikan. Matanya berkaca-kaca, senyumnya tiba-tiba lenyap. Ia terdiam untuk beberapa saat.
*****
Suasana pesta sangat ramai, sepertinya semua warga tak ingin melewatkan kesempatan ini. Bisik-bisik menyambut kedatangan Yasmine.
“Siapa dia? Kenapa gaunnya…”
“Ku rasa dia tak mampu membeli sebuah gaun…”
“Aku merasa bersalah, kenapa tadi aku tak meminjamkan gaun milikku.”
Yasmine berjalan ke arah Madam Issabel dengan menunduk, kakinya berjalan cepat. Madam Issabel berdiri bersebelahan dengan ibu beserta kakaknya.
“Selamat ulang tahun Madam….”
“Terima kasih nona, kau sungguh cantik malam ini.”
Yasmine mengulurkan tangannya ke arah Madam Issabel untuk bersalaman, tapi ia malah mengangkat setangkai bunga mawar.
Yasmine berdiri di depan panggung sendirian, ia menjadi tontonan orang-orang.
Pukul sepuluh malam pesta berakhir, Yasmine berjalan keluar sampai di depan pintu kepalanya berputar-putar, pandangannya mengabur, kakinya lemas. Ia teringat telur goreng yang ada di rumah. Kemudian Yasmine kehilangan kesadarannya.
-Tamat-
Simbol-simbol:
Gaun: kepintaran/kecerdasan.
Telur: memasak.
Sabun pencuci piring: mencuci piring.
Deterjen: mencuci baju.
Bunga mawar: hadiah.
Pingsan: gagal.

Komentar
Posting Komentar