Postingan

Gambar
                        Gadis Bergaun Pesta                                    Langit tampak cerah, awan putih berkumpul sangat indah, burung-burung mulai berkicau merdu, dan hati Yasmine tak lagi sendu, dia bahkan bernyanyi dalam hati. Tangannya memegang selembar uang kertas pemberian ibunya –Rose. Ibunya menyuruh Yasmine untuk membeli sebuah gaun pesta karena malam ini Madam Issabel, istri walikota akan berulang tahun ke 45. Usianya mungkin sudah tidak lagi muda namun kecantikannya tak pernah memudar sedikitpun. Suaminya sangat mencintai Madam Issabel maka setiap Madam berulang tahun. Walikota akan mengadakan pesta, seluruh warga diundang tanpa terkecuali. Mereka hanya perlu datang dengan perut dan tangan kosong. “Yasmine, kapan kau akan pergi ke toko untuk membeli gaun?” “Siang ini bu, kenapa?” “Tolong sisakan uangmu itu u...

Pandu dan Rindu [Pandu dan Rindu]

Gambar
Aku berhenti di sebuah warung tenda. Sebenarnya aku butuh coklat tapi entah kenapa aku malah memesan susu jahe. Warung tenda ini tak tertutup sempurna, dari sini aku bisa melihat orang-orang yang berlalu-lalang. Pikiranku melayang, aku mencerna sejauh kedekatanku dengan Pandu. Sepertinya dia benar-benar menganggapku sebagai teman. Aku tersenyum getir mengingat itu. Aroma jahe benar-benar membuatku semakin meneteskan air mata. Entah kenapa aku rindu kehadiran Pandu. "Gak usah diminum!" Aku sangat hafal dengan suara ini. "Biarin...lagi pengen ini !" Aku membantah perkataannya. "Siniin..." tanganya dengan lancang mengambil gelas berisi susu jahe milikku. Aku memberikan tatapan tajam ke arah nya. Saat mataku bertemu dengan mata hitam pekatnya, aku sadar bahwa pesonanya membuatku kembali jatuh ke dalam dunianya. Menyebalkan ! "Nihhh..." dia memberiku es coklat. Aku tersenyum "dasar !" Terdengar suara tawa Pandu, seketika ha...

Pandu dan Rindu [ke rumah Pandu]

Pulang sekolah aku dan Wulan mampir ke rumah Bella, ada dua mobil di bagasi. Berarti orang tua Bella sudah pulang. Aku menghela napas lega. Mataku menajam menatap sebuah motor yang sangat aku kenali. ******************* Bella dan juga kedua orang tuanya tengah asyik mengobrol di ruang tamu. Eitsss tunggu itu kan ? Hah ! Rangga ?! Gercep juga ternyata. Wulan menyenggol lenganku. Aku hanya tertawa sebagai balasan. "Tante...om..." panggilku pelan sambil bersalaman. Diikuti Wulan di belakangku kemudian. "Tante sama om ke dalam dulu ya. Mau istirahat." Kata ibu Bella pamit. Aku, Wulan dan Rangga hanya mengangguk. Bella memelukku dan Wulan bersamaan. Dia tertawa lepas sore ini. "Makasih ya..." matanya berkaca-kaca. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengucapkan syukur di dalam hati. "Eh kamu ngapain disini ?" Tanya Wulan. "Heheheheh..." Rangga hanya tertawa. Aku memandangnya penuh curiga. Tapi Rangga hanya tert...

Pandu dan Rindu [titik terang]

Mbak Nem menangis tersedu-sedu saat kami sampai di rumah Bella. Wulan berlari memeluk mbak Nem. Sedangkan aku masih mematung di depan pintu. "Kamu sekuat macan." Bisik Pandu di telingaku. Aku melihat ke dua bola mata hitam pekat miliknya. Lalu beralih ke bibirnya yang melengkung membentuk sebuah senyuman. Aku ingin memeluknya menumpahkan segala rasa gundah ini tapi jarak antara aku dan Pandu membuatku terdiam kaku. Tangan Pandu mengusap kepalaku lembut. Tatapannya sendu. Pandu menarikku ke dalam bersamaan tanganku yang mengusap butiran bening yang jatuh di pipi. "Kita udah cari ke tempat-tempat yang biasa Bella datangi tapi hasilnya nihil." Kata Wulan lirih. "Mbak Nem udah cari di rumah ?" Tanya Rangga penuh selidik. Mbak Nem hanya mengangguk. Butiran bening itu terus keluar dari matanya. Aku menggigit bibir ku kuat-kuat. Merasa putus asa. Aku baru tersadar jika dari tadi aku tak melihat ke dua orang tua Bella. "Om sama tante udah di...

