SM - 01

Senja merasa terlalu dini untuk jatuh cinta. Tentu saja ia bilang begitu, Senja baru saja turun dari angkot. Dan lelaki itu melintas disampingnya dengan motor berwarna merah menyala, lengkap dengan helm yang menutupi kepalanya tapi tidak dengan wajah tampannya. Senja bahkan belum tahu siapa nama lelaki itu. Tapi anehnya, jantungnya berlomba saat melihat senyum manis itu.

Hatinya menggebu-gebu seolah menginginkan sesuatu. Sebuah perkenalan. Sayangnya sang waktu tak berpihak dengannya. Lelaki itu berlalu begitu saja. Tanpa menyebutkan nama, tanpa berjabat tangan, hanya wangi parfumnya yang tertinggal.

Lucunya bagi Senja, itu sudah cukup untuk pagi ini. Pagi pertama ia berseragam putih abu-abu.

Senja meraba jantungnya, masih berdetak kencang. Senyum simpul menghiasi wajah cantiknya.

Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu katanya dalam hati.

Senja berjanji pada diri sendiri, ia akan mencari tahu siapa lelaki itu.

Namun hari ini akan Senja kenang selama hidupnya. Dimana untuk pertama kalinya ia merasakan indahnya jatuh cinta.

*****

"Kelas kita sebelah mana ya Ran?"

"Gak tau, coba tanya dulu."

Senja melihat seseorang tengah berdiri di ujung lorong, tangannya terulur pelan menepuk bahu seseorang itu.

"Mas kelas X-1 sebelah mana ya?"

"Oh, diujung lorong sebelah utara. Kamu anak baru ya?" Seseorang itu tersenyum kecil.

"Iya..."

"Mau aku anterin?" Katanya santai.

Tapi tidak dengan Senja, setelah dia tahu dengan siapa ia bertanya. Hatinya ikut berlomba, denyut nadinya tak lagi mengalir sempurna dan napasnya tak lagi berirama.

"Boleh kak..." kata Rani mengembalikan Senja ke alam sadar.

"Ayo..."

Mereka bertiga berjalan menyusuri lorong. Lalu berbelok ke utara, sesekali Rani bertanya kepada lelaki itu.

"Yang ini ruang apa kak ?"

"Oh itu uks, sebelah sini kamar mandi cewek."

Mereka akhirnya sampai di depan kelas bertuliskan X-1.

"Makasih kak..." kata Rani ramah.

"Sama-sama." Balasnya diikuti sebuah senyuman.

Senja terpaku, membisu lebih tepatnya terbius pada sorot mata yang lembut dan wangi parfum yang menenangkan.

Setelah pamit lelaki yang bernama Adam itu kembali berjalan pelan, menyusuri lorong yang bertambah ramai. Tapi hanya lelaki itu saja yang terlihat di kedua mata Senja.

Lantas ia menyadari sesuatu. Rani sudah tak lagi disebelahnya. Ia memukul kepalanya pelan lalu masuk ke dalam.

Mencari Rani yang ternyata sudah duduk di bangku no 2 dari depan. Senja mendengus sebal.

"Kok aku ditinggalin sih Ran?"

"Siapa suruh bengong."

"Hahahahha" tawa Senja keluar begitu saja.

*****

Hari ini kelas dimulai dengan pelajaran matematika, gurunya perempuan.

Cantik, masih muda. Guru tersebut hanya memperkenalkan diri dan menjelaskan materi apa saja yang akan mereka pelajari pada semester ini. Sambil diselingi dengan cerita tentang sekolah yang saat ini Senja dan kawan-kawan tempati.

Guru-guru yang lain pun sama. Hanya berkenalan dan bercerita.

Waktu terasa begitu cepat, saat bel pulang berbunyi. Siswa-siswi akhirnya berhamburan keluar kelas.

****

Senja dan Rani keluar dari perpustakaan ketika jam dinding menunjukan angka 4 dan perpustakaan harus tutup.

"Aku pulang dulu ya Se, kamu hati-hati nunggu angkotnya. Bye!"

"Iya, kamu juga ya. Bye!"

Dengan kepala menunduk Senja berjalan keluar sekolah menuju tempat ngetem angkot.

Senja harus menyebrang jalan untuk menunggu angkotnya. Tapi karna hari ini sudah sore, satpam sekolah tak lagi bertugas menyebrangkan jalan.

Satu hal yang Senja benci adalah menyebrang. Apalagi jalannya penuh dengan mobil-mobil dan motor dengan kecepatan tinggi.

Lima menit sudah, ia hanya berdiri dipinggir jalan. Tak ada celah sedikitpun untuk menyebrang.

Tangan kanannya terangkat untuk menghalau sinar matahari. Sampai akhirnya ia berlari kecil menyebrangi jalanan.

Beruntunglah, saat di depannya sudah ada angkot yang menunggu Senja.

Senja memilih untuk duduk di bangku yang paling belakang. Baginya itu adalah tempat ternyaman.

*****

Angkot melaju perlahan, meninggalkan gerbang sekolah yang belum tertutup sempurna.

Senja melihat keluar jendela. Dimana matahari tenggelam perlahan, langit berubah menjadi merah merona.

Kemudian ia merasa ada yang memerhatikannya. Benar saja, tepat di belakang angkot yang ia tumpangi. Adam tengah melihat Senja dengan pandangan mata yang teduh.

Senja tersenyum, ia merasa kali ini warna langit yang merah merona dan senyum Adam adalah sesuatu yang istimewa.

Motor Adam berbelok ke arah jalan Suropati. Senja mendengus pelan. Ia merasa belum puas untuk memandangi Adam.

Rasanya ia ingin bilang "Bang stop, saya turun disini." Lalu ia berteriak "Adammmm tungguuuu!"

Senja mulai berhalusinasi. Ia tertawa sendiri dalam hati.

"Jadi gini ya rasanya jatuh cinta, persis kaya orang gila. Hahaha"

Untung saja ia masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal konyol tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SM - 02

SM - 04

SM - 03