Pandu dan Rindu [Bella menghilang]

Gambar
Hari ini Bella tak berangkat sekolah. Padahal kemarin dia terlihat baik-baik saja, mungkin hatinya yang terluka. Sepertinya masalah Bella juga belum  selesai. Wulan tengah asyik mengerjakan tugas, rasanya bibirku ingin bertanya tapi rasa kesal membuatku enggan. Aku menghembuskan napas kasar. "Bella sakit apa sih Sa ? Kok gak berangkat lagi ?" Tanya Wulan. Aku setengah tak percaya Wulan menanyakan itu padaku. Berarti kemarin dia gak jadi ke tempat Bella. "Sakit hati !" Kataku sarkas. "Masa ? Dia kan jomblo ?" Tanya lagi. "Lah ? Emang yang bisa bikin sakit hati cuma pacar ? Teman juga bisa kali !" Ok aku mulai tersulut emosi kali ini. "Kamu kenapa sih Sa ?" "Kamu tuh yang kenapa ? Katanya mau nyusul malah berduaan. Sama siapa ? Pacar baru ?" Kataku sewot. "Pantesan sewot, kamu liat ya ? Bagus deh." Aku bingung dengan perkataannya. Wulan tersenyum sinis "jadi kamu tahu kan. Kalo Pandu juga per...

Pandu dan Rindu [teman macam apa ?]

Tak ada satu nama pun di kepalaku, aku juga tak mau menduga-duga. "Siapa ?" Aku menyerah, rasa penasaran membuatku memberanikan diri bertanya. "Pandu..." bang Adam menatapku jeli. Ribuan pertanyaan menyerang bersamaan kupu-kupu yang menggelitik perutku. "Ohhh..." hanya itu yang mampu keluar dari bibirku. "Cuma oh doang ? Kasian tahu dia udah nunggu kamu satu jam dek." Bang Adam mulai nyolot. Bolehkah aku besar kepala ? Tapi kejadian di toilet tadi membuatku mendesah kecewa. "Terus ?" "Ya dia tanya kamu perginya sama siapa ? Abang jawab sama temen mu tadi. Dia pamit, wajahnya murung gitu dek." "Ohhh gitu." Aku mencoba untuk tetap cuek. "Abang jadi bingung sama kamu dek. Pacar kamu itu yang mana sih ?" Aku berlalu menuju kamarku dengan sedikit teriak "dua-duanya bang. Gak kaya abang satu aja gak punya. Hahahahaha" "Awas kau ya dek !!!!" Maki bang Adam. Tawaku ter...

Pandu dan Rindu [penghianat]

Membasuh wajahku dengan air adalah tindakan yang tepat saat ini. Aku meringis melihat diriku sendiri. Cengeng kali kamu sa ! Aku memukul dadaku berulang kali mencoba menghancurkan batu besar yang membuat sesak. Kepalaku tertunduk, mataku terpejam. Hatiku kembali bergejolak saat mendengar dua orang masuk sambil mengobrol seru "kayanya si Tata bakalan balikan deh sama Pandu." Kata si rambut sebahu. "Iya, kamu liat aja tadi dia berangkat bareng sama Pandu." Jawab temannya. Tanganku mengepal kuat. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya aku menguatkan diri keluar dari toilet. ************* Kakiku membawaku ke stand penjual coklat di depan gerbang. Aku tersenyum lalu memesan satu coklat hangat. Aroma coklat membuai membuat ku terpejam menikmati. Aku melihat miris ke arah gelas cup yang tersaji di depanku. Taburan kejunya membuatku bergidik. Ngeri kali ! Aku meminumnya perlahan, rasa keju memenuhi mulutku, rasa mual mulai menyapaku, tapi aku terus meminumnya. Aku b